melihat, mendengar, kemudian memahami.. hakikat hidup untuk di nikmati bukan hanya sekedar untuk di sesali..
Bismillah
- Jalan Cahaya
- "wahai orang-orang beriman! bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akherat), dan bertaqwalah kepada Allah. sungguh, Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.."
19 Sep 2010
TERAPI RASULULLAH DALAM PENYEMBUHAN PENYAKIT AL-ISYQ (CINTA) - Oleh: Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Zadul Ma'ad
Mukaddimah
Virus hati yang bernama cinta ternyata telah banyak memakan korban. Mungkin anda pernah mendengar seorang remaja yang nekat bunuh diri disebabkan putus cinta, atau tertolak cintanya. Atau anda pernah mendengar kisah Qeis yang tergila-gila kepada Laila. Kisah cinta yang bermula sejak mereka bersama mengembala domba ketika kecil hingga dewasa. Akhirnya sungguh tragis, Qeis benar-benar menjadi gila ketika laila dipersunting oleh pria lain. Apakah anda pernah mengalami problema seperti ini atau sedang mengalaminya? mau tau terapinya? Mari sama-sama kita simak terapi mujarab yang disampaikan Ibnu Qoyyim dalam karya besarnya Zadul Ma’ad.
Beliau berkata : Gejolak cinta adalah jenis penyakit hati yang memerlukan penanganan khusus disebabkan perbedaannya dengan jenis penyakit lain dari segi bentuk, sebab maupun terapinya. Jika telah menggerogoti kesucian hati manusia dan mengakar di dalam hati, sulit bagi para dokter mencarikan obat penawarnya dan penderitanya sulit disembuhkan.
Allah mengkisahkan penyakit ini di dalam Al-Quran tentang dua tipe manusia, pertama wanita dan kedua kaum homoseks yang cinta kepada mardan (anak laki-laki yang rupawan). Allah mengkisahkan bagaimana penyakit ini telah menyerang istri Al-Aziz gubernur Mesir yang mencintai Nabi Yusuf, dan menimpa Kaum Luth. Allah mengkisahkan kedatangan para malaikat ke negeri Luth
Dan datanglah penduduk kota itu (ke rumah Luth) dengan gembira (karena) kedatangan tamu-tamu itu. Luth berkata: “Sesungguhnya mereka adalah tamuku; maka janganlah kamu memberi malu (kepadaku), dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu membuat aku terhina “.Mereka berkata: “Dan bukankah kami telah melarangmu dari (melindungi) manusia?” Luth berkata: “Inilah puteri-puteri (negeri) ku (kawinlah dengan mereka), jika kamu hendak berbuat (secara yang halal)”. (Allah berfirman): “Demi umurmu (Muhammad), sesungguhnya mereka terombang-ambing di dalam kemabukan (kesesatan)”. [Al-Hijr: 68-72]
KEBOHONGAN KISAH CINTA NABI DENGAN ZAINAB BINTI JAHSY
Ada sekelompok orang yang tidak tahu menempatkan kedudukan Rasul sebagaimana layaknya, beranggapan bahwa Rasulullah tak luput dari penyakit ini sebabnya yaitu tatkala beliau melihat Zaenab binti Jahsy sambil berkata kagum: Maha Suci Rabb yang membolak-balik hati, sejak itu Zaenab mendapat tempat khusus di dalam hati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, oleh karena itu Beliau berkata kepada Zaid bin Haritsah: Tahanlah ia di sisimu hingga Allah menurunkan ayat:
“Artinya : Dan (ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan ni`mat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi ni`mat kepadanya : “Tahanlah terus isterimu dan bertakwalah kepada Allah”, sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mu’min untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi” [Al-Ahzab :37] [1]
Sebagain orang beranggapan ayat ini turun berkenaan kisah kasmaran Nabi, bahkan sebagian penulis mengarang buku khusus mengenai kisah kasmaran para Nabi dan meyebutkan kisah Nabi ini di dalamnya. Hal ini terjadi akibat kejahilannya terhadap Al-Quran dan kedudukan para Rasul, hingga ia memaksakan kandungan ayat apa-apa yang tidak layak dikandungnya dan menisbatkan kepada Rasulullah suatu perbuatan yang Allah menjauhkannya dari diri Beliau .
Kisah sebenarnya, bahwa Zainab binti Jahsy adalah istri Zaid ibn Harisah .–bekas budak Rasulullah– yang diangkatnya sebagai anak dan dipanggil dengan Zaid ibn Muhammad. Zainab merasa lebih tinggi dibandingkan Zaid. Oleh Sebab itu Zaid ingin menceraikannya. Zaid datang menemui Rasulullah minta saran untuk menceraikannya, maka Rasulullah menasehatinya agar tetap memegang Zainab, sementara Beliau tahu bahwa Zainab akan dinikahinya jika dicerai Zaid. Beliau takut akan cemoohan orang jika mengawini wanita bekas istri anak angkatnya. Inilah yang disembunyikan Nabi dalam dirinya, dan rasa takut inilah yang tejadi dalam dirinya. Oleh karena itu di dalam ayat Allah menyebutkan karunia yang dilimpahkanNya kepada Beliau dan tidak mencelanya karena hal tersebut sambil menasehatinya agar tidak perlu takut kepada manusia dalam hal-hal yang memang Allah halalkan baginya sebab Allah-lah yang seharusnya ditakutinya. Jangan Sampai beliau takut berbuat sesuatu hal yang Allah halalkan karena takut gunjingan manusia, setelah itu Allah memberitahukannya bahwa Allah langsung yang akan menikahkannya setelah Zaid menceraikan istrinya agar Beliau menjadi contoh bagi umatnya mengenai kebolehan menikahi bekas istri anak angkat, adapun menikahi bekas istri anak kandung maka hal ini terlarang.sebagaimana firman Allah:
“Artinya : Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu” [Al-Ahzab: 40]
Allah berfirman di pangkal surat ini:
“Artinya : Dