Bismillah

Foto saya
"wahai orang-orang beriman! bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akherat), dan bertaqwalah kepada Allah. sungguh, Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.."

:::::::

Photobucket

12 Jul 2010

« Wasiat Berbuat Baik Kepada Orang Tua Tatkala Keduanya Berusia Lanjut

Di dalam surat Al-Ahqaf ayat 15 Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman :

“Artinya : Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a, “Ya Rabb-ku, tunjukkilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridlai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.





Ukuran terendah mengandung sampai melahirkan adalah 6 bulan (pada umumnya adalah 9 bulan 10 hari) di tambah 2 tahun menyusui anak jadi 30 bulan, sehingga tidak bertentangan dengan surat Lukman ayat 14. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir]
Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar dari pada kepada bapak.
Dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.

“Artinya : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali ?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi ?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu!’ Ia bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu!’, Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi, ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Bapakmu’ “[Hadits Riwayat Bukhari (Al-Fath 10/401) No. 5971, Muslim 2548]

Imam Adz-Dzhabai dalam kitabnya Al-Kabair berkata:
“Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan seolah-olah sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Dan dia telah menyusuimu dari teteknya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu. Dan dia cuci kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikannmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suara yang paling keras.

Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik. Dia selalu mendo’akanmu dengan taufiq, baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat di sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga disisimu. Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar. Engkau puas dalam keadaan dia haus. Dan engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu. Dan engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia buat. Dan rasanya berat atasmu memeliharanya padahal adalah urusan yang mudah. Dan engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek. Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.

Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut. Dan engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu. Dan Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ‘Aalamin. Dan Allah berfirman di dalam surat Al-Hajj ayat 10 :
“Artinya : (Akan dikatakan kepadanya), ‘Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tanganmu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali tidak pernah berbuat zhalim kepada hamba-hambaNya”.

Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi tentang besarnya jasa seorang ibu terhadap anak dan menjelaskan bahwa jasa orang tua kepada anak tidak bisa dihitung. Ketika Ibnu Umar menemui seseorang yang menggendong ibunya beliau mengatakan, “Itu belum bisa membalas”. Kemudian juga beberapa riwayat[1] disebutkan bahwa seandainya kita ingin membalas jasa orang tua kita dengan harta atau dengan yang lain, masih juga belum bisa membalas. Bahkan dikatakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Kamu dan hartamu milik bapakmu” [Hadits Riwayat Ibnu Majah dari Jabir, Thabrani dari Samurah dan Ibnu Mas'ud, Lihat Irwa'ul Ghalil 838]

[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, terbitan Darul Qolam - Jakarta]
_________
Foote Note.
[1] Shahih Ibnu Majah No. 1855
Sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/457/slash/0

10 Jul 2010

Siapakah Ahlul Kitab itu??

 
Pembahasan mengenai Ahlul-Kitab sangatlah penting karena terdapat beberapa hukum Islam yang terkait dengan mereka. Allah ta’ala telah memberikan satu kekhususan bagi mereka yang tidak didapatkan oleh kaum yang lain, seperti : kebolehan menikahi wanita mereka, kebolehan memakan sembelihan mereka, dan yang lainnya. Oleh karena itu, di sini akan saya tuliskan beberapa point penting yang terkait dengan mereka.


Ahlul-Kitab Termasuk Orang-Orang Kafir
Meskipun Islam memberikan beberapa kekhususan bagi mereka, namun hal itu tidak menjadikan mereka masuk dalam lingkaran iman dan Islam. Bara’ah kita kepada mereka tetap berlaku sebagaimana bara’ah itu juga berlaku kepada orang-orang kafir secara umum. Itu harus menjadi keyakinan segenap orang yang mengaku Rabb-nya adalah Allah dan Nabinya adalah Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Allah ta’ala berfirman :
لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ

“Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata” [QS. Al-Bayyinah : 1].
مَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلا الْمُشْرِكِينَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَاللَّهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
“Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar” [QS. Al-Baqarah : 105].

Yahudi dan Nashrani Termasuk Ahlul-Kitaab
Tidak ada perbedaan pendapat bahwa Yahudi dan Nashrani termasuk Ahlul-Kitaab.
Allah ta’ala berfirman :
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui” [QS. Al-Baqarah : 146].
Mengomentari ayat di atas, Ibnu Jariir Ath-Thabariy rahimahullah berkata :
يقول جل ثناؤه: وإنّ طائفةً من الذين أوتوا الكتاب -وهُمُ اليهود والنصارى. وكان مجاهد يقول: هم أهل الكتاب.
“Allah yang Maha Agung dan Terpuji berfirman : ‘Dan sesungguhnya golongan yang telah diberikan Al-Kitaab’ – mereka adalah Yahudi dan Nashrani. Mujaahid berkata : ‘Mereka (Yahudi dan Nashrani) adalah Ahlul-Kitaab” [Tafsir Ath-Thabariy, 3/188, tahqiq : Ahmad Syaakir; Muassasah Ar-Risaalah, Cet. 1/1420].
Ibnu Qudaamah rahimahullah berkata :
وأهل الكتاب الذين هذا حكمهم، هم أهل التوراة والإنجيل. قال الله تعالى : (أَنْ تَقُولُوا إِنَّمَا أُنْزِلَ الْكِتَابُ عَلَى طَائِفَتَيْنِ مِنْ قَبْلِنَا). فأهل التوراة اليهود والسامرة، وأهل الإنجيل النصارى، ومن وافقهم في أصل دينهم من الإِفْرِنْج والأَرْمَن وغيرهم
“Dan yang dimaksud dengan Ahlul-Kitab adalah ahlut-taurah dan ahlul-injiil. Allah ta’ala berfirman : ‘(Kami turunkan Al Qur'an itu) agar kamu (tidak) mengatakan: Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami’ (QS. Al-An’aam : 156). Maka, ahlut-taurah adalah Yahudi dan Saamirah, sedangkan ahlul-injiil adalah Nashaara dan yang berkesesuaian dengan pokok agama mereka, seperti kelompok Ifrij, Arman, dan yang lainnya” [Al-Mugniy, 9/546, tahqiq : Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul-Muhsin At-Turkiy & Dr. ‘Abdul-Fattaah bin Muhammad Al-Huluw; Daar ‘Aalamil-Kutub, 3/1417].

Apakah Majusi Termasuk Ahlul-Kitaab ?
Para ulama berbeda pendapat mengenai mereka. Jumhur ulama mengatakan mereka bukan termasuk Ahlul-Kitaab. Ibnu Qudaamah rahimahullah kembali berkata :

وليس للمجوس كتاب، ولا تحل ذبائحهم، ولا نكاح نسائهم. نص عليه أحمد. وهو قول عامة العلماء، إلا أبا ثور، فإنه أباح ذلك؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم : ((سُنُّوا بِهِمْ سُنَّةَ أَهْلِ الْكِتَابِ)). ولأنه يُرْوى أن حذيفة تزوج مجوسية. ولأنهم يقرون بالجزية. فأشبهوا اليهود والنصارى. ولنا، قول الله تعالى : (وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ). وقوله : (وَلَا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ). فرخص من ذلك في أهل الكتاب...
“Orang-orang Majusi tidaklah mempunyai Kitaab (sehingga bisa disebut Ahlul-Kitaab). Tidak halal sembelihan dan wanita mereka. Hal itu telah dikatakan oleh Ahmad, dan itulah pendapat jumhur ulama – kecuali Abu Tsaur. Ia (Abu Tsaur) telah membolehkan hal itu berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Perlakukanlah mereka sebagaimana perlakuan (aturan) yang diterapkan pada Ahlul-Kitaab’. Juga karena telah diriwayatkan bahwasannya Hudzaifah pernah menikahi wanita Majusi. Juga karena telah ditetapkan pungutan jizyah pada mereka dimana hal ini menyerupai Yahudi dan Nashrani. Adapun kami, (berdalil dengan) firman Allah ta’ala : ‘Janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik’ dan juga firman-Nya : ‘Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir’. Maka Allah memberikan keringanan atas hal itu pada wanita Ahlul-Kitaab ….” [Al-Mughniy, 9/547].
Yang raajih dalam hal ini adalah pendapat jumhur ulama.
Hadits yang dimaksudkan oleh Abu Tsaur adalah sebagai berikut :

أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ ذَكَرَ الْمَجُوسَ فَقَالَ مَا أَدْرِي كَيْفَ أَصْنَعُ فِي أَمْرِهِمْ فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ أَشْهَدُ لَسَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ 

صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ سُنُّوا بِهِمْ سُنَّةَ أَهْلِ الْكِتَابِ
Bahwasannya ‘Umar bin Al-Khaththaab menyebut-nyebut tentang orang Majusi. Ia berkata : "Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan terhadap mereka". Lantas ‘Abdurrahmaan bin ‘Auf berkata : "Aku bersaksi bahwa aku mendengar Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : ‘Perlakukanlah mereka sebagaimana perlakuan (aturan) yang diterapkan pada Ahlul-Kitaab".
Hadits ini hasan li-ghairihi.[1] Akan tetapi, yang dimaksudkan di sini adalah khusus perlakuan dalam pemungutan jizyah – bukan selainnya.

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَنْبَأَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ عَنْ بَجَالَةَ التَّمِيمِيِّ قَالَ لَمْ يُرِدْ عُمَرُ أَنْ يَأْخُذَ الْجِزْيَةَ مِنْ الْمَجُوسِ حَتَّى شَهِدَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَهَا مِنْ مَجُوسِ هَجَرَ
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq : Telah memberitakan kepada kami Ibnu Juraij : Telah mengkhabarkan kepadaku ‘Amru bin Diinaar, dari Bajaalah At-Tamiimiy, ia berkata : “’Umar tidak ingin memungut jizyah dari orang-orang Majusi, hingga ‘Abdurrahman bin 'Auf bersaksi bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam telah memungut jizyah dari orang-orang Majusi Hajar” [Diriwayatkan oleh Ahmad 1/194; shahih].[2]

Terdapat riwayat mursal shahih bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memungut jizyah dari orang Majusi Hajar, namun melarang untuk menikahi wanita mereka dan memakan sembelihan mereka.[3] Al-Baihaqiy rahimahullah berkata :
هذا مرسل وإجماع أكثر المسلمين عليه يؤكده ولا يصح ما روى عن حذيفة في نكاح مجوسية.
“Hadits ini mursal, dan ijma’ kebanyakan kaum muslimin terhadapnya (haramnya memakan sembelihan dan menikahi wanita-wanita Majusi) menguatkannya. Tidak shahih riwayat pernikahan Hudzaifah dengan wanita Majusi” [As-Sunan Al-Kubraa, 9/192].
Ini menunjukkan orang-orang Majusi bukan termasuk golongan Ahlul-Kitaab.
Perhatikan pula riwayat berikut :

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ سِنَانٍ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ عِمْرَانَ الْقَطَّانِ عَنْ أَبِي جَمْرَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ إِنَّ أَهْلَ فَارِسَ لَمَّا مَاتَ نَبِيُّهُمْ كَتَبَ لَهُمْ إِبْلِيسُ الْمَجُوسِيَّةَ
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Sinaan Al-Waasithiy : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bilaal, dari ‘Imraan Al-Qaththaan, dari Abu Jamrah, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata : “Sesungguhnya penduduk Persia ketika nabi mereka wafat, maka Iblis menuliskan untuk mereka agama Majusi” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 3042; dihasankan oleh Al-Albaaniy].[4]
Atsar Ibnu ‘Abbaas di atas menunjukkan bahwa agama Majusiy bukan agama samawiy yang turun melalui perantara seorang Nabi dan Rasul.
Mengenai pernikahan Hudzaifah dengan wanita Majusiy, Ibnu Qudaamah berkata :

ولم يثبت أن حذيفة تزوج مجوسية، وضعف أحمد رواية من روى عن حذيفة أنه تزوج مجوسية. وقال : أبو وائل يقول : تزوج يهودية. وهو أوثق ممن روى عنه أنه تزوج مجوسية. وقال ابن سيرين : كانت امرأة حذيفة نصرانية. ومع تعارض الروايات لا يثبت حكم إحداهن إلا بترجيح، على أنه لو يثبت ذلك عن حذيفة، فلا يجوز الاحتجاج به مع مخالفته الكتاب وقول سائر العلماء.
“Tidak shahih riwayat Hudzaifah menikahi wanita Majusi. Ahmad telah mendla’ifkan riwayat dari Hudzaifah bahwasannya ia menikahi wanita Majusi. Ia (Ahmad) berkata : Abu Waail berkata : ‘(Hudzaifah) menikahi wanita Yahudi’. Riwayat ini lebih shahih dari orang yang meriwayatkan darinya menikahi wanita Majusi’. Ibnu Siiriin berkata : ‘Istri Hudzaifah adalah seorang wanita Nashrani’. Dengan adanya pertentangan beberapa riwayat hal ini, maka tidak sah hukum salah satu di antaranya kecuali dengan jalan tarjih. Seandainya saja pernikahan dengan wanita Majusi itu shahih dari Hudzaifah, tetap tidak boleh berhujjah dengan karena menyelisihi Al-Qur’an dan perkataan seluruh ulama” [Al-Mughniy, 9/548].

Telah lewat perkataan Al-Baihaqiy atas kelemahan riwayat pernikahan Hudzaifah dengan wanita Majusi. Adapun riwayat pernikahannya dengan wanita Yahudi, maka ini shahih.

حدثنا عبد الله بن إدريس عن الصلت بن بهرام عن شقيق قال : تزوج حذيفة يهودية فكتب إليه عمر أن خل سبيلها ، فكتب إليه : إن كانت حراما خليت سبيلها ، فكتب إليه : إني لا أزعم أنها حرام ولكني أخاف أن يعاطوا المومسات منهن .
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Idriis, dari Ash-Shalt bin Bahraam, dari Syaqiiq, ia berkata : Hudzaifah pernah menikahi wanita Yahudi. (Mengetahui hal tersebut), ‘Umar menuliskan surat kepadanya agar ia menceraikannya. Hudzaifah membalas suratnya dengan berkata : ‘Apabila hal itu diharamkan, aku pasti akan menceraikannya’. ‘Umar kembali membalasnya : ‘Sesungguhnya aku tidak mengatakan hal itu diharamkan. Akan tetapi aku khawatir engkau akan wanita pelacur di antara mereka’ [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 9/85 no. 16417; sanadnya shahih].[5]


Apakah Shaabi’uun Termasuk Ahlul-Kitaab ?
 Para ulama pun berbeda pendapat mengenai mereka. Ibnu Qudaamah rahimahullaah berkata :

وأما الصابئون، فاختلف فيهم السلف كثيرا، فَرُوِيَ عن أحمد أنهم جنس من النصارى، ونص عليه الشافعي، وعلق القول فيهم موضع آخر. وعن أحمد أنه قال : بلغني أنهم يسبتون، فهؤلاء إذا يشبهون اليهود. الصحيح فيهم أنهم إن كانوا يوافقون النصارى أو اليهود في أصل دينهم، ويخالفون في فروعه، فهم ممن وافقوه، وإن خالفوهم في أصل الدين، فليس هم منهم. والله أعلم.
“Adapun golongan Shaabi’uun, salaf banyak berselisih pendapat tentangnya. Diriwayatkan dari Ahmad bahwasannya mereka termasuk golongan Nashara. Hal itu tegaskan oleh Asy-Syaafi’iy, dan ia memberikan komentar tentang mereka di tempat yang lain. Dari Ahmad bahwasannya ia berkata : ‘Telah sampai kepadaku mereka merayakan hari Sabtu. Jika demikian, maka mereka serupa dengan orang-orang Yahudi’. Yang benar, jika mereka berkesesuaian dengan Nashrani atau Yahudi dalam pokok (ushul) agama mereka namun menyelisihi dalam cabang (furu’), maka mereka termasuk golongan yang berkesesuaian dengannya (Yahudi atau Nashrani). Akan tetapi jika mereka menyelisihi Yahudi dan Nashrani dalam pokok agama mereka, maka bukan termasuk mereka, wallaahu a’lam” [Al-Mughniy, 9/547].

As-Suddiy menguatkan mereka termasuk Ahlul-Kitaab [Tafsir Ath-Thabariy, 2/147]. Namun Mujaahid, Al-Hasan, Abu Najiih, dan Ibnu Zaid berpendapat mereka bukan termasuk Yahudi, Nashrani, ataupun Ahlul-Kitaab. [idem, 2/146]. Pendapat terakhir inilah yang lebih kuat, sebab tidak ada nash yang shahih dan sharih menyatakan mereka termasuk golongan yang diberikan Al-Kitab. Wallaahu a’lam.
Al-Albaaniy berkata :
لا نعلم أهل الكتاب إلا اليهود والنصارى
“Kami tidak mengetahui tentang Ahlul-Kitaab kecuali Yahudi dan Nashrani” [Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah oleh Husain bin ‘Audah, 5/108; Al-Maktabah Al-Islaamiyyah, Cet. 1/1425].
Pendapat ini sangat kuat karena sejalan dengan firman Allah ta’ala :

وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ * أَنْ تَقُولُوا إِنَّمَا أُنْزِلَ الْكِتَابُ عَلَى طَائِفَتَيْنِ مِنْ قَبْلِنَا وَإِنْ كُنَّا عَنْ دِرَاسَتِهِمْ لَغَافِلِينَ
“Dan Al-Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat, (Kami turunkan Al Qur'an itu) agar kamu (tidak) mengatakan : ‘Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca" [QS. Al-An’aam : 155-156].


Hindu, Budha, Konghucu, dan yang Lainnya Termasuk Ahlul-Kitaab ?
Agama-agama tersebut merupakan agama buatan manusia yang Allah ta’ala tidak pernah memberikan keterangan tentangnya. Allah ta’ala tidak pernah memberikan Kitab kepada mereka. Bahkan, mereka menyembah berhala dengan terang-terangan. Seandainya mereka termasuk Ahlul-Kitaab, niscaya Allah dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah menurunkan keterangan tentangnya.
Pendapat yang menyatakan mereka termasuk Ahlul-Kitaab adalah pendapat yang baathil.
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.
[abu al-jauzaa’ al-bogoriy – rajab 1431 – perumahan ciomas permai].


[1]      Diriwayatkan oleh Maalik 2/669-670 no. 669, Asy-Syaafi’iy dalam Al-Musnad no. 1773, Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah 11/169 no. 2751, ‘Abdurazzaaq no. 10025, Abu Ya’laa no. 862, Al-Baihaqiy 9/189-190, dan Ibnu ‘Asaakir dalam At-Taariikh 54/269; dari jalan Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari ‘Umar bin Al-Khaththaab. Sanad hadits ini munqathi’ karena Muhammad bin ‘Aliy tidak pernah bertemu ‘Umar dan juga ‘Abdurrahman bin ‘Auf [lihat : At-Tamhiid, 2/114].
Diriwayatkan juga oleh Al-Bazzaar dalam Al-Musnad 3/264-265 no. 1056 dari jalan ‘Amru bin ‘Aliy, ia berkata : Telah memberitakan kepada kami Abu ‘Aliy Al-Hanafiy, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Maalik bin Anas, dari Ja’far bin Muhammad bin ‘Aliy, dari ayahnya, dari kakeknya, dari ‘Umar. Abu ‘Aliy Al-Hanafiy ini adalah : ‘Ubaidullah bin ‘Abdil-Majiid Al-Hanafiy, seorang yang tsiqah. Sanad hadits ini ma’lul. Ad-Daaruquthniy berkata : “Diriwayatkan oleh Maalik; dari riwayat Abu ‘Aliy ‘Ubaidullah bin ‘Abdil-Majiid Al-Hanafiy darinya (Maalik bin Anas), dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari kakeknya ‘Aliy bin Al-Husain. Ia telah diselisihi jama’ah ashhaabu Maalik dimana mereka tidak menyebutkan (dalam rantai sanadnya) : ‘dari kakeknya’. Begitu juga yang diriwayatkan oleh Ats-Tsauriy, Sulaimaan bin Bilaal, ‘Abdullah bin Idriis, Hafsh bin Ghiyaats, Anas bin ‘Iyaadl, dan Abu ‘Aashim An-Nabiil; dari Ja’far bin Muhammad - Abu ‘Aashim tidak mendengar dari Ja’far bin Muhammad selain hadits tersebut. Diriwayatkan juga oleh ‘Abdul-Wahhaab Ats-Tsaqafiy, Al-Qaasim bin Ma’n, Ibnu Juraij, ‘Aliy Ghiraab, dan yang lainnya; dari Ja’far, dari ayahnya secara mursal dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Auf tanpa menyebutkan dalam sanadnya ‘Aliy bin Al-Husain. Inilah yang benar” [Al-‘Ilal, 4/299, tahqiq : Dr. Mahfudhur-Rahmaan As-Salafiy; Daaruth-Thayyibah, Cet. 1/1406]. Selain itu, ‘Aliy bin Al-Husain juga tidak pernah mendengar dari ‘Umar dan ‘Abdurahman bin ‘Auf radliyallaahu ‘anhumaa sebagaimana dikatakan Ibnu ‘Abdil-Barr dan Ibnu Hajar.
Hadits ini mempunyai syaahid. Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath (3/375 no. 3442), ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Sahl : Telah mengkhabarkan kepada kami Ibraahiim Al-Hajjaaj : Telah menceritakan kepada kami Abu Rajaa’, dari Al-A’masy, dari Zaid bin Wahb : Bahwasannya ‘Umar pernah bertanya tentang status orang-orang Majusi. Lalu ‘Abdurrahmaan bin ‘Auf berkata : Aku bersaksi bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : 

المجوس طائفة من أهل الكتاب، فاحملواهم على ما تحملون عليه أهل الكتاب
“Majusi adalah golongan dari Ahlul-Kitaab. Maka perlakukanlah/bebanilah mereka apa yang kalian perlakukan dengannya pada Ahlul-Kitaab (yaitu dalam penarikan jizyah – Abul-Jauzaa’)”.

Al-Hasan bin Sahl mempunyai mutaba’ah dari Ibnu Abi ‘Aashim dan Al-Hasan bin ‘Abdil-‘Aziiz Al-Mujawwin : Telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin Al-Hajjaaj; selanjutnya seperti sanad di atas [lihat : Lisaanul-Miizaan, 3/487 dan Ma’rifatush-Shahaabah oleh Abu Nu’aim hal. 128 no. 497].
Sanad hadits ini dla’iif

Abu Rajaa’ adalah Rauh bin Al-Musayyib At-Tamiimiy. Ibnu Ma’iin berkata : “Shuwailih”. Abu Haatim berkata : “Shaalih, tidak kuat” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 3/496 no. 2247]. Al-‘Ijliy berkata : “Orang Bashrah yang tsiqah”. Abu Daawud berkata : “Tidak mengapa dengannya” [Al-Jaami’ fil-Jarh wat-Ta’diil, 1/251 no. 1282]. Ibnu Syaahiin memasukkannya dalam Ats-Tsiqaat (hal. 129 no. 350). Ibnu Hibbaan berkata : “Meriwayatkan dari orang-orang tsiqah hadits palsu, membolak-balikkan sanad, memarfu’kan sanad mauquf,… tidak halal riwayat yang berasal darinya” [Al-Majruuhiin, 1/370 no. 342]. Ibnu ‘Adiy berkata : “Meriwayatkan dari Tsaabit dan Yaziid Ar-Raqqaasiy hadits-hadits yang tidak mahfuudh” [Al-Kaamil, 4/58 no. 664]. Al-Bazzaar berkata : “Tsiqah” [Lisaanul-Miizaan, 3/486-487 no. 3175]. Ibnul-Jauziy memasukkannya dalam jajaran perawi dla’iif [Adl-Dlu’afaa’ wal-Matruukuun, 1/289 no. 1251]. Begitu juga dengan Adz-Dzahabiy [Al-Mughniy 1/358 no. 2149 dan Ad-Diiwaan hal. 140 no. 1436]. Kesimpulannya : Ia seorang yang tidak kuat haditsnya, terutama jika bersendirian dalam periwayatan. Wallaahu a’lam.
Selain itu, Al-A’masy telah membawakan dengan ‘an’anah sedangkan ia seorang mudallis.
Catatan : Lafadh : ‘Majusi adalah golongan dari Ahlul-Kitaab’ bukan termasuk lafadh yang dikuatkan oleh hadits sebelumnya, sehingga hukumnya tetap dla’iif.

[2]      Riwayat Bajaalah At-Tamiimiy dari ‘Umar bin Al-Khaththaab melalui perantaraan surat ‘Umar yang datang kepadanya saat ia (Bajaalah) menjabat sekretaris Jaza’ bin Mu’aawiyyah.
[3]      Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, ia berkata :

حدثنا وكيع عن سفيان عن قيس بن مسلم عن الحسن بن محمد أن النبي صلى الله عليه وسلم كتب إلى مجوس أهل هجر يعرض عليهم الاسلام فمن أسلم قبل منه ومن لم يسلم ضرب عليه الجزية غير ناكحي نسائهم ولا آكلي ذبائحهم
Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Sufyaan, dari Qais bin Muslim, dari Al-Hasan bin Muhammad : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah menulis kepada orang-orang Majusi Hajar menawarkan pada mereka Islam. Barangsiapa yang masuk Islam, maka diterima. Dan barangsiapa yang tidak mau, maka dikenakan kewajiban membayar jizyah, kecuali jangan menikahi wanita-wanita mereka dan memakan sembelihan-sembelihan mereka” [Al-Mushannaf, 9/118-119 no. 16581 – tahqiq : Muhammad ‘Awwaamah].

Diriwayatkan juga oleh ‘Abdurrazzaaq no. 10028, Abu ‘Ubaid dalam Al-Amwaal no. 76, Al-Haarits bin Abi Usaamah dalam Zawaaid-nya no. 675, dan Al-Baihaqiy 9/284-285; semuanya dari jalan Sufyaan Ats-Tsauriy, dari Qais bin Muslim, selanjutnya seperti hadits di atas.

Para perawinya adalah tsiqaat, akan tetapi Al-Hasan bin Muhammad bin ‘Aliy bin Abi Thaalib tidak pernah bertemu dengan Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, sehingga mursal.
[4]      Ahmad bin Sinaan Al-Waasithiy adalah seorang yang tsiqah lagi haafidh.
Muhammad bin Bilaal Al-Kindiy, ia diperselisihkan para ulama. Abu Daawud berkata : “Tidaklah aku mendengar (tentangnya) kecuali kebaikan”. Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam Ats-Tsiqaat. Ibnu ‘Adiy berkata : “Haditsnya tidak banyak, aku mengharap tidak mengapa dengannya”. Al-‘Uqailiy berkata : “Orang Bashrah, banyak keliru dalam haditsnya”. Adz-Dzahabiy mengomentarinya : “Shaduuq, keliru dalam hadits sebagaimana lumrahnya orang-orang berbuat keliru”. Kesimpulan yang benar atas dirinya adalah shaduuq hasanul-hadiits.

‘Imraan bin Daawar Al-‘Ammiy, ia diperselisihkan para ulama. ‘Abdurrahman bin Mahdiy meriwayatkan darinya dimana ini sama dengan pentautsiqan darinya. Yahyaa Al-Qaththaan memujinya. Ahmad berkata : “Aku berharap ia seorang yang shaalihul-hadiits”. Di riwayat lain : “Laisa bi-dzaaka”. Di riwayat lain : “Syaikh”. Ad-Daaruquthniy berkata : “Banyak kekeliruan dan penyelisihan”. Ibnu Ma’iin berkata : “Tidak kuat”. Al-Aajurriy berkata : “Yahyaa bin Sa’iid tidak meriwayatkan darinya, ia tidak ada apa-apanya”. Abu Daawud berkata : “Aku tidak mendengar (tentangnya) kecuali kebaikan”. Di riwayat lain ia berkata : “Lemah. Ia telah berfatwa di jaman Ibraahiim bin ‘Abdillah bin Hasan dengan satu fatwa yang keras yang padanya terdapat penumpahan darah”. An-Nasaa’iy berkata : “Dla’iif”. Di riwayat lain : “Tidak kuat”. Ibnu ‘Adiy berkata : “Ia termasuk orang yang ditulis haditsnya”. Al-Bukhaariy berkata : “Shaduuq yahimu”. Ia (Al-Bukhaariy) meriwayatkan haditsnya secara mu’allaq dalam Shahih-nya. Al-‘Ijliy berkata : “Orang Bashrah, tsiqah”. As-Saajiy berkata : “Shaduuq”. ‘Affaan telah mentsiqahkannya. Al-Haakim berkata : “Shaduuq”. Ibnu Hajar berkata : “Shaduuq yahimu”. Al-Haitsamiy berkata : “Telah ditsiqahkan”. Al-Albaaniy berkata : “Terdapat sedikit perbincangan padanya, dan haditsnya tidak turun dari tingkatan hasan”. Sebagian ulama menuduh ‘Imraan mempunyai pemikiran yang condong pada Khawarij, namun sebagian yang lain menolaknya (seperti Ibnu Hajar).
Abu Jamrah adalah Nashr bin ‘Imraan bin ‘Ishaam; seorang yang tsiqah lagi tsabt.



[5]      ‘Abdullah bin Idriis bin Yaziid bin ‘Abdirrahman Al-Aswad, seorang yang tsiqah, faqiih, lagi ahli ibadah.
Shalt bin Bahraam Al-Kuufiy At-Taimiy, seorang yang tsiqah. Al-Bukhaariy berkata : “Ia mendengar riwayat dari Abu Waail (Syaqiiq), shaduuq fil-hadiits”. Abu Zur’ah menyebutkannya dalam Asaamiyyudl-Dlu’afaa’. Abu Daawud berkata : “Tsiqah”. Ad-Daaruquthniy berkata : “Tidak mengapa dengannya”. Ibnu Hibbaan berkata : “Orang Kufah, kuat haditsnya (‘aziizul-hadiits)”. Ibnu ‘Uyainah berkata : “Orang yang paling jujur dari penduduk Kuffah”. Ahmad bin Hanbal berkata : “Orang Kuffah, tsiqah”. Yahyaa bin Ma’iin berkata : “Tsiqah”. Abu Haatim berkata : “Shaduuq, ia tidak mempunyai ‘aib, kecuali pemahaman irjaa’” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 4/438-439 no. 1920, Al-Jaami’ fil-Jarh wat-Ta’diil 1/400 no. 1904, dan Ats-Tsiqaat 6/no. 8637].
Syaqiiq bin Salamah Al-Asadiy, Abu Waail; seorang yang tsiqah.

Sumber:
Abul-jauzaa.blogspot.com

5 Jul 2010

catatan terahir

by: Thufail Al Ghifari.

Terjagalah dari segala maksiat, dari segala zina dan
nafsu dunia yang sesat. disatukan dalam karunia yang suci bersama jiwa-jiwa yang haus akan ibadah dan penuh harga diri. ini bukan cerita cinderella bukan juga patang arang cinta buta siti nurbaya.
tak dapat di ukur tapi bersama Allah semua pasti teratur.
dinyatakan dalam ketulusan dari mutiara ketaqwaan yang sangat mendalam,
bersemi dari pupuk akhlak yang hebat, berbuah dari kesabaran dan ketekunan yang lebat.

tidak..ini tak dapat bisa di mengerti oleh hati yang penuh dusta yang buta dengan warna-warni dunia yang fana,
ini hanya untuk mereka yang selalu ingin luruskan keteladanan bagi generasi berikutnya,
keteladanan abadi dalam harum kasturi dari buah ibadah, dan menjadi manis seperti kurma diawal bulan yang indah.
untuk berjalan diantara kesetian dan harapan dan hanya mau mencium atas dasar kata cinta.
karna bukan apa, siapa dan bagaimana tapi luruskanlah dalam wangi surga,
karna apa sebenarnya kita berani berkata cinta..



inilah cinta sejati..
cinta yang tak perlu kau tunggu tapi ia tumbuh bersama doa malam yang teduh.
tak tersentuh oleh mata dunia yang palsu.
petunjukyang datang dari ruang malaikat yang sanggup melihat tak kenal pekat.
tak lekang oleh zaman yang terus melaju..
dan tak akan habis oleh waktu.
karna kecantikan nya tersimpan dihati, dalam pesona yang selalu menjaga jiwa.
yang menjadikan dunia sebagai surga sebelum surga yang sebenar nya..yang membuat hidup lebih hidup dari kehidupan yang sebenarnya,
seperti sungai yang mengalir yang bening airnya pun selalu artikan keseimbangan syair.
yang satukan dua perbedaan dalam satu ikatan.
untuk melihat kekurangan sebagai kesempatan dan menjadikan kelebihan sebagai kekuatan.
lalu saling mengisi seperti matahari dan bulan dalam kesetiaan ruang kesholehan dan kasih sayang..
dan menjadi sejarah penutup halaman terahir bagi ksatria sastra jihad dan da'wah.
tercatat dalam untaian rahmat berahir dalam catatan terahir yang mulia yang digariskan hanya oleh ketetapan Allah swt..

hingga Rambut kita memutih...
hingga ajalkan menjemput diri ini...

4 Jul 2010

taukah kau

kata mutiara

ukhuwwah

Dunia ini indah karna ukhuwwah yang saling memberi tanpa batas,
ada sapa dalam duka..
ada doa dalam ketakutan..
ada maaf dalam khilaf..
ada taujih dalam perbaikan diri..
ada nasehat dalam kasih sayang..
ada doa dalam kerinduan..
dan ada harap dalam kelemahan diri...

2 Jul 2010

Kiat Menjemput Maut

بسم الله الرحمن الر حيم

Alkisah menurut shirah, pernah Nabi Ibrahim as berdialog dengan Malaikat Maut soal sakratulmaut. Sahabat Allah itu bertanya, “Dapatkah engkau memperlihatkan rupamu saat engkau mencabut nyawa manusia yang gemar berbuat dosa?”
Malaikat menjawab pendek: “Engkau tak akan sanggup.”
“Aku pasti sanggup,” tegas beliau.
“Baiklah, berpalinglah dariku,” pinta si Malaikat.

Saat Nabi Ibrahim as berpaling kembali, di hadapannya telah berdiri sesosok makhluk berkulit legam dengan rambut berdiri, berbau busuk, dan berpakaian serba hitam. Dari hidung dan mulutnya tersembur jilatan api. Seketika itu pula Nabi Ibrahim as jatuh pingsan! Ketika tersadar kembali, beliau pun berkata kepada Malaikat Maut, “Wahai Malaikat Maut, seandainya para pendosa itu tak menghadapi sesuatu yang lain dari wajahmu di saat kematiannya, niscaya cukuplah itu menjadi hukuman untuknya.”

Di kesempatan lain, kisah yang diriwayatkan oleh 'Ikrimah dari Ibn 'Abbas ini, menceritakan Nabi Ibrahim as meminta Malaikat Maut mengubah wujudnya saat mencabut nyawa orang-orang beriman. Dengan mengajukan syarat yang sama kepada Ibrahim as, Malaikat Maut pun mengubah wujudnya. Maka di hadapan Nabi yang telah membalikkan badannya kembali, telah berdiri seorang pemuda tampan, gagah, berpakaian indah dan menyebar aroma wewangian yang sangat harum.
“Seandainya orang beriman melihat rupamu di saat kematiannya, niscaya cukuplah itu sebagai imbalan amal baiknya,” kata Nabi Ibrahim as..

Wajibkah Kita Bermadzhab?

Wajibkah Kita Bermadzhab?

19 Jun 2010

"perumpaman Hujan bagi penuntut ilmu"

oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin

مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِبَةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ، فَأَنْبَتَتِ الْكَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيْرَ، وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ، فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَاسَ فَشَرِبُوْا مِنْهَا وَسَقُوْا وَزَرَعُوا، وَأَصَابَ طَائِفَةً مِنْهَا أُخْرَى إِنَمَا هِيَ قِيْعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كَلأَ؛ فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِيْنِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلّمَ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ اَلذِي أُرْسِلْتُ بِهِ }} مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.

Dari Abi Musa Radhiallahu Anhu dia berkata Nabi Shalallahu Alaihi wa sallam bersabda Perumpamaan petunjuk dan ilmu pengetahuan yg oleh krn itu Allah mengutus aku utk menyampaikanya seperti hujan lebat jatuh ke bumi; bumi itu ada yg subur menyerap air menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput-rumput yg banyak. Ada pula yg keras tidak menyerap air sehingga tergenang maka Allah memberi manfaat dgn hal itu kepada manusia.

Mereka dapat minum dan memberi minum dan utk bercocok tanam. Ada pula hujan yg jatuh kebagian lain yaitu di atas tanah yg tidak menggenangkan air dan tidak pula menumbuhkan rumput. Begitulah perumpamaan orang yg belajar agama yang mau memanfaatkan sesuatu yg oleh krn itu Allah mengutus aku menyampaikannya dipelajarinya dan diajarkannya. Begitu pula perumpamaan orang yg tidak mau memikirkan dan mengambil peduli dgn petunjuk Allah yg aku diutus utk menyampaikannya. Abu Abdillah berkata bahwa Ishaq berkata Dan ada diantara bagian bumi yg digenangi air tapi tidak menyerap.

Kandungan HaditsTentang hadits diatas setelah memaparkan keterangan yg menjelaskan hadits diatas dari segi bahasa Ibnu Hajar Al-Asqalani -penulis kitab fikih Bulughul Maram- dalam kitabnya Fathul Bari menjelaskan :Al Qurtubi dan yg lainnya mengatakan bahwa Rasulullah ketika datang membawa ajaran agama beliau mengumpamakannya dgn hujan yg datang kepada manusia dikala mereka membutuhkannya. Demikianlah kondisi manusia sebelum Rasulullah diutus. Seperti hujan menghidupkan tanah yg mati demikian pula ilmu agama dapat menghidupkan hati yg mati.Kemudian beliau mengumpamakan orang yg mendengarkan ilmu agama dgn berbagai macam tanah yg terkena air hujan diantara mereka adl orang alim yg mengamalkan ilmunya dan mengajar.

Orang ini seperti jenis tanah yg subur yg menyerap air sehingga dapat memberi manfaat utk dirinya dan kemudian tumbuhlah tumbuh-tumbuhan padanya sehingga dapat memberi manfaat bagi yg lain.Diantara mereka ada juga orang yg menghabiskan waktunya utk menuntut ilmu namun dia tidak mengerjakan yg sunnah-sunnahnya dan tidak memahami secara mendalam ilmu yg ia kumpulkan akan tetapi dia tunaikan utk orang lain maka dia bagaikan tanah yang tergenangi air sehingga manusia dapat memanfaatkannya.

Orang inilah yg diindikasikan dalam sabda beliau Allah memperindah wajah seseorang yg mendengar perkataan- perkataanku dan dia menghafalnya dan menyampaikanya seperti yg dia dengar. Betapa banyak orang yg menyampaikan fiqih kepada orang yg lbh mengerti darinya …. {Shahih HR. At Tirmidzi no. 2657 Ahmad 1/437. Ibnu Majah 232 dll.}Diantara mereka juga ada yg mendengar ilmu namun tidak menghafal atau menjaganya serta tidak mengamalkannya dan tidak pula mengajarkannya kepada orang lain maka dia seperti tanah yang kering dan tandus tidak dapat menyerap air sehingga merusak tanah yg ada di sekelilignya.Dikumpulkannya perumpamaan bagian pertama dan kedua {bumi itu ada yg subur menyerap air menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput-rumput yg banyak dan ada pula yg keras tidak menyerap air sehingga tergenang maka Allah memberi manfaat dgn hal itu kepada manusia. Mereka dapat minum dan memberi minum dan utk bercocok tanam adl krn keduanya sama-sama bermanfaat. Sedangkan dipisahkannya bagian ketiga krn tercela dan tidak bermanfaat. Wallaahu a’lam.

Kemudian dalam tiap perumpamaan terdiri dari dua kelompok. Perumpamaan pertama telah kita jelaskan tadi sedang perumpamaan kedua bagian pertamanya adl orang yg masuk agama namun tidak mendengarkan ilmu atau mendengarkannya tapi tidak mengamalkan dan tidak mengajarkannya. Kelompok ini diumpamakan layaknya tanah tandus yg diisyaratkan oleh Nabi Shallallahu Alaihi was Sallam dalam sabdanya “Orang yg tidak mau peduli” yaitu berpaling dari ilmu sehingga dia tidak bisa mengambil manfaat utk dirinya dan tidak pula dapat memberi manfaat kepada orang lain.Adapun bagian kedua adl orang yg tidak mau masuk ke dalam agama Islam sama sekali bahkan telah disampaikan kepadanya pengetahuan tentang agama Islam tapi dia mengingkari dan kufur kepadanya.

Kelompok ini diumpamakan dgn tanah keras yg berbatu yg tidak ada tumbuhan sama sekali dimana air mengalir diatasnya lewat begitu saja tanpa dapat memanfaatkannya. Hal ini diisyaratkan dgn perkataan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam Dan dia tidak menerima petunjuk Allah yg aku bawa .Ath-Thibi mengatakan Manusia terbagi menjadi dua. Pertama manusia yg memanfaatkan ilmu utk dirinya namun tidak mengajarkannya kepada orang lain. Kedua manusia yg tidak bisa mengambil manfaat utk dirinya tapi dia mengajarkan kepada orang lain. Menurut saya kategori pertama masuk dalam kelompok pertama krn secara umum manfaatnya ada walaupun tingkatnya berbeda. Begitu pula dgn tanaman yg tumbuh diantaranya ada yg subur dan memberi manfaat kepada manusia dan ada juga yg mengering. Adapun kategori kedua walaupun dia mengerjakan hal-hal yg wajib dan meninggalkan yg sunnah sebenarnya dia termasuk dalam kelompok yg kedua seperti yg telah kita jelaskan; dan seandainya dia meninggalkan hal-hal yg wajib maka dia adl orang yg fasik dan kita tidak boleh mengambil ilmu darinya. Orang semacam ini termasuk dalam man lam yar fa’ bi dzalika ro san.

Wallahu a’lam .Dinukil dari kitab Fathul Bari karya Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani. Jilid 1 Hal. 175 – 177. Cet. Darul Fikr.Penutup. Dari uraian diatas mari kita berkaca pada pribadi kita masing-masing. Termasuk dalam kelompok manakah kita ; kelompok tanah yg menyerap air sehingga dapat memberi manfaat bagi dirinya kemudian tanah tersebut dapat menumbuhan tumbuh-tumbuhan sehingga dapat memberi manfaat pula bagi yg lain atau kelompok kedua yakni kelompok tanah yg mampu menahan air walaupun tidak tumbuh tanaman padanya namun air yg ditampungnya bermanfaat bagi yg lain. Ataukah yg ketiga yaitu kelompok tanah yg yg tidak dapat menerima air sehingga merusak tanah yg ada di sekelilingnya? Demikianlah Wahai saudaraku jadikan diri-diri kita sebagai ulul Albab orang yg cerdik cendikia.Semoga Allah memudahkan kita semua utk menuju dan meniti jalan kebaikan dgn senantiasa dibimbing ilmu yg bagaikan hujan yg menumbuhkan tanaman yg menghasilkan buah yg manis nan indah. Amin.

Diterjemahkan oleh Al Ustadz Muhammad Rifa’i dari kitab Syarah Riyadhus Shalihin Bagian Kitabul Ilmi karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin cetakan Darul Atsar .Referensi: Buletin Da’wah Islam Riyadhus Shalihin Edisi 006/Jumadil Tsani/1427 H.
sumber : file chm Darus Salaf 2

11 Jun 2010

Nasihat Berharga untuk Wanita Muslima

Oleh: Yusuf bin Abdullah at-Turky

Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Rasulullah, para keluarga dan para sahabat beliau, serta kepada orang-orang yang mengikuti jejak dan petunjuk beliau sampai hari pembalasan.

Selanjutnya : Saya menulis nasihat yang sederhana ini kepada setiap ukhti muslimah, yang telah rela Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sebagai Rasul Allah.

Wahai saudariku, ukhti Muslimah. Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حتَّى يُحِبَّ لأَخيهِ ما يُحِبُّ لِنَفسه
“Tidak beriman seseorang di antara kamu sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (Muttafaq Alaih)

Maka, baris-baris sederhana ini sengaja ditulis untuk anda dari sesama saudara muslim yang bersaksi atas nama Allah bahwa ia sangat mencintai saudarinya sebagaimana cintanya kepada keluarga dan saudari-saudari muslimah lainnya.

Wahai saudariku, ukhti Muslimah. Hendaknya kita tahu dengan penuh keyakinan, kita tidak diciptakan main-main tanpa ada arti dan tidak pula dibiarkan begitu saja tanpa tujuan dan pertanggung-jawaban. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa  kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang Sebenarnya; tidak ada tuhan (yang paling berhak disembah) kecuali Dia, Tuhan (yang Mempunyai) Arasy yang Mulia.” (QS. Al-Mu’minun: 115-116).

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى
“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung-jawaban)?” (QS. Al-Qiyamah: 36).

Tapi kita telah diciptakan oleh Allah, Pencipta alam yang indah ini, untuk suatu tujuan yang agung, sebagai mana firman Nya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).
  
Allah juga telah menerangkan kepada kita tentang ibadah tersebut dengan pengertiannya yang meliputi seluruh aspek kehidupan melalui para Rasul shallallahu 'alaihi wasallam, sebagaimana firman Nya:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ
“Sesungguhnya Kami telah mengutus para rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat melaksanakan keadilan.” (QS. Al-Hadid: 25).
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan): ’Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (QS. An-Nahl:36).

Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan kepada kita nikmat dengan mengutus Muhammad bin Abdullah shallallahu 'alaihi wasallam, sebagai nabi terakhir dan rasul yang diutus untuk seluruh umat manusia. Allah Ta'ala berfirman:

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah (Rasulullah) dan penutup para nabi.” (QS. Al-Ahzab:40).


قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada tuhan (yang paling berhak disembah) selain Dia, Yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan. Maka berimanlah kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat Nya (kitab-kitab Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-A’raf: 158).

 
Maka segala puji bagi Allah atas nikmat islam.

Wahai saudariku, Ukhti Muslimah. Ketahuilah –semoga Allah memberi taufiq kepada anda untuk setiap kebaikan-, bahwa Islam telah mengatur kehidupan seorang muslim dan muslimah sesuai dengan sistem yang datang dari Pencipta alam ini, Dzat Yang Maha Tinggi dan Maha Suci, Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Untuk itu, saya wasiatkan agar anda berpegang teguh pada ajaran–ajaran agama Islam ini, baik yang kecil maupun yang besar, di setiap waktu dan tempat. Dan hendaknya Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjadi sinar penerang yang menerangi jalan anda. Semoga Allah menjaga dan memelihara anda.
...Saya wasiatkan agar anda berpegang teguh pada ajaran–ajaran agama Islam ini, baik yang kecil maupun yang besar, di setiap waktu dan tempat...
Wahai saudariku, ukhti Muslimah. Ketahuilah –semoga Allah menjaga anda- bahwa kebahagiaan di dunia dan akhirat tergantung pada pelaksanaan syariat Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam kehidupan kita. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia beriman, maka sesungguhnya Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya Kami akan berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. An-Nahl: 97).

Dan berhati-hatilah dari pengaruh kebatilan syaitan dari kalangan manusia dan jin, yang sudah dimake up sedemikian rupa oleh mereka, karena mereka sangat berbahaya. Pencipta Anda dan Pencipta alam semesta ini telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan dari (jenis) manusia dan (jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. Al-An’am: 112).

“Dan demikian juga, telah Kami jadikan untuk setiap nabi musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi Petunjuk dan Penolong.” (QS. Al-Furqan:31).

Wahai saudariku, ukhti Muslimah. Berbekallah dengan ilmu agama dari Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam. Usahakan agar dapat menghafal Kitabullah atau semampumu yang dapat anda hafalkan. Belajarlah rukun-rukun Iman, rukun-rukun Islam, dan Ihsan. Praktekkanlah semua itu dalam kehidupan nyata anda. Jadilah anda –semoga Allah memberi taufik kepada anda untuk apa yang dicintai dan diridhai Nya- suri tauladan yang baik untuk keluarga dan saudari-saudari anda, yang lain, yang muslimah.
..Wahai saudariku, ukhti Muslimah. Berbekallah dengan ilmu agama dari Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunah Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam.
Usahakan agar dapat menghafal Kitabullah atau semampumu yang dapat anda hafalkan...
Wahai saudariku, ukhti Muslimah. Belajar dan laksanakanlah hadits berikut ini; Dari Umar bin Khattab radhiyallah 'anhu berkata: “Ketika kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada suatu hari tiba-tiba datang seorang laki-laki berpakaian putih sekali dan rambut hitam pekat, tidak tampak padanya bekas perjalanan jauh dan tak seorang pun di antara kita yang mengenalnya, sampai duduk dekat beliau kemudian menyandarkan kedua dengkulnya dengan dengkul beliau dan berkata: ‘Hai Muhammad, beritahu aku tentang Islam!’

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: ‘Islam adalah agar engkau bersaksi bahwa tiada tuhan (yang paling berhak disembah) selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan agar engkau menunaikan haji ke Baitullah jika engkau mampu melaksanakan perjalanan kesana.’

Ia berkata: ‘engkau benar.’

Kami semua heran kepadanya karena dia bertannaya pada beliau dan membenarkannya.

Kemudian ia bertannya: ’Beritahu aku tentang Iman’.

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: ’Agar engkau beriman kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari Kemudian, dan agar engkau beriman kepada Qadar yang baik dan yang buruk.’

Ia berkata: ‘engkau benar’

Kemudian ia bertanya lagi : ’Beritahu aku tentang Ihsan!’

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: ‘Agar engkau beribadah kepada Allah seakan –akan engkau melihat Nya, jika engkau tidak melihat Nya sesungguhnya Dia melihat engkau.’

Tanyanya lagi: ‘Beritahu aku tentang Kiamat.’

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: ‘Yang ditanya tidak lebih tahu tentangnya daripada yang menanya.”

Tanyanya lagi: ‘Beritahu aku rentang tanda-tanda nya (Kiamat).’

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: ‘Seorang budak perempuan melahirkan majikannya, dan engkau lihat orang-orang bangkit tanpa sandal dan tanpa pakaian dan tanpa khitan, para penggembala kambing membangun gedung-gedung pencakar langit.’

Kemudian orang tersebut pergi dan saya diam lama sekali, lalu beliau bertanya: ’Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya tadi?’

Aku jawab: ‘Allah dan Rasul Nya lebih tahu’.

Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: ‘Dia adalah Jibril telah datang padamu untuk agamamu kepadamu.” (Riwayat Muslim).

Wahai saudariku, ukhti Muslimah. Hayatilah ayat-ayat berikut ini. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ

"Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonan mereka(dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah sebagian turunan yang lain.” (QS. Ali Imran:195).


وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ  وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي صَدَقَنَا وَعْدَهُ وَأَوْرَثَنَا الْأَرْضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَاءُ فَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ


“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! Maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya". Dan mereka mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada Kami dan telah (memberi) kepada Kami tempat ini sedang Kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang Kami kehendaki; Maka surga Itulah Sebaik-baik Balasan bagi orang-orang yang beramal.” (QS. Az-Zumar:73-74). [PurWD/voa-islam.com]

22 Mei 2010

Untuk Renungan Bersama.

Kita selalu Bertanya... tapi Al-Quran Sudah
Menjawabnya....

KITA BERTANYA : KENAPA AKU DIUJI?

AL-QURAN MENJAWAB
"Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan
saja mengatakan; "Kami telah beriman," sedangkan
mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah
menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka
sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar
dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang
dusta."

Surah Al-Ankabut ayat 2-3

KITA BERTANYA : KENAPA AKU TIDAK DAPAT APA YANG AKU
IDAM-IDAMKAN?

AL-QURAN MENJAWAB
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik
bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu,
padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang
kamu tidak mengetahui."

Surah Al-Baqarah ayat 216

KITA BERTANYA : KENAPA UJIAN SEBERAT INI?

AL-QURAN MENJAWAB
"Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai
dengan kesanggupannya."

Surah Al-Baqarah ayat 286

KITA BERTANYA : KENAPA RASA KECEWA?

AL-QURAN MENJAWAB
"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula
kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang
paling tinggi darjatnya, jika kamu orang-orang yang
beriman."

Surah Al-Imran ayat 139

KITA BERTANYA : BAGAIMANA HARUS AKU MENGHADAPINYA?

AL-QURAN MENJAWAB
"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu
(menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan
perkara-perkara yang berkebajikan), dan kuatkanlah
kesabaran kamu lebih daripada kesabaran musuh, di
medan perjuangan), dan bersedialah (dengan kekuatan
pertahanan di daerah-daerah sempadan) serta
bertaqwalah kamu kepada Allah, supaya kamu berjaya
(mencapai kemenangan)."

KITA BERTANYA : BAGAIMANA HARUS AKU MENGHADAPINYA?

AL-QURAN MENJAWAB
"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan
sabar dan mengerjakan sembahyang; dan sesungguhnya
sembahyang itu amatlah berat kecuali kepada
orang-orang yang khusyuk"

Surah Al-Baqarah ayat 45

KITA BERTANYA : APA YANG AKU DAPAT DARIPADA SEMUA INI?

AL-QURAN MENJAWAB
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang
mukmin, diri, harta mereka dengan memberikan syurga
untuk mereka...... "

Surah At-Taubah ayat 111

KITA SELALU BERTANYA : KEPADA SIAPA AKU BOLEH
BERHARAP?

AL-QURAN MENJAWAB
"Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain
dariNya. Hanya kepadaNya aku bertawakkal."

Surah At-Taubah ayat 129

KITA BERKATA : AKU TIDAK TAHAN!!

AL-QURAN MENJAWAB
"... ..dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat
Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat
Allah melainkan kaum yang kafir."

Surah Yusuf ayat 12

19 Mei 2010

Renungan malam:"Muhasabahku

Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata:

Sesungguhnya seorang mukmin adalah penanggung jawab atas dirinya karenanya hendaknya ia senantiasa mengintrospeksi diri karena Alloh subhanahu wa ta’ala semata. Adalah hisab, perhitungan amal di yaumil qiyamah nanti akan terasa lebih ringan bagi suatu kaum yang terbiasa mengintrospeksi diri mereka selama masih di dunia dan sungguh hisab tersebut akan menjadi perkara yang sangat memberatkan bagi kaum yang menjadikan masalah ini sebagai sesuatu yang tidak diperhitungkan.

Sesungguhnya seorang mukmin apabila dikejutkan oleh sesuatu yang dikaguminya maka ia pun berbisik: Demi Alloh sesungguhnya aku benar-benar sangat menginginkanmu dan sungguh kamulah yang sangat aku butuhkan, akan tetapi demi Alloh tiada alasan syar’i yang dapat menyampaikanku kepadamu maka menjauhlah dariku sejauh-jauhnya ada yang menghalangi antara aku denganmu. Dan jika tanpa sengaja ia melakukan sesuatu yang melampaui batas, segera ia kembalikan kepada dirinya sendiri sembari berucap: apa yang aku maukan dengan ini semua? ada apa denganku dan dengan ini? Demi Alloh tidak ada udzur bagiku untuk melakukannya, dan demi Alloh aku tidak akan mengulangi lagi selama-lamanya, insya’ Alloh.

Seseungguhnya seorang mukmin adalah yang berpegang kepada Alqur’an dan memaksa amalan-amalannya agar sesuai dengan Alqur’an serta berpaling dari hal-hal yang dapat membinasakan diri mereka.

Sesungguhnya seorang mukmin didunia ini bagaikan tawanan yang selalu berusaha utnuk terlepas dari perbudakan. Dia tidak pernah merasa aman dari sesuatupun hingga dia melihat Alloh karena dia mengetahui bahwa dirinya akan dimintai pertanggung jawabana atas semua itu.

Seorang hamba akan senantiasa dalam kebaikan selama ia memiliki penasihat dari dalam dirinya sendiri dan mengintrospeksi diri merupakan perkara yang paling diutamakan.

(Dikutip dari Mawa’izh Lil Imam Al-Hasan Al-Bashri hal. 39, 40, dan 41 )

17 Mei 2010

HUKUM POLIGAMI

بسم الله الرحمن الرحيم

Hukum Poligami

Syaikh Abdul Aziz bin Baz –rahimahullah-

Pertanyaan: Apakah hukum asal dalam perkawinan itu poligami atau monogami?
Jawaban: Hukum asal perkawinan itu adalah poligami (menikah lebih dari satu istri) bagi lelaki yang mampu dan tidak ada kekhawatiran akan terjerumus dalam perbuatan zhalim.

Yang demikian itu dibolehkan karena mengandung banyak maslahat di dalam memelihara kesucian kehormatan, kesucian kehormatan wanita-wanita yang dinikahi itu sendiri dan berbuat ihsan kepada mereka, memperbanyak keturunan yang dengannya ummat Islam akan menjadi banyak dan makin banyak pula orang yang menyembah Allah swt semata. Dalil poligami ini adalah firman Allah swt:


وَإِنْ خِفْتُمْ أّلاَّتُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانكِحُوا مَاطَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَآءِ مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّتَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَامَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّتَعُولُوا


Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS. an-Nisaa`:3)

Rasulullah saw pun mengawini lebih dari satu istri, dan Allah swt berfirman:


لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. al-Ahzaab:21)


Rasulullah saw pun bersabda setelah ada beberapa orang sahabat yang mengatakan: “Aku akan selalu shalat malam dan tidak akan tidur.” Yang satu lagi berkata: “Aku akan terus berpuasa dan tidak akan berbuka.” Yang satu lagi berkata: “Aku tidak akan mengawini wanita.”

Tatkala ucapan itu sampai kepada Nabi saw, beliau langsung berpidato di hadapan para sahabatnya, seraya memuji Allah swt, kemudian beliau bersabda:


أَنْتُمُ الَّذِي قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا, أَمَّا وَاللهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ بِاللهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُوْمُ وَأُفْطِرُ, وَأُصَلِّى وَأَنَامُ, وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءِ, فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي.

“Kaliankah tadi yang mengatakan “begini dan begitu?” Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah swt di antara kalian dan paling bertaqwa kepada-Nya. Sekali pun begitu, aku berpuasa dan aku pun berbuka. Aku shalat malam tapi aku pun tidur, dan aku mengawini wanita. Barangsiapa yang tidak suka kepada sunnahku, maka ia bukan dari (umat)ku.”

Ini adalah ungkapan luar biasa dari Rasulullah saw mencakup satu istri dan lebih.
Majalah al-Balagh, edisi 1015, tanggal 19/3/1410 H. Fatwa Ibnu Baz.

Poligami itu sunnah

Pertanyaan: Apakah berpoligami itu sunnah di dalam Islam atau mubah?
Jawaban: Berpoligami itu sunnah bagi yang mampu, berdasarkan firman-Nya:


وَإِنْ خِفْتُمْ أّلاَّتُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانكِحُوا مَاطَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَآءِ مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّتَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَامَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّتَعُولُوا

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS. an-Nisaa`:3)


Dan praktek Rasulullah saw itu sendiri, di mana beliau mengawini 9 wanita dan dengan mereka Allah swt memberikan manfaat besar bagi ummat ini. Yang demikian itu (9 istri) adalah khusus bagi beliau, sedang selain beliau dibolehkan berpoligami tidak lebih dari 4 istri.

Berpoligami itu mengandung banyak maslahat yang sangat besar bagi kaum laki-laki, kaum wanita dan Ummat Islam secara keseluruhan. Sebab, dengan berpoligami dapat dicapai oleh semua pihak tunduknya pandangan (Ghadhdhul bashar), terpeliharanya kehormatan, keturunan yang banyak, lelaki dapat berbuat banyak untuk kemaslahatan dan kebaikan para istri dan melindungi mereka dari berbagai faktor penyebab keburukan dan penyimpangan.

Tetapi orang yang tidak mampu berpoligami dan takut kalau tidak dapat berlaku adil, maka hendaknya cukup kawin dengan satu istri saja, karena Allah swt berfirman:

فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّتَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً

. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, (QS. an-Nisaa`:3)


Semoga Allah swt memberi taufik kepada segenap kaum muslimin menuju sesuatu yang menjadi kemaslahatan dan keselamatan bagi mereka di dunia dan akhirat.
Majalah al-Balagh, edisi 1028. fatwa Ibnu Baz.

16 Mei 2010

Kata Mutiara Islami tentang Cinta

Kata cinta, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, merupakan wakil dari perasaan kasih, sayang, atau rindu yang sangat dalam. Namun dalam konteks atau kadar kalimat tertentu, ia bisa juga mewakili perasaan sedih.

Cinta adalah salah satu sumber kekuatan unik dalam diri manusia. Ia menjadi tenaga penggerak hati dan jiwa yang akan menghasilkan sikap, perbuatan dan perilaku. Cinta bisa seperti yang terurai dalam sebait sajak dari film laris indonesia, Ketika Cinta Bertasbih:

Cinta adalah kekuatan yg mampu
mengubah duri jadi mawar
mengubah cuka jadi anggur
mengubah sedih jadi riang
mengubah amarah jadi ramah
mengubah musibah jadi muhibah.

Namun demikian, cinta pun bisa menghasilkan perubahan yang sebaliknya: mengubah mawar menjadi duri, dan seterusnya.

Hal yang demikian bisa terjadi karena cinta bersemayam di dalam hati yang bersifat labil. Seperti sabda Rasulullah saw. hati itu bersifat gampang terbolak-balik bagaikan bulu yang terombang-ambing oleh angin yang berputar-putar. Sebagaimana amal-amal dan perilaku kita yang senantiasa bersumber dari niat dan motivasi di dalam hati, maka cinta pun bisa mewujud dengan dasar niat yang beraneka rupa. Ada cinta yang tulus, penuh kerelaan. Namun ada pula cinta yang penuh duri dan racun. Ada cinta yang merupakan buah keimanan dan ketaqwaan. Namun ada pula cinta yang berlandaskan nafsu hina.

Bagi seorang muslim dan beriman, cnta terbesar dan cinta hakiki ialah cinta kepada Allah. Bentuk cinta dapat kita wujudkan dalam berbagai rupa tanpa batas ruang dan waktu dan kepada siapa atau apa saja asalkan semuanya bersumber dari kecintaan kita kepada Allah dan karena menggapai ridha-Nya.

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. (Al-Baqarah: 165)

Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (ikutilah Muhammad saw.), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. (Ali Imran: 31)

“Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. At Tirmidzi)

Kata-kata mutiara tentang cinta

Agar cinta tidak menjerumuskan kita ke dalam lubang kehinaan, ada baiknya kita mengambil hikmah dari sumber-sumber islam dan perkataan para ulama berikut ini.

Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah oleh karena embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.

Hamka

Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat.

Hamka

Tanda cinta kepada Allah adalah banyak mengingat (menyebut) Nya, karena tidaklah engkau menyukai sesuatu kecuali engkau akan banyak mengingatnya.

Ar Rabi’ bin Anas (Jami’ al ulum wal Hikam, Ibnu Rajab)

Aku tertawa (heran) kepada orang yang mengejar-ngejar (cinta) dunia padahal kematian terus mengincarnya, dan kepada orang yang melalaikan kematian padahal maut tak pernah lalai terhadapnya, dan kepada orang yang tertawa lebar sepenuh mulutnya padahal tidak tahu apakah Tuhannya ridha atau murka terhadapnya.

Salman al Farisi (Az Zuhd, Imam Ahmad)

Sesungguhnya apabila badan sakit maka makan dan minum sulit untuk tertelan, istirahat dan tidur juga tidak nyaman. Demikian pula hati apabila telah terbelenggu dengan cinta dunia maka nasehat susah untuk memasukinya.

Malik bin Dinar (Hilyatul Auliyaa’)

Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi kekasihmu.

Ali bin Abi Thalib

Engkau berbuat durhaka kepada Allah, padahal engkau mengaku cinta kepada-Nya? Sungguh aneh keadaan seperti ini. Andai kecintaanmu itu tulus, tentu engkau akan taat kepada-Nya. Karena sesungguhnya, orang yang mencintai itu tentu selalu taat kepada yang ia cintai.

A’idh Al-Qorni

Demikianlah beberapa kutipan dari sedikit tokoh-tokoh islam yang semoga bisa kita ambil hikmahnya. Semoga Allah memudahkan saya untuk menambah koleksi ini dan memberikan manfaat kepada pembacanya.

(DITULIS OLEH ALHABIB)

Mengapa membaca al Qur’an ketika kita tak mengerti artinya?

Ditulis oleh alhabib Pada May - 11 - 2010.

Baru saja saya membaca sebuah tulisan pada secarik kertas yang tertempel pada dinding kantor teman saya. Sebuah tulisan tua dari internet. Mungkin sebagian pengunjung sudah pernah membacanya, namun merupakan temuan baru bagi saya. Judulnya adalah: Why do we read quran, even when we do not understand even a single arabic word? Sebuah tulisan indah yang amat menyentuh hati yang saya coba terjemahkan dengan judul di atas: Mengapa membaca al Qur’an ketika kita tak mengerti artinya?

Alkisah, hiduplah seorang muslim tua bersama seorang cucunya di sebuah pegunungan di bagian timur Kentucky, Amerika. Sang kakek biasa membaca Qur’an selepas sholat shubuh setiap hari. Sang cucu berusaha meniru setiap tingkah laku kakeknya.

Suatu hari, ia bertanya: “Kek! Aku berusaha membaca Qur’an seperti dirimu tetapi aku tidak mengerti isinya. Jikapun ada sedikit yang kupahami, ia akan terlupakan setiap kali aku menutup kitab itu. Lalu, apa gunanya aku membacanya?”

Dengan perlahan sang kakek membalikkan badan dan berhenti dari memasukkan batu bara ke dalam tungku pemasak. Ia menjawab: “Ambillah keranjang ini, bawalah ke sungai di bawah sana dan bawakan untukku sekeranjang air!”

Sang cucu membawa keranjang hitam penuh jelaga batu bara tersebut ke sungai dan mengambil air. Namun air itu telah habis menetes sebelum sampai ke rumah. Sang kakek tertawa dan meminta sang cucu agar mencobanya sekali lagi: “Mungkin engkau harus lebih cepat membawa airnya kemari.”

Sang cucu berusaha berlari, namun tetap saja air itu lebih cepat keluar dari keranjang sebelum sampai ke rumah. Dengan terengah-engah ia pun mengatakan kepada sang kakek bahwa tidak mungkin mengambil air dengan keranjang. Sebagai gantinya ia akan mengambil air dengan ember.

“Aku tidak perlu satu ember air, yang kuinginkan adalah sekeranjang air!” jawab sang kakek. “Kau saja yang kurang berusaha lebih keras,” timpal sang kakek sambil menyuruhnya mengambil air sekali lagi. Sang kakek pun pergi ke luar rumah untuk melihat usaha sang cucu.

Kali ini sang cucu sangat yakin bahwa tidak mungkin membawa air menggunakan keranjang. Namun ia berusaha memperlihatkan kepada sang kakek bahwa secepat apapun ia berlari, air itu akan habis keluar dari keranjang sebelum ia sampai ke rumah. Kejadian yang sama berulang. Sang cucu sampai kepada kakeknya dengan keranjang kosong. “Lihatlah Kek! Tidak ada gunanya membawa air dengan keranjang.” katanya.

“Jadi, kau pikir tidak ada gunanya?”, sang kakek balik bertanya. “Lihatlah keranjang itu!” pinta sang kakek.

Ketika sang cucu memperhatikan keranjang itu sadarlah ia bahwa kini keranjang hitam itu telah bersih dari jelaga, baik bagian luar maupun dalamnya, dan terlihat seperti keranjang baru.

“Cucuku, demikianlah yang terjadi ketika engkau membaca al Qur’an. Engkau mungkin tidak mengerti atau tidak bisa mengingat apa yang engkau baca darinya. Namun ketika engkau membacanya, engkau akan dibersihkan dan mengalami perubahan, luar maupun dalam. Itulah kekuasaan dan nikmat Allah kepada kita!”