by: Thufail Al Ghifari.
Terjagalah dari segala maksiat, dari segala zina dan
nafsu dunia yang sesat. disatukan dalam karunia yang suci bersama jiwa-jiwa yang haus akan ibadah dan penuh harga diri. ini bukan cerita cinderella bukan juga patang arang cinta buta siti nurbaya.
tak dapat di ukur tapi bersama Allah semua pasti teratur.
dinyatakan dalam ketulusan dari mutiara ketaqwaan yang sangat mendalam,
bersemi dari pupuk akhlak yang hebat, berbuah dari kesabaran dan ketekunan yang lebat.
tidak..ini tak dapat bisa di mengerti oleh hati yang penuh dusta yang buta dengan warna-warni dunia yang fana,
ini hanya untuk mereka yang selalu ingin luruskan keteladanan bagi generasi berikutnya,
keteladanan abadi dalam harum kasturi dari buah ibadah, dan menjadi manis seperti kurma diawal bulan yang indah.
untuk berjalan diantara kesetian dan harapan dan hanya mau mencium atas dasar kata cinta.
karna bukan apa, siapa dan bagaimana tapi luruskanlah dalam wangi surga,
karna apa sebenarnya kita berani berkata cinta..
inilah cinta sejati..
cinta yang tak perlu kau tunggu tapi ia tumbuh bersama doa malam yang teduh.
tak tersentuh oleh mata dunia yang palsu.
petunjukyang datang dari ruang malaikat yang sanggup melihat tak kenal pekat.
tak lekang oleh zaman yang terus melaju..
dan tak akan habis oleh waktu.
karna kecantikan nya tersimpan dihati, dalam pesona yang selalu menjaga jiwa.
yang menjadikan dunia sebagai surga sebelum surga yang sebenar nya..yang membuat hidup lebih hidup dari kehidupan yang sebenarnya,
seperti sungai yang mengalir yang bening airnya pun selalu artikan keseimbangan syair.
yang satukan dua perbedaan dalam satu ikatan.
untuk melihat kekurangan sebagai kesempatan dan menjadikan kelebihan sebagai kekuatan.
lalu saling mengisi seperti matahari dan bulan dalam kesetiaan ruang kesholehan dan kasih sayang..
dan menjadi sejarah penutup halaman terahir bagi ksatria sastra jihad dan da'wah.
tercatat dalam untaian rahmat berahir dalam catatan terahir yang mulia yang digariskan hanya oleh ketetapan Allah swt..
hingga Rambut kita memutih...
hingga ajalkan menjemput diri ini...
melihat, mendengar, kemudian memahami.. hakikat hidup untuk di nikmati bukan hanya sekedar untuk di sesali..
Bismillah
- Jalan Cahaya
- "wahai orang-orang beriman! bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akherat), dan bertaqwalah kepada Allah. sungguh, Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.."
5 Jul 2010
4 Jul 2010
ukhuwwah
Dunia ini indah karna ukhuwwah yang saling memberi tanpa batas,
ada sapa dalam duka..
ada doa dalam ketakutan..
ada maaf dalam khilaf..
ada taujih dalam perbaikan diri..
ada nasehat dalam kasih sayang..
ada doa dalam kerinduan..
dan ada harap dalam kelemahan diri...
ada sapa dalam duka..
ada doa dalam ketakutan..
ada maaf dalam khilaf..
ada taujih dalam perbaikan diri..
ada nasehat dalam kasih sayang..
ada doa dalam kerinduan..
dan ada harap dalam kelemahan diri...
2 Jul 2010
Kiat Menjemput Maut
بسم الله الرحمن الر حيم
Alkisah menurut shirah, pernah Nabi Ibrahim as berdialog dengan Malaikat Maut soal sakratulmaut. Sahabat Allah itu bertanya, “Dapatkah engkau memperlihatkan rupamu saat engkau mencabut nyawa manusia yang gemar berbuat dosa?”
Malaikat menjawab pendek: “Engkau tak akan sanggup.”
“Aku pasti sanggup,” tegas beliau.
“Baiklah, berpalinglah dariku,” pinta si Malaikat.
Saat Nabi Ibrahim as berpaling kembali, di hadapannya telah berdiri sesosok makhluk berkulit legam dengan rambut berdiri, berbau busuk, dan berpakaian serba hitam. Dari hidung dan mulutnya tersembur jilatan api. Seketika itu pula Nabi Ibrahim as jatuh pingsan! Ketika tersadar kembali, beliau pun berkata kepada Malaikat Maut, “Wahai Malaikat Maut, seandainya para pendosa itu tak menghadapi sesuatu yang lain dari wajahmu di saat kematiannya, niscaya cukuplah itu menjadi hukuman untuknya.”
Di kesempatan lain, kisah yang diriwayatkan oleh 'Ikrimah dari Ibn 'Abbas ini, menceritakan Nabi Ibrahim as meminta Malaikat Maut mengubah wujudnya saat mencabut nyawa orang-orang beriman. Dengan mengajukan syarat yang sama kepada Ibrahim as, Malaikat Maut pun mengubah wujudnya. Maka di hadapan Nabi yang telah membalikkan badannya kembali, telah berdiri seorang pemuda tampan, gagah, berpakaian indah dan menyebar aroma wewangian yang sangat harum.
“Seandainya orang beriman melihat rupamu di saat kematiannya, niscaya cukuplah itu sebagai imbalan amal baiknya,” kata Nabi Ibrahim as..
19 Jun 2010
"perumpaman Hujan bagi penuntut ilmu"
oleh: Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin
مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِبَةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ، فَأَنْبَتَتِ الْكَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيْرَ، وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ، فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَاسَ فَشَرِبُوْا مِنْهَا وَسَقُوْا وَزَرَعُوا، وَأَصَابَ طَائِفَةً مِنْهَا أُخْرَى إِنَمَا هِيَ قِيْعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كَلأَ؛ فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِيْنِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلّمَ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ اَلذِي أُرْسِلْتُ بِهِ }} مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
Dari Abi Musa Radhiallahu Anhu dia berkata Nabi Shalallahu Alaihi wa sallam bersabda Perumpamaan petunjuk dan ilmu pengetahuan yg oleh krn itu Allah mengutus aku utk menyampaikanya seperti hujan lebat jatuh ke bumi; bumi itu ada yg subur menyerap air menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput-rumput yg banyak. Ada pula yg keras tidak menyerap air sehingga tergenang maka Allah memberi manfaat dgn hal itu kepada manusia.
Mereka dapat minum dan memberi minum dan utk bercocok tanam. Ada pula hujan yg jatuh kebagian lain yaitu di atas tanah yg tidak menggenangkan air dan tidak pula menumbuhkan rumput. Begitulah perumpamaan orang yg belajar agama yang mau memanfaatkan sesuatu yg oleh krn itu Allah mengutus aku menyampaikannya dipelajarinya dan diajarkannya. Begitu pula perumpamaan orang yg tidak mau memikirkan dan mengambil peduli dgn petunjuk Allah yg aku diutus utk menyampaikannya. Abu Abdillah berkata bahwa Ishaq berkata Dan ada diantara bagian bumi yg digenangi air tapi tidak menyerap.
Kandungan HaditsTentang hadits diatas setelah memaparkan keterangan yg menjelaskan hadits diatas dari segi bahasa Ibnu Hajar Al-Asqalani -penulis kitab fikih Bulughul Maram- dalam kitabnya Fathul Bari menjelaskan :Al Qurtubi dan yg lainnya mengatakan bahwa Rasulullah ketika datang membawa ajaran agama beliau mengumpamakannya dgn hujan yg datang kepada manusia dikala mereka membutuhkannya. Demikianlah kondisi manusia sebelum Rasulullah diutus. Seperti hujan menghidupkan tanah yg mati demikian pula ilmu agama dapat menghidupkan hati yg mati.Kemudian beliau mengumpamakan orang yg mendengarkan ilmu agama dgn berbagai macam tanah yg terkena air hujan diantara mereka adl orang alim yg mengamalkan ilmunya dan mengajar.
Orang ini seperti jenis tanah yg subur yg menyerap air sehingga dapat memberi manfaat utk dirinya dan kemudian tumbuhlah tumbuh-tumbuhan padanya sehingga dapat memberi manfaat bagi yg lain.Diantara mereka ada juga orang yg menghabiskan waktunya utk menuntut ilmu namun dia tidak mengerjakan yg sunnah-sunnahnya dan tidak memahami secara mendalam ilmu yg ia kumpulkan akan tetapi dia tunaikan utk orang lain maka dia bagaikan tanah yang tergenangi air sehingga manusia dapat memanfaatkannya.
Orang inilah yg diindikasikan dalam sabda beliau Allah memperindah wajah seseorang yg mendengar perkataan- perkataanku dan dia menghafalnya dan menyampaikanya seperti yg dia dengar. Betapa banyak orang yg menyampaikan fiqih kepada orang yg lbh mengerti darinya …. {Shahih HR. At Tirmidzi no. 2657 Ahmad 1/437. Ibnu Majah 232 dll.}Diantara mereka juga ada yg mendengar ilmu namun tidak menghafal atau menjaganya serta tidak mengamalkannya dan tidak pula mengajarkannya kepada orang lain maka dia seperti tanah yang kering dan tandus tidak dapat menyerap air sehingga merusak tanah yg ada di sekelilignya.Dikumpulkannya perumpamaan bagian pertama dan kedua {bumi itu ada yg subur menyerap air menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput-rumput yg banyak dan ada pula yg keras tidak menyerap air sehingga tergenang maka Allah memberi manfaat dgn hal itu kepada manusia. Mereka dapat minum dan memberi minum dan utk bercocok tanam adl krn keduanya sama-sama bermanfaat. Sedangkan dipisahkannya bagian ketiga krn tercela dan tidak bermanfaat. Wallaahu a’lam.
Kemudian dalam tiap perumpamaan terdiri dari dua kelompok. Perumpamaan pertama telah kita jelaskan tadi sedang perumpamaan kedua bagian pertamanya adl orang yg masuk agama namun tidak mendengarkan ilmu atau mendengarkannya tapi tidak mengamalkan dan tidak mengajarkannya. Kelompok ini diumpamakan layaknya tanah tandus yg diisyaratkan oleh Nabi Shallallahu Alaihi was Sallam dalam sabdanya “Orang yg tidak mau peduli” yaitu berpaling dari ilmu sehingga dia tidak bisa mengambil manfaat utk dirinya dan tidak pula dapat memberi manfaat kepada orang lain.Adapun bagian kedua adl orang yg tidak mau masuk ke dalam agama Islam sama sekali bahkan telah disampaikan kepadanya pengetahuan tentang agama Islam tapi dia mengingkari dan kufur kepadanya.
Kelompok ini diumpamakan dgn tanah keras yg berbatu yg tidak ada tumbuhan sama sekali dimana air mengalir diatasnya lewat begitu saja tanpa dapat memanfaatkannya. Hal ini diisyaratkan dgn perkataan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam Dan dia tidak menerima petunjuk Allah yg aku bawa .Ath-Thibi mengatakan Manusia terbagi menjadi dua. Pertama manusia yg memanfaatkan ilmu utk dirinya namun tidak mengajarkannya kepada orang lain. Kedua manusia yg tidak bisa mengambil manfaat utk dirinya tapi dia mengajarkan kepada orang lain. Menurut saya kategori pertama masuk dalam kelompok pertama krn secara umum manfaatnya ada walaupun tingkatnya berbeda. Begitu pula dgn tanaman yg tumbuh diantaranya ada yg subur dan memberi manfaat kepada manusia dan ada juga yg mengering. Adapun kategori kedua walaupun dia mengerjakan hal-hal yg wajib dan meninggalkan yg sunnah sebenarnya dia termasuk dalam kelompok yg kedua seperti yg telah kita jelaskan; dan seandainya dia meninggalkan hal-hal yg wajib maka dia adl orang yg fasik dan kita tidak boleh mengambil ilmu darinya. Orang semacam ini termasuk dalam man lam yar fa’ bi dzalika ro san.
Wallahu a’lam .Dinukil dari kitab Fathul Bari karya Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani. Jilid 1 Hal. 175 – 177. Cet. Darul Fikr.Penutup. Dari uraian diatas mari kita berkaca pada pribadi kita masing-masing. Termasuk dalam kelompok manakah kita ; kelompok tanah yg menyerap air sehingga dapat memberi manfaat bagi dirinya kemudian tanah tersebut dapat menumbuhan tumbuh-tumbuhan sehingga dapat memberi manfaat pula bagi yg lain atau kelompok kedua yakni kelompok tanah yg mampu menahan air walaupun tidak tumbuh tanaman padanya namun air yg ditampungnya bermanfaat bagi yg lain. Ataukah yg ketiga yaitu kelompok tanah yg yg tidak dapat menerima air sehingga merusak tanah yg ada di sekelilingnya? Demikianlah Wahai saudaraku jadikan diri-diri kita sebagai ulul Albab orang yg cerdik cendikia.Semoga Allah memudahkan kita semua utk menuju dan meniti jalan kebaikan dgn senantiasa dibimbing ilmu yg bagaikan hujan yg menumbuhkan tanaman yg menghasilkan buah yg manis nan indah. Amin.
Diterjemahkan oleh Al Ustadz Muhammad Rifa’i dari kitab Syarah Riyadhus Shalihin Bagian Kitabul Ilmi karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin cetakan Darul Atsar .Referensi: Buletin Da’wah Islam Riyadhus Shalihin Edisi 006/Jumadil Tsani/1427 H.
sumber : file chm Darus Salaf 2
مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِبَةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ، فَأَنْبَتَتِ الْكَلأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيْرَ، وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ، فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَاسَ فَشَرِبُوْا مِنْهَا وَسَقُوْا وَزَرَعُوا، وَأَصَابَ طَائِفَةً مِنْهَا أُخْرَى إِنَمَا هِيَ قِيْعَانٌ لاَ تُمْسِكُ مَاءً وَلاَ تُنْبِتُ كَلأَ؛ فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِيْنِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلّمَ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ اَلذِي أُرْسِلْتُ بِهِ }} مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
Dari Abi Musa Radhiallahu Anhu dia berkata Nabi Shalallahu Alaihi wa sallam bersabda Perumpamaan petunjuk dan ilmu pengetahuan yg oleh krn itu Allah mengutus aku utk menyampaikanya seperti hujan lebat jatuh ke bumi; bumi itu ada yg subur menyerap air menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput-rumput yg banyak. Ada pula yg keras tidak menyerap air sehingga tergenang maka Allah memberi manfaat dgn hal itu kepada manusia.
Mereka dapat minum dan memberi minum dan utk bercocok tanam. Ada pula hujan yg jatuh kebagian lain yaitu di atas tanah yg tidak menggenangkan air dan tidak pula menumbuhkan rumput. Begitulah perumpamaan orang yg belajar agama yang mau memanfaatkan sesuatu yg oleh krn itu Allah mengutus aku menyampaikannya dipelajarinya dan diajarkannya. Begitu pula perumpamaan orang yg tidak mau memikirkan dan mengambil peduli dgn petunjuk Allah yg aku diutus utk menyampaikannya. Abu Abdillah berkata bahwa Ishaq berkata Dan ada diantara bagian bumi yg digenangi air tapi tidak menyerap.
Kandungan HaditsTentang hadits diatas setelah memaparkan keterangan yg menjelaskan hadits diatas dari segi bahasa Ibnu Hajar Al-Asqalani -penulis kitab fikih Bulughul Maram- dalam kitabnya Fathul Bari menjelaskan :Al Qurtubi dan yg lainnya mengatakan bahwa Rasulullah ketika datang membawa ajaran agama beliau mengumpamakannya dgn hujan yg datang kepada manusia dikala mereka membutuhkannya. Demikianlah kondisi manusia sebelum Rasulullah diutus. Seperti hujan menghidupkan tanah yg mati demikian pula ilmu agama dapat menghidupkan hati yg mati.Kemudian beliau mengumpamakan orang yg mendengarkan ilmu agama dgn berbagai macam tanah yg terkena air hujan diantara mereka adl orang alim yg mengamalkan ilmunya dan mengajar.
Orang ini seperti jenis tanah yg subur yg menyerap air sehingga dapat memberi manfaat utk dirinya dan kemudian tumbuhlah tumbuh-tumbuhan padanya sehingga dapat memberi manfaat bagi yg lain.Diantara mereka ada juga orang yg menghabiskan waktunya utk menuntut ilmu namun dia tidak mengerjakan yg sunnah-sunnahnya dan tidak memahami secara mendalam ilmu yg ia kumpulkan akan tetapi dia tunaikan utk orang lain maka dia bagaikan tanah yang tergenangi air sehingga manusia dapat memanfaatkannya.
Orang inilah yg diindikasikan dalam sabda beliau Allah memperindah wajah seseorang yg mendengar perkataan- perkataanku dan dia menghafalnya dan menyampaikanya seperti yg dia dengar. Betapa banyak orang yg menyampaikan fiqih kepada orang yg lbh mengerti darinya …. {Shahih HR. At Tirmidzi no. 2657 Ahmad 1/437. Ibnu Majah 232 dll.}Diantara mereka juga ada yg mendengar ilmu namun tidak menghafal atau menjaganya serta tidak mengamalkannya dan tidak pula mengajarkannya kepada orang lain maka dia seperti tanah yang kering dan tandus tidak dapat menyerap air sehingga merusak tanah yg ada di sekelilignya.Dikumpulkannya perumpamaan bagian pertama dan kedua {bumi itu ada yg subur menyerap air menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput-rumput yg banyak dan ada pula yg keras tidak menyerap air sehingga tergenang maka Allah memberi manfaat dgn hal itu kepada manusia. Mereka dapat minum dan memberi minum dan utk bercocok tanam adl krn keduanya sama-sama bermanfaat. Sedangkan dipisahkannya bagian ketiga krn tercela dan tidak bermanfaat. Wallaahu a’lam.
Kemudian dalam tiap perumpamaan terdiri dari dua kelompok. Perumpamaan pertama telah kita jelaskan tadi sedang perumpamaan kedua bagian pertamanya adl orang yg masuk agama namun tidak mendengarkan ilmu atau mendengarkannya tapi tidak mengamalkan dan tidak mengajarkannya. Kelompok ini diumpamakan layaknya tanah tandus yg diisyaratkan oleh Nabi Shallallahu Alaihi was Sallam dalam sabdanya “Orang yg tidak mau peduli” yaitu berpaling dari ilmu sehingga dia tidak bisa mengambil manfaat utk dirinya dan tidak pula dapat memberi manfaat kepada orang lain.Adapun bagian kedua adl orang yg tidak mau masuk ke dalam agama Islam sama sekali bahkan telah disampaikan kepadanya pengetahuan tentang agama Islam tapi dia mengingkari dan kufur kepadanya.
Kelompok ini diumpamakan dgn tanah keras yg berbatu yg tidak ada tumbuhan sama sekali dimana air mengalir diatasnya lewat begitu saja tanpa dapat memanfaatkannya. Hal ini diisyaratkan dgn perkataan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam Dan dia tidak menerima petunjuk Allah yg aku bawa .Ath-Thibi mengatakan Manusia terbagi menjadi dua. Pertama manusia yg memanfaatkan ilmu utk dirinya namun tidak mengajarkannya kepada orang lain. Kedua manusia yg tidak bisa mengambil manfaat utk dirinya tapi dia mengajarkan kepada orang lain. Menurut saya kategori pertama masuk dalam kelompok pertama krn secara umum manfaatnya ada walaupun tingkatnya berbeda. Begitu pula dgn tanaman yg tumbuh diantaranya ada yg subur dan memberi manfaat kepada manusia dan ada juga yg mengering. Adapun kategori kedua walaupun dia mengerjakan hal-hal yg wajib dan meninggalkan yg sunnah sebenarnya dia termasuk dalam kelompok yg kedua seperti yg telah kita jelaskan; dan seandainya dia meninggalkan hal-hal yg wajib maka dia adl orang yg fasik dan kita tidak boleh mengambil ilmu darinya. Orang semacam ini termasuk dalam man lam yar fa’ bi dzalika ro san.
Wallahu a’lam .Dinukil dari kitab Fathul Bari karya Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqalani. Jilid 1 Hal. 175 – 177. Cet. Darul Fikr.Penutup. Dari uraian diatas mari kita berkaca pada pribadi kita masing-masing. Termasuk dalam kelompok manakah kita ; kelompok tanah yg menyerap air sehingga dapat memberi manfaat bagi dirinya kemudian tanah tersebut dapat menumbuhan tumbuh-tumbuhan sehingga dapat memberi manfaat pula bagi yg lain atau kelompok kedua yakni kelompok tanah yg mampu menahan air walaupun tidak tumbuh tanaman padanya namun air yg ditampungnya bermanfaat bagi yg lain. Ataukah yg ketiga yaitu kelompok tanah yg yg tidak dapat menerima air sehingga merusak tanah yg ada di sekelilingnya? Demikianlah Wahai saudaraku jadikan diri-diri kita sebagai ulul Albab orang yg cerdik cendikia.Semoga Allah memudahkan kita semua utk menuju dan meniti jalan kebaikan dgn senantiasa dibimbing ilmu yg bagaikan hujan yg menumbuhkan tanaman yg menghasilkan buah yg manis nan indah. Amin.
Diterjemahkan oleh Al Ustadz Muhammad Rifa’i dari kitab Syarah Riyadhus Shalihin Bagian Kitabul Ilmi karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin cetakan Darul Atsar .Referensi: Buletin Da’wah Islam Riyadhus Shalihin Edisi 006/Jumadil Tsani/1427 H.
sumber : file chm Darus Salaf 2
11 Jun 2010
Nasihat Berharga untuk Wanita Muslima
Oleh: Yusuf bin Abdullah at-Turky
Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Rasulullah, para keluarga dan para sahabat beliau, serta kepada orang-orang yang mengikuti jejak dan petunjuk beliau sampai hari pembalasan.
Selanjutnya : Saya menulis nasihat yang sederhana ini kepada setiap ukhti muslimah, yang telah rela Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sebagai Rasul Allah.
Wahai saudariku, ukhti Muslimah. Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
Selanjutnya : Saya menulis nasihat yang sederhana ini kepada setiap ukhti muslimah, yang telah rela Allah sebagai Tuhannya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam sebagai Rasul Allah.
Wahai saudariku, ukhti Muslimah. Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu 'anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
لا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حتَّى يُحِبَّ لأَخيهِ ما يُحِبُّ لِنَفسه
“Tidak beriman seseorang di antara kamu sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (Muttafaq Alaih)
Maka, baris-baris sederhana ini sengaja ditulis untuk anda dari sesama saudara muslim yang bersaksi atas nama Allah bahwa ia sangat mencintai saudarinya sebagaimana cintanya kepada keluarga dan saudari-saudari muslimah lainnya.
Wahai saudariku, ukhti Muslimah. Hendaknya kita tahu dengan penuh keyakinan, kita tidak diciptakan main-main tanpa ada arti dan tidak pula dibiarkan begitu saja tanpa tujuan dan pertanggung-jawaban. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:
Maka, baris-baris sederhana ini sengaja ditulis untuk anda dari sesama saudara muslim yang bersaksi atas nama Allah bahwa ia sangat mencintai saudarinya sebagaimana cintanya kepada keluarga dan saudari-saudari muslimah lainnya.
Wahai saudariku, ukhti Muslimah. Hendaknya kita tahu dengan penuh keyakinan, kita tidak diciptakan main-main tanpa ada arti dan tidak pula dibiarkan begitu saja tanpa tujuan dan pertanggung-jawaban. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman:
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang Sebenarnya; tidak ada tuhan (yang paling berhak disembah) kecuali Dia, Tuhan (yang Mempunyai) Arasy yang Mulia.” (QS. Al-Mu’minun: 115-116).
أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى
“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung-jawaban)?” (QS. Al-Qiyamah: 36).
Tapi kita telah diciptakan oleh Allah, Pencipta alam yang indah ini, untuk suatu tujuan yang agung, sebagai mana firman Nya:
Tapi kita telah diciptakan oleh Allah, Pencipta alam yang indah ini, untuk suatu tujuan yang agung, sebagai mana firman Nya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Allah juga telah menerangkan kepada kita tentang ibadah tersebut dengan pengertiannya yang meliputi seluruh aspek kehidupan melalui para Rasul shallallahu 'alaihi wasallam, sebagaimana firman Nya:
Allah juga telah menerangkan kepada kita tentang ibadah tersebut dengan pengertiannya yang meliputi seluruh aspek kehidupan melalui para Rasul shallallahu 'alaihi wasallam, sebagaimana firman Nya:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ
“Sesungguhnya Kami telah mengutus para rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat melaksanakan keadilan.” (QS. Al-Hadid: 25).
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada setiap umat (untuk menyerukan): ’Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (QS. An-Nahl:36).
Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan kepada kita nikmat dengan mengutus Muhammad bin Abdullah shallallahu 'alaihi wasallam, sebagai nabi terakhir dan rasul yang diutus untuk seluruh umat manusia. Allah Ta'ala berfirman:
Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memberikan kepada kita nikmat dengan mengutus Muhammad bin Abdullah shallallahu 'alaihi wasallam, sebagai nabi terakhir dan rasul yang diutus untuk seluruh umat manusia. Allah Ta'ala berfirman:
مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah (Rasulullah) dan penutup para nabi.” (QS. Al-Ahzab:40).
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
“Katakanlah: ‘Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada tuhan (yang paling berhak disembah) selain Dia, Yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan. Maka berimanlah kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kalimat-kalimat Nya (kitab-kitab Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. Al-A’raf: 158).
Maka segala puji bagi Allah atas nikmat islam.
Wahai saudariku, Ukhti Muslimah. Ketahuilah –semoga Allah memberi taufiq kepada anda untuk setiap kebaikan-, bahwa Islam telah mengatur kehidupan seorang muslim dan muslimah sesuai dengan sistem yang datang dari Pencipta alam ini, Dzat Yang Maha Tinggi dan Maha Suci, Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Untuk itu, saya wasiatkan agar anda berpegang teguh pada ajaran–ajaran agama Islam ini, baik yang kecil maupun yang besar, di setiap waktu dan tempat. Dan hendaknya Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjadi sinar penerang yang menerangi jalan anda. Semoga Allah menjaga dan memelihara anda.
Wahai saudariku, Ukhti Muslimah. Ketahuilah –semoga Allah memberi taufiq kepada anda untuk setiap kebaikan-, bahwa Islam telah mengatur kehidupan seorang muslim dan muslimah sesuai dengan sistem yang datang dari Pencipta alam ini, Dzat Yang Maha Tinggi dan Maha Suci, Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana. Untuk itu, saya wasiatkan agar anda berpegang teguh pada ajaran–ajaran agama Islam ini, baik yang kecil maupun yang besar, di setiap waktu dan tempat. Dan hendaknya Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjadi sinar penerang yang menerangi jalan anda. Semoga Allah menjaga dan memelihara anda.
...Saya wasiatkan agar anda berpegang teguh pada ajaran–ajaran agama Islam ini, baik yang kecil maupun yang besar, di setiap waktu dan tempat...
Wahai saudariku, ukhti Muslimah. Ketahuilah –semoga Allah menjaga anda- bahwa kebahagiaan di dunia dan akhirat tergantung pada pelaksanaan syariat Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam kehidupan kita. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, sedang ia beriman, maka sesungguhnya Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya Kami akan berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. An-Nahl: 97).
Dan berhati-hatilah dari pengaruh kebatilan syaitan dari kalangan manusia dan jin, yang sudah dimake up sedemikian rupa oleh mereka, karena mereka sangat berbahaya. Pencipta Anda dan Pencipta alam semesta ini telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan dari (jenis) manusia dan (jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. Al-An’am: 112).
“Dan demikian juga, telah Kami jadikan untuk setiap nabi musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi Petunjuk dan Penolong.” (QS. Al-Furqan:31).
Wahai saudariku, ukhti Muslimah. Berbekallah dengan ilmu agama dari Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam. Usahakan agar dapat menghafal Kitabullah atau semampumu yang dapat anda hafalkan. Belajarlah rukun-rukun Iman, rukun-rukun Islam, dan Ihsan. Praktekkanlah semua itu dalam kehidupan nyata anda. Jadilah anda –semoga Allah memberi taufik kepada anda untuk apa yang dicintai dan diridhai Nya- suri tauladan yang baik untuk keluarga dan saudari-saudari anda, yang lain, yang muslimah.
Dan berhati-hatilah dari pengaruh kebatilan syaitan dari kalangan manusia dan jin, yang sudah dimake up sedemikian rupa oleh mereka, karena mereka sangat berbahaya. Pencipta Anda dan Pencipta alam semesta ini telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan dari (jenis) manusia dan (jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. Al-An’am: 112).
“Dan demikian juga, telah Kami jadikan untuk setiap nabi musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi Petunjuk dan Penolong.” (QS. Al-Furqan:31).
Wahai saudariku, ukhti Muslimah. Berbekallah dengan ilmu agama dari Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam. Usahakan agar dapat menghafal Kitabullah atau semampumu yang dapat anda hafalkan. Belajarlah rukun-rukun Iman, rukun-rukun Islam, dan Ihsan. Praktekkanlah semua itu dalam kehidupan nyata anda. Jadilah anda –semoga Allah memberi taufik kepada anda untuk apa yang dicintai dan diridhai Nya- suri tauladan yang baik untuk keluarga dan saudari-saudari anda, yang lain, yang muslimah.
..Wahai saudariku, ukhti Muslimah. Berbekallah dengan ilmu agama dari Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunah Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wasallam.Usahakan agar dapat menghafal Kitabullah atau semampumu yang dapat anda hafalkan...
Wahai saudariku, ukhti Muslimah. Belajar dan laksanakanlah hadits berikut ini; Dari Umar bin Khattab radhiyallah 'anhu berkata: “Ketika kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada suatu hari tiba-tiba datang seorang laki-laki berpakaian putih sekali dan rambut hitam pekat, tidak tampak padanya bekas perjalanan jauh dan tak seorang pun di antara kita yang mengenalnya, sampai duduk dekat beliau kemudian menyandarkan kedua dengkulnya dengan dengkul beliau dan berkata: ‘Hai Muhammad, beritahu aku tentang Islam!’
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: ‘Islam adalah agar engkau bersaksi bahwa tiada tuhan (yang paling berhak disembah) selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan agar engkau menunaikan haji ke Baitullah jika engkau mampu melaksanakan perjalanan kesana.’
Ia berkata: ‘engkau benar.’
Kami semua heran kepadanya karena dia bertannaya pada beliau dan membenarkannya.
Kemudian ia bertannya: ’Beritahu aku tentang Iman’.
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: ’Agar engkau beriman kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari Kemudian, dan agar engkau beriman kepada Qadar yang baik dan yang buruk.’
Ia berkata: ‘engkau benar’
Kemudian ia bertanya lagi : ’Beritahu aku tentang Ihsan!’
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: ‘Agar engkau beribadah kepada Allah seakan –akan engkau melihat Nya, jika engkau tidak melihat Nya sesungguhnya Dia melihat engkau.’
Tanyanya lagi: ‘Beritahu aku tentang Kiamat.’
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: ‘Yang ditanya tidak lebih tahu tentangnya daripada yang menanya.”
Tanyanya lagi: ‘Beritahu aku rentang tanda-tanda nya (Kiamat).’
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: ‘Seorang budak perempuan melahirkan majikannya, dan engkau lihat orang-orang bangkit tanpa sandal dan tanpa pakaian dan tanpa khitan, para penggembala kambing membangun gedung-gedung pencakar langit.’
Kemudian orang tersebut pergi dan saya diam lama sekali, lalu beliau bertanya: ’Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya tadi?’
Aku jawab: ‘Allah dan Rasul Nya lebih tahu’.
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: ‘Dia adalah Jibril telah datang padamu untuk agamamu kepadamu.” (Riwayat Muslim).
Wahai saudariku, ukhti Muslimah. Hayatilah ayat-ayat berikut ini. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: ‘Islam adalah agar engkau bersaksi bahwa tiada tuhan (yang paling berhak disembah) selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadan, dan agar engkau menunaikan haji ke Baitullah jika engkau mampu melaksanakan perjalanan kesana.’
Ia berkata: ‘engkau benar.’
Kami semua heran kepadanya karena dia bertannaya pada beliau dan membenarkannya.
Kemudian ia bertannya: ’Beritahu aku tentang Iman’.
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: ’Agar engkau beriman kepada Allah, Malaikat-malaikatNya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari Kemudian, dan agar engkau beriman kepada Qadar yang baik dan yang buruk.’
Ia berkata: ‘engkau benar’
Kemudian ia bertanya lagi : ’Beritahu aku tentang Ihsan!’
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: ‘Agar engkau beribadah kepada Allah seakan –akan engkau melihat Nya, jika engkau tidak melihat Nya sesungguhnya Dia melihat engkau.’
Tanyanya lagi: ‘Beritahu aku tentang Kiamat.’
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: ‘Yang ditanya tidak lebih tahu tentangnya daripada yang menanya.”
Tanyanya lagi: ‘Beritahu aku rentang tanda-tanda nya (Kiamat).’
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: ‘Seorang budak perempuan melahirkan majikannya, dan engkau lihat orang-orang bangkit tanpa sandal dan tanpa pakaian dan tanpa khitan, para penggembala kambing membangun gedung-gedung pencakar langit.’
Kemudian orang tersebut pergi dan saya diam lama sekali, lalu beliau bertanya: ’Wahai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya tadi?’
Aku jawab: ‘Allah dan Rasul Nya lebih tahu’.
Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: ‘Dia adalah Jibril telah datang padamu untuk agamamu kepadamu.” (Riwayat Muslim).
Wahai saudariku, ukhti Muslimah. Hayatilah ayat-ayat berikut ini. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ أَنِّي لَا أُضِيعُ عَمَلَ عَامِلٍ مِنْكُمْ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى بَعْضُكُمْ مِنْ بَعْضٍ
"Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonan mereka(dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah sebagian turunan yang lain.” (QS. Ali Imran:195).
وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي صَدَقَنَا وَعْدَهُ وَأَوْرَثَنَا الْأَرْضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَاءُ فَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ
“Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! Maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya". Dan mereka mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada Kami dan telah (memberi) kepada Kami tempat ini sedang Kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang Kami kehendaki; Maka surga Itulah Sebaik-baik Balasan bagi orang-orang yang beramal.” (QS. Az-Zumar:73-74). [PurWD/voa-islam.com]
22 Mei 2010
Untuk Renungan Bersama.
Kita selalu Bertanya... tapi Al-Quran Sudah
Menjawabnya....
KITA BERTANYA : KENAPA AKU DIUJI?
AL-QURAN MENJAWAB
"Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan
saja mengatakan; "Kami telah beriman," sedangkan
mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah
menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka
sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar
dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang
dusta."
Surah Al-Ankabut ayat 2-3
KITA BERTANYA : KENAPA AKU TIDAK DAPAT APA YANG AKU
IDAM-IDAMKAN?
AL-QURAN MENJAWAB
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik
bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu,
padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang
kamu tidak mengetahui."
Surah Al-Baqarah ayat 216
KITA BERTANYA : KENAPA UJIAN SEBERAT INI?
AL-QURAN MENJAWAB
"Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai
dengan kesanggupannya."
Surah Al-Baqarah ayat 286
KITA BERTANYA : KENAPA RASA KECEWA?
AL-QURAN MENJAWAB
"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula
kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang
paling tinggi darjatnya, jika kamu orang-orang yang
beriman."
Surah Al-Imran ayat 139
KITA BERTANYA : BAGAIMANA HARUS AKU MENGHADAPINYA?
AL-QURAN MENJAWAB
"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu
(menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan
perkara-perkara yang berkebajikan), dan kuatkanlah
kesabaran kamu lebih daripada kesabaran musuh, di
medan perjuangan), dan bersedialah (dengan kekuatan
pertahanan di daerah-daerah sempadan) serta
bertaqwalah kamu kepada Allah, supaya kamu berjaya
(mencapai kemenangan)."
KITA BERTANYA : BAGAIMANA HARUS AKU MENGHADAPINYA?
AL-QURAN MENJAWAB
"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan
sabar dan mengerjakan sembahyang; dan sesungguhnya
sembahyang itu amatlah berat kecuali kepada
orang-orang yang khusyuk"
Surah Al-Baqarah ayat 45
KITA BERTANYA : APA YANG AKU DAPAT DARIPADA SEMUA INI?
AL-QURAN MENJAWAB
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang
mukmin, diri, harta mereka dengan memberikan syurga
untuk mereka...... "
Surah At-Taubah ayat 111
KITA SELALU BERTANYA : KEPADA SIAPA AKU BOLEH
BERHARAP?
AL-QURAN MENJAWAB
"Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain
dariNya. Hanya kepadaNya aku bertawakkal."
Surah At-Taubah ayat 129
KITA BERKATA : AKU TIDAK TAHAN!!
AL-QURAN MENJAWAB
"... ..dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat
Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat
Allah melainkan kaum yang kafir."
Surah Yusuf ayat 12
Menjawabnya....
KITA BERTANYA : KENAPA AKU DIUJI?
AL-QURAN MENJAWAB
"Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan
saja mengatakan; "Kami telah beriman," sedangkan
mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah
menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka
sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar
dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang
dusta."
Surah Al-Ankabut ayat 2-3
KITA BERTANYA : KENAPA AKU TIDAK DAPAT APA YANG AKU
IDAM-IDAMKAN?
AL-QURAN MENJAWAB
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik
bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu,
padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang
kamu tidak mengetahui."
Surah Al-Baqarah ayat 216
KITA BERTANYA : KENAPA UJIAN SEBERAT INI?
AL-QURAN MENJAWAB
"Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai
dengan kesanggupannya."
Surah Al-Baqarah ayat 286
KITA BERTANYA : KENAPA RASA KECEWA?
AL-QURAN MENJAWAB
"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula
kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang
paling tinggi darjatnya, jika kamu orang-orang yang
beriman."
Surah Al-Imran ayat 139
KITA BERTANYA : BAGAIMANA HARUS AKU MENGHADAPINYA?
AL-QURAN MENJAWAB
"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu
(menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan
perkara-perkara yang berkebajikan), dan kuatkanlah
kesabaran kamu lebih daripada kesabaran musuh, di
medan perjuangan), dan bersedialah (dengan kekuatan
pertahanan di daerah-daerah sempadan) serta
bertaqwalah kamu kepada Allah, supaya kamu berjaya
(mencapai kemenangan)."
KITA BERTANYA : BAGAIMANA HARUS AKU MENGHADAPINYA?
AL-QURAN MENJAWAB
"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan
sabar dan mengerjakan sembahyang; dan sesungguhnya
sembahyang itu amatlah berat kecuali kepada
orang-orang yang khusyuk"
Surah Al-Baqarah ayat 45
KITA BERTANYA : APA YANG AKU DAPAT DARIPADA SEMUA INI?
AL-QURAN MENJAWAB
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang
mukmin, diri, harta mereka dengan memberikan syurga
untuk mereka...... "
Surah At-Taubah ayat 111
KITA SELALU BERTANYA : KEPADA SIAPA AKU BOLEH
BERHARAP?
AL-QURAN MENJAWAB
"Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain
dariNya. Hanya kepadaNya aku bertawakkal."
Surah At-Taubah ayat 129
KITA BERKATA : AKU TIDAK TAHAN!!
AL-QURAN MENJAWAB
"... ..dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat
Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat
Allah melainkan kaum yang kafir."
Surah Yusuf ayat 12
19 Mei 2010
Renungan malam:"Muhasabahku
Al-Imam Al-Hasan Al-Bashri Rahimahullah berkata:
Sesungguhnya seorang mukmin adalah penanggung jawab atas dirinya karenanya hendaknya ia senantiasa mengintrospeksi diri karena Alloh subhanahu wa ta’ala semata. Adalah hisab, perhitungan amal di yaumil qiyamah nanti akan terasa lebih ringan bagi suatu kaum yang terbiasa mengintrospeksi diri mereka selama masih di dunia dan sungguh hisab tersebut akan menjadi perkara yang sangat memberatkan bagi kaum yang menjadikan masalah ini sebagai sesuatu yang tidak diperhitungkan.
Sesungguhnya seorang mukmin apabila dikejutkan oleh sesuatu yang dikaguminya maka ia pun berbisik: Demi Alloh sesungguhnya aku benar-benar sangat menginginkanmu dan sungguh kamulah yang sangat aku butuhkan, akan tetapi demi Alloh tiada alasan syar’i yang dapat menyampaikanku kepadamu maka menjauhlah dariku sejauh-jauhnya ada yang menghalangi antara aku denganmu. Dan jika tanpa sengaja ia melakukan sesuatu yang melampaui batas, segera ia kembalikan kepada dirinya sendiri sembari berucap: apa yang aku maukan dengan ini semua? ada apa denganku dan dengan ini? Demi Alloh tidak ada udzur bagiku untuk melakukannya, dan demi Alloh aku tidak akan mengulangi lagi selama-lamanya, insya’ Alloh.
Seseungguhnya seorang mukmin adalah yang berpegang kepada Alqur’an dan memaksa amalan-amalannya agar sesuai dengan Alqur’an serta berpaling dari hal-hal yang dapat membinasakan diri mereka.
Sesungguhnya seorang mukmin didunia ini bagaikan tawanan yang selalu berusaha utnuk terlepas dari perbudakan. Dia tidak pernah merasa aman dari sesuatupun hingga dia melihat Alloh karena dia mengetahui bahwa dirinya akan dimintai pertanggung jawabana atas semua itu.
Seorang hamba akan senantiasa dalam kebaikan selama ia memiliki penasihat dari dalam dirinya sendiri dan mengintrospeksi diri merupakan perkara yang paling diutamakan.
(Dikutip dari Mawa’izh Lil Imam Al-Hasan Al-Bashri hal. 39, 40, dan 41 )
Sesungguhnya seorang mukmin adalah penanggung jawab atas dirinya karenanya hendaknya ia senantiasa mengintrospeksi diri karena Alloh subhanahu wa ta’ala semata. Adalah hisab, perhitungan amal di yaumil qiyamah nanti akan terasa lebih ringan bagi suatu kaum yang terbiasa mengintrospeksi diri mereka selama masih di dunia dan sungguh hisab tersebut akan menjadi perkara yang sangat memberatkan bagi kaum yang menjadikan masalah ini sebagai sesuatu yang tidak diperhitungkan.
Sesungguhnya seorang mukmin apabila dikejutkan oleh sesuatu yang dikaguminya maka ia pun berbisik: Demi Alloh sesungguhnya aku benar-benar sangat menginginkanmu dan sungguh kamulah yang sangat aku butuhkan, akan tetapi demi Alloh tiada alasan syar’i yang dapat menyampaikanku kepadamu maka menjauhlah dariku sejauh-jauhnya ada yang menghalangi antara aku denganmu. Dan jika tanpa sengaja ia melakukan sesuatu yang melampaui batas, segera ia kembalikan kepada dirinya sendiri sembari berucap: apa yang aku maukan dengan ini semua? ada apa denganku dan dengan ini? Demi Alloh tidak ada udzur bagiku untuk melakukannya, dan demi Alloh aku tidak akan mengulangi lagi selama-lamanya, insya’ Alloh.
Seseungguhnya seorang mukmin adalah yang berpegang kepada Alqur’an dan memaksa amalan-amalannya agar sesuai dengan Alqur’an serta berpaling dari hal-hal yang dapat membinasakan diri mereka.
Sesungguhnya seorang mukmin didunia ini bagaikan tawanan yang selalu berusaha utnuk terlepas dari perbudakan. Dia tidak pernah merasa aman dari sesuatupun hingga dia melihat Alloh karena dia mengetahui bahwa dirinya akan dimintai pertanggung jawabana atas semua itu.
Seorang hamba akan senantiasa dalam kebaikan selama ia memiliki penasihat dari dalam dirinya sendiri dan mengintrospeksi diri merupakan perkara yang paling diutamakan.
(Dikutip dari Mawa’izh Lil Imam Al-Hasan Al-Bashri hal. 39, 40, dan 41 )
17 Mei 2010
HUKUM POLIGAMI
بسم الله الرحمن الرحيم
Hukum Poligami
Syaikh Abdul Aziz bin Baz –rahimahullah-
Pertanyaan: Apakah hukum asal dalam perkawinan itu poligami atau monogami?
Jawaban: Hukum asal perkawinan itu adalah poligami (menikah lebih dari satu istri) bagi lelaki yang mampu dan tidak ada kekhawatiran akan terjerumus dalam perbuatan zhalim.
Yang demikian itu dibolehkan karena mengandung banyak maslahat di dalam memelihara kesucian kehormatan, kesucian kehormatan wanita-wanita yang dinikahi itu sendiri dan berbuat ihsan kepada mereka, memperbanyak keturunan yang dengannya ummat Islam akan menjadi banyak dan makin banyak pula orang yang menyembah Allah swt semata. Dalil poligami ini adalah firman Allah swt:
وَإِنْ خِفْتُمْ أّلاَّتُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانكِحُوا مَاطَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَآءِ مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّتَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَامَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّتَعُولُوا
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS. an-Nisaa`:3)
Rasulullah saw pun mengawini lebih dari satu istri, dan Allah swt berfirman:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. al-Ahzaab:21)
Rasulullah saw pun bersabda setelah ada beberapa orang sahabat yang mengatakan: “Aku akan selalu shalat malam dan tidak akan tidur.” Yang satu lagi berkata: “Aku akan terus berpuasa dan tidak akan berbuka.” Yang satu lagi berkata: “Aku tidak akan mengawini wanita.”
Tatkala ucapan itu sampai kepada Nabi saw, beliau langsung berpidato di hadapan para sahabatnya, seraya memuji Allah swt, kemudian beliau bersabda:
أَنْتُمُ الَّذِي قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا, أَمَّا وَاللهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ بِاللهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُوْمُ وَأُفْطِرُ, وَأُصَلِّى وَأَنَامُ, وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءِ, فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي.
“Kaliankah tadi yang mengatakan “begini dan begitu?” Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah swt di antara kalian dan paling bertaqwa kepada-Nya. Sekali pun begitu, aku berpuasa dan aku pun berbuka. Aku shalat malam tapi aku pun tidur, dan aku mengawini wanita. Barangsiapa yang tidak suka kepada sunnahku, maka ia bukan dari (umat)ku.”
Ini adalah ungkapan luar biasa dari Rasulullah saw mencakup satu istri dan lebih.
Majalah al-Balagh, edisi 1015, tanggal 19/3/1410 H. Fatwa Ibnu Baz.
Poligami itu sunnah
Pertanyaan: Apakah berpoligami itu sunnah di dalam Islam atau mubah?
Jawaban: Berpoligami itu sunnah bagi yang mampu, berdasarkan firman-Nya:
وَإِنْ خِفْتُمْ أّلاَّتُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانكِحُوا مَاطَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَآءِ مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّتَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَامَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّتَعُولُوا
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS. an-Nisaa`:3)
Dan praktek Rasulullah saw itu sendiri, di mana beliau mengawini 9 wanita dan dengan mereka Allah swt memberikan manfaat besar bagi ummat ini. Yang demikian itu (9 istri) adalah khusus bagi beliau, sedang selain beliau dibolehkan berpoligami tidak lebih dari 4 istri.
Berpoligami itu mengandung banyak maslahat yang sangat besar bagi kaum laki-laki, kaum wanita dan Ummat Islam secara keseluruhan. Sebab, dengan berpoligami dapat dicapai oleh semua pihak tunduknya pandangan (Ghadhdhul bashar), terpeliharanya kehormatan, keturunan yang banyak, lelaki dapat berbuat banyak untuk kemaslahatan dan kebaikan para istri dan melindungi mereka dari berbagai faktor penyebab keburukan dan penyimpangan.
Tetapi orang yang tidak mampu berpoligami dan takut kalau tidak dapat berlaku adil, maka hendaknya cukup kawin dengan satu istri saja, karena Allah swt berfirman:
فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّتَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً
. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, (QS. an-Nisaa`:3)
Semoga Allah swt memberi taufik kepada segenap kaum muslimin menuju sesuatu yang menjadi kemaslahatan dan keselamatan bagi mereka di dunia dan akhirat.
Majalah al-Balagh, edisi 1028. fatwa Ibnu Baz.
Hukum Poligami
Syaikh Abdul Aziz bin Baz –rahimahullah-
Pertanyaan: Apakah hukum asal dalam perkawinan itu poligami atau monogami?
Jawaban: Hukum asal perkawinan itu adalah poligami (menikah lebih dari satu istri) bagi lelaki yang mampu dan tidak ada kekhawatiran akan terjerumus dalam perbuatan zhalim.
Yang demikian itu dibolehkan karena mengandung banyak maslahat di dalam memelihara kesucian kehormatan, kesucian kehormatan wanita-wanita yang dinikahi itu sendiri dan berbuat ihsan kepada mereka, memperbanyak keturunan yang dengannya ummat Islam akan menjadi banyak dan makin banyak pula orang yang menyembah Allah swt semata. Dalil poligami ini adalah firman Allah swt:
وَإِنْ خِفْتُمْ أّلاَّتُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانكِحُوا مَاطَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَآءِ مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّتَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَامَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّتَعُولُوا
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS. an-Nisaa`:3)
Rasulullah saw pun mengawini lebih dari satu istri, dan Allah swt berfirman:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. al-Ahzaab:21)
Rasulullah saw pun bersabda setelah ada beberapa orang sahabat yang mengatakan: “Aku akan selalu shalat malam dan tidak akan tidur.” Yang satu lagi berkata: “Aku akan terus berpuasa dan tidak akan berbuka.” Yang satu lagi berkata: “Aku tidak akan mengawini wanita.”
Tatkala ucapan itu sampai kepada Nabi saw, beliau langsung berpidato di hadapan para sahabatnya, seraya memuji Allah swt, kemudian beliau bersabda:
أَنْتُمُ الَّذِي قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا, أَمَّا وَاللهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ بِاللهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ لَكِنِّي أَصُوْمُ وَأُفْطِرُ, وَأُصَلِّى وَأَنَامُ, وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءِ, فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي.
“Kaliankah tadi yang mengatakan “begini dan begitu?” Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut kepada Allah swt di antara kalian dan paling bertaqwa kepada-Nya. Sekali pun begitu, aku berpuasa dan aku pun berbuka. Aku shalat malam tapi aku pun tidur, dan aku mengawini wanita. Barangsiapa yang tidak suka kepada sunnahku, maka ia bukan dari (umat)ku.”
Ini adalah ungkapan luar biasa dari Rasulullah saw mencakup satu istri dan lebih.
Majalah al-Balagh, edisi 1015, tanggal 19/3/1410 H. Fatwa Ibnu Baz.
Poligami itu sunnah
Pertanyaan: Apakah berpoligami itu sunnah di dalam Islam atau mubah?
Jawaban: Berpoligami itu sunnah bagi yang mampu, berdasarkan firman-Nya:
وَإِنْ خِفْتُمْ أّلاَّتُقْسِطُوا فِي الْيَتَامَى فَانكِحُوا مَاطَابَ لَكُم مِّنَ النِّسَآءِ مَثْنَى وَثُلاَثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّتَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَامَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّتَعُولُوا
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. (QS. an-Nisaa`:3)
Dan praktek Rasulullah saw itu sendiri, di mana beliau mengawini 9 wanita dan dengan mereka Allah swt memberikan manfaat besar bagi ummat ini. Yang demikian itu (9 istri) adalah khusus bagi beliau, sedang selain beliau dibolehkan berpoligami tidak lebih dari 4 istri.
Berpoligami itu mengandung banyak maslahat yang sangat besar bagi kaum laki-laki, kaum wanita dan Ummat Islam secara keseluruhan. Sebab, dengan berpoligami dapat dicapai oleh semua pihak tunduknya pandangan (Ghadhdhul bashar), terpeliharanya kehormatan, keturunan yang banyak, lelaki dapat berbuat banyak untuk kemaslahatan dan kebaikan para istri dan melindungi mereka dari berbagai faktor penyebab keburukan dan penyimpangan.
Tetapi orang yang tidak mampu berpoligami dan takut kalau tidak dapat berlaku adil, maka hendaknya cukup kawin dengan satu istri saja, karena Allah swt berfirman:
فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّتَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً
. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, (QS. an-Nisaa`:3)
Semoga Allah swt memberi taufik kepada segenap kaum muslimin menuju sesuatu yang menjadi kemaslahatan dan keselamatan bagi mereka di dunia dan akhirat.
Majalah al-Balagh, edisi 1028. fatwa Ibnu Baz.
16 Mei 2010
Kata Mutiara Islami tentang Cinta
Kata cinta, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, merupakan wakil dari perasaan kasih, sayang, atau rindu yang sangat dalam. Namun dalam konteks atau kadar kalimat tertentu, ia bisa juga mewakili perasaan sedih.
Cinta adalah salah satu sumber kekuatan unik dalam diri manusia. Ia menjadi tenaga penggerak hati dan jiwa yang akan menghasilkan sikap, perbuatan dan perilaku. Cinta bisa seperti yang terurai dalam sebait sajak dari film laris indonesia, Ketika Cinta Bertasbih:
Cinta adalah kekuatan yg mampu
mengubah duri jadi mawar
mengubah cuka jadi anggur
mengubah sedih jadi riang
mengubah amarah jadi ramah
mengubah musibah jadi muhibah.
Namun demikian, cinta pun bisa menghasilkan perubahan yang sebaliknya: mengubah mawar menjadi duri, dan seterusnya.
Hal yang demikian bisa terjadi karena cinta bersemayam di dalam hati yang bersifat labil. Seperti sabda Rasulullah saw. hati itu bersifat gampang terbolak-balik bagaikan bulu yang terombang-ambing oleh angin yang berputar-putar. Sebagaimana amal-amal dan perilaku kita yang senantiasa bersumber dari niat dan motivasi di dalam hati, maka cinta pun bisa mewujud dengan dasar niat yang beraneka rupa. Ada cinta yang tulus, penuh kerelaan. Namun ada pula cinta yang penuh duri dan racun. Ada cinta yang merupakan buah keimanan dan ketaqwaan. Namun ada pula cinta yang berlandaskan nafsu hina.
Bagi seorang muslim dan beriman, cnta terbesar dan cinta hakiki ialah cinta kepada Allah. Bentuk cinta dapat kita wujudkan dalam berbagai rupa tanpa batas ruang dan waktu dan kepada siapa atau apa saja asalkan semuanya bersumber dari kecintaan kita kepada Allah dan karena menggapai ridha-Nya.
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. (Al-Baqarah: 165)
Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (ikutilah Muhammad saw.), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. (Ali Imran: 31)
“Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. At Tirmidzi)
Kata-kata mutiara tentang cinta
Agar cinta tidak menjerumuskan kita ke dalam lubang kehinaan, ada baiknya kita mengambil hikmah dari sumber-sumber islam dan perkataan para ulama berikut ini.
Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah oleh karena embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.
Hamka
Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat.
Hamka
Tanda cinta kepada Allah adalah banyak mengingat (menyebut) Nya, karena tidaklah engkau menyukai sesuatu kecuali engkau akan banyak mengingatnya.
Ar Rabi’ bin Anas (Jami’ al ulum wal Hikam, Ibnu Rajab)
Aku tertawa (heran) kepada orang yang mengejar-ngejar (cinta) dunia padahal kematian terus mengincarnya, dan kepada orang yang melalaikan kematian padahal maut tak pernah lalai terhadapnya, dan kepada orang yang tertawa lebar sepenuh mulutnya padahal tidak tahu apakah Tuhannya ridha atau murka terhadapnya.
Salman al Farisi (Az Zuhd, Imam Ahmad)
Sesungguhnya apabila badan sakit maka makan dan minum sulit untuk tertelan, istirahat dan tidur juga tidak nyaman. Demikian pula hati apabila telah terbelenggu dengan cinta dunia maka nasehat susah untuk memasukinya.
Malik bin Dinar (Hilyatul Auliyaa’)
Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi kekasihmu.
Ali bin Abi Thalib
Engkau berbuat durhaka kepada Allah, padahal engkau mengaku cinta kepada-Nya? Sungguh aneh keadaan seperti ini. Andai kecintaanmu itu tulus, tentu engkau akan taat kepada-Nya. Karena sesungguhnya, orang yang mencintai itu tentu selalu taat kepada yang ia cintai.
A’idh Al-Qorni
Demikianlah beberapa kutipan dari sedikit tokoh-tokoh islam yang semoga bisa kita ambil hikmahnya. Semoga Allah memudahkan saya untuk menambah koleksi ini dan memberikan manfaat kepada pembacanya.
(DITULIS OLEH ALHABIB)
Cinta adalah salah satu sumber kekuatan unik dalam diri manusia. Ia menjadi tenaga penggerak hati dan jiwa yang akan menghasilkan sikap, perbuatan dan perilaku. Cinta bisa seperti yang terurai dalam sebait sajak dari film laris indonesia, Ketika Cinta Bertasbih:
Cinta adalah kekuatan yg mampu
mengubah duri jadi mawar
mengubah cuka jadi anggur
mengubah sedih jadi riang
mengubah amarah jadi ramah
mengubah musibah jadi muhibah.
Namun demikian, cinta pun bisa menghasilkan perubahan yang sebaliknya: mengubah mawar menjadi duri, dan seterusnya.
Hal yang demikian bisa terjadi karena cinta bersemayam di dalam hati yang bersifat labil. Seperti sabda Rasulullah saw. hati itu bersifat gampang terbolak-balik bagaikan bulu yang terombang-ambing oleh angin yang berputar-putar. Sebagaimana amal-amal dan perilaku kita yang senantiasa bersumber dari niat dan motivasi di dalam hati, maka cinta pun bisa mewujud dengan dasar niat yang beraneka rupa. Ada cinta yang tulus, penuh kerelaan. Namun ada pula cinta yang penuh duri dan racun. Ada cinta yang merupakan buah keimanan dan ketaqwaan. Namun ada pula cinta yang berlandaskan nafsu hina.
Bagi seorang muslim dan beriman, cnta terbesar dan cinta hakiki ialah cinta kepada Allah. Bentuk cinta dapat kita wujudkan dalam berbagai rupa tanpa batas ruang dan waktu dan kepada siapa atau apa saja asalkan semuanya bersumber dari kecintaan kita kepada Allah dan karena menggapai ridha-Nya.
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. (Al-Baqarah: 165)
Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (ikutilah Muhammad saw.), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. (Ali Imran: 31)
“Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. At Tirmidzi)
Kata-kata mutiara tentang cinta
Agar cinta tidak menjerumuskan kita ke dalam lubang kehinaan, ada baiknya kita mengambil hikmah dari sumber-sumber islam dan perkataan para ulama berikut ini.
Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setetes embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah oleh karena embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.
Hamka
Cinta bukan mengajar kita lemah, tetapi membangkitkan kekuatan. Cinta bukan mengajar kita menghinakan diri, tetapi menghembuskan kegagahan. Cinta bukan melemahkan semangat, tetapi membangkitkan semangat.
Hamka
Tanda cinta kepada Allah adalah banyak mengingat (menyebut) Nya, karena tidaklah engkau menyukai sesuatu kecuali engkau akan banyak mengingatnya.
Ar Rabi’ bin Anas (Jami’ al ulum wal Hikam, Ibnu Rajab)
Aku tertawa (heran) kepada orang yang mengejar-ngejar (cinta) dunia padahal kematian terus mengincarnya, dan kepada orang yang melalaikan kematian padahal maut tak pernah lalai terhadapnya, dan kepada orang yang tertawa lebar sepenuh mulutnya padahal tidak tahu apakah Tuhannya ridha atau murka terhadapnya.
Salman al Farisi (Az Zuhd, Imam Ahmad)
Sesungguhnya apabila badan sakit maka makan dan minum sulit untuk tertelan, istirahat dan tidur juga tidak nyaman. Demikian pula hati apabila telah terbelenggu dengan cinta dunia maka nasehat susah untuk memasukinya.
Malik bin Dinar (Hilyatul Auliyaa’)
Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi kekasihmu.
Ali bin Abi Thalib
Engkau berbuat durhaka kepada Allah, padahal engkau mengaku cinta kepada-Nya? Sungguh aneh keadaan seperti ini. Andai kecintaanmu itu tulus, tentu engkau akan taat kepada-Nya. Karena sesungguhnya, orang yang mencintai itu tentu selalu taat kepada yang ia cintai.
A’idh Al-Qorni
Demikianlah beberapa kutipan dari sedikit tokoh-tokoh islam yang semoga bisa kita ambil hikmahnya. Semoga Allah memudahkan saya untuk menambah koleksi ini dan memberikan manfaat kepada pembacanya.
(DITULIS OLEH ALHABIB)
Mengapa membaca al Qur’an ketika kita tak mengerti artinya?
Ditulis oleh alhabib Pada May - 11 - 2010.
Baru saja saya membaca sebuah tulisan pada secarik kertas yang tertempel pada dinding kantor teman saya. Sebuah tulisan tua dari internet. Mungkin sebagian pengunjung sudah pernah membacanya, namun merupakan temuan baru bagi saya. Judulnya adalah: Why do we read quran, even when we do not understand even a single arabic word? Sebuah tulisan indah yang amat menyentuh hati yang saya coba terjemahkan dengan judul di atas: Mengapa membaca al Qur’an ketika kita tak mengerti artinya?
Alkisah, hiduplah seorang muslim tua bersama seorang cucunya di sebuah pegunungan di bagian timur Kentucky, Amerika. Sang kakek biasa membaca Qur’an selepas sholat shubuh setiap hari. Sang cucu berusaha meniru setiap tingkah laku kakeknya.
Suatu hari, ia bertanya: “Kek! Aku berusaha membaca Qur’an seperti dirimu tetapi aku tidak mengerti isinya. Jikapun ada sedikit yang kupahami, ia akan terlupakan setiap kali aku menutup kitab itu. Lalu, apa gunanya aku membacanya?”
Dengan perlahan sang kakek membalikkan badan dan berhenti dari memasukkan batu bara ke dalam tungku pemasak. Ia menjawab: “Ambillah keranjang ini, bawalah ke sungai di bawah sana dan bawakan untukku sekeranjang air!”
Sang cucu membawa keranjang hitam penuh jelaga batu bara tersebut ke sungai dan mengambil air. Namun air itu telah habis menetes sebelum sampai ke rumah. Sang kakek tertawa dan meminta sang cucu agar mencobanya sekali lagi: “Mungkin engkau harus lebih cepat membawa airnya kemari.”
Sang cucu berusaha berlari, namun tetap saja air itu lebih cepat keluar dari keranjang sebelum sampai ke rumah. Dengan terengah-engah ia pun mengatakan kepada sang kakek bahwa tidak mungkin mengambil air dengan keranjang. Sebagai gantinya ia akan mengambil air dengan ember.
“Aku tidak perlu satu ember air, yang kuinginkan adalah sekeranjang air!” jawab sang kakek. “Kau saja yang kurang berusaha lebih keras,” timpal sang kakek sambil menyuruhnya mengambil air sekali lagi. Sang kakek pun pergi ke luar rumah untuk melihat usaha sang cucu.
Kali ini sang cucu sangat yakin bahwa tidak mungkin membawa air menggunakan keranjang. Namun ia berusaha memperlihatkan kepada sang kakek bahwa secepat apapun ia berlari, air itu akan habis keluar dari keranjang sebelum ia sampai ke rumah. Kejadian yang sama berulang. Sang cucu sampai kepada kakeknya dengan keranjang kosong. “Lihatlah Kek! Tidak ada gunanya membawa air dengan keranjang.” katanya.
“Jadi, kau pikir tidak ada gunanya?”, sang kakek balik bertanya. “Lihatlah keranjang itu!” pinta sang kakek.
Ketika sang cucu memperhatikan keranjang itu sadarlah ia bahwa kini keranjang hitam itu telah bersih dari jelaga, baik bagian luar maupun dalamnya, dan terlihat seperti keranjang baru.
“Cucuku, demikianlah yang terjadi ketika engkau membaca al Qur’an. Engkau mungkin tidak mengerti atau tidak bisa mengingat apa yang engkau baca darinya. Namun ketika engkau membacanya, engkau akan dibersihkan dan mengalami perubahan, luar maupun dalam. Itulah kekuasaan dan nikmat Allah kepada kita!”
Baru saja saya membaca sebuah tulisan pada secarik kertas yang tertempel pada dinding kantor teman saya. Sebuah tulisan tua dari internet. Mungkin sebagian pengunjung sudah pernah membacanya, namun merupakan temuan baru bagi saya. Judulnya adalah: Why do we read quran, even when we do not understand even a single arabic word? Sebuah tulisan indah yang amat menyentuh hati yang saya coba terjemahkan dengan judul di atas: Mengapa membaca al Qur’an ketika kita tak mengerti artinya?
Alkisah, hiduplah seorang muslim tua bersama seorang cucunya di sebuah pegunungan di bagian timur Kentucky, Amerika. Sang kakek biasa membaca Qur’an selepas sholat shubuh setiap hari. Sang cucu berusaha meniru setiap tingkah laku kakeknya.
Suatu hari, ia bertanya: “Kek! Aku berusaha membaca Qur’an seperti dirimu tetapi aku tidak mengerti isinya. Jikapun ada sedikit yang kupahami, ia akan terlupakan setiap kali aku menutup kitab itu. Lalu, apa gunanya aku membacanya?”
Dengan perlahan sang kakek membalikkan badan dan berhenti dari memasukkan batu bara ke dalam tungku pemasak. Ia menjawab: “Ambillah keranjang ini, bawalah ke sungai di bawah sana dan bawakan untukku sekeranjang air!”
Sang cucu membawa keranjang hitam penuh jelaga batu bara tersebut ke sungai dan mengambil air. Namun air itu telah habis menetes sebelum sampai ke rumah. Sang kakek tertawa dan meminta sang cucu agar mencobanya sekali lagi: “Mungkin engkau harus lebih cepat membawa airnya kemari.”
Sang cucu berusaha berlari, namun tetap saja air itu lebih cepat keluar dari keranjang sebelum sampai ke rumah. Dengan terengah-engah ia pun mengatakan kepada sang kakek bahwa tidak mungkin mengambil air dengan keranjang. Sebagai gantinya ia akan mengambil air dengan ember.
“Aku tidak perlu satu ember air, yang kuinginkan adalah sekeranjang air!” jawab sang kakek. “Kau saja yang kurang berusaha lebih keras,” timpal sang kakek sambil menyuruhnya mengambil air sekali lagi. Sang kakek pun pergi ke luar rumah untuk melihat usaha sang cucu.
Kali ini sang cucu sangat yakin bahwa tidak mungkin membawa air menggunakan keranjang. Namun ia berusaha memperlihatkan kepada sang kakek bahwa secepat apapun ia berlari, air itu akan habis keluar dari keranjang sebelum ia sampai ke rumah. Kejadian yang sama berulang. Sang cucu sampai kepada kakeknya dengan keranjang kosong. “Lihatlah Kek! Tidak ada gunanya membawa air dengan keranjang.” katanya.
“Jadi, kau pikir tidak ada gunanya?”, sang kakek balik bertanya. “Lihatlah keranjang itu!” pinta sang kakek.
Ketika sang cucu memperhatikan keranjang itu sadarlah ia bahwa kini keranjang hitam itu telah bersih dari jelaga, baik bagian luar maupun dalamnya, dan terlihat seperti keranjang baru.
“Cucuku, demikianlah yang terjadi ketika engkau membaca al Qur’an. Engkau mungkin tidak mengerti atau tidak bisa mengingat apa yang engkau baca darinya. Namun ketika engkau membacanya, engkau akan dibersihkan dan mengalami perubahan, luar maupun dalam. Itulah kekuasaan dan nikmat Allah kepada kita!”
kumpulan Tausyah
:: Orang yang bahagia adalah orang yang panjang umur nya dan baik amalan nya.
orang yang beruntung adalah orang yang banyak hartanya dan banyak melakukan
kebaikan.
sedangkan orang yang berkah adalah orang yang berguna bagi manusia lain nya..
:: Sesungguh nya pertolongan itu selalu bersama kesabaran, kesenangan ada bersama
kesusahan dan kesulitan ada bersama dengan kemudahan..
:: Kematian hanya memisahkan mu Dari dunia dan penghuni nya, tapi menyia-nyiakan
waktu.
akan memisahkanmu dari Allah dan akherat..
:: wanita di ciptakan dari tulang rusuk laki-laki.bukan dari kepala untuk jadi atasan,
bukan juga dari kaki untuk di injak-injak, melainkan dari tulang rusuk yang dekat dengan
lengan untuk dilindungi dan dekat dengan hati untuk disayangi..
orang yang beruntung adalah orang yang banyak hartanya dan banyak melakukan
kebaikan.
sedangkan orang yang berkah adalah orang yang berguna bagi manusia lain nya..
:: Sesungguh nya pertolongan itu selalu bersama kesabaran, kesenangan ada bersama
kesusahan dan kesulitan ada bersama dengan kemudahan..
:: Kematian hanya memisahkan mu Dari dunia dan penghuni nya, tapi menyia-nyiakan
waktu.
akan memisahkanmu dari Allah dan akherat..
:: wanita di ciptakan dari tulang rusuk laki-laki.bukan dari kepala untuk jadi atasan,
bukan juga dari kaki untuk di injak-injak, melainkan dari tulang rusuk yang dekat dengan
lengan untuk dilindungi dan dekat dengan hati untuk disayangi..
15 Mei 2010
Allah Pun Gembira Bila Kita Segera Bertaubat
Langganan:
Postingan (Atom)





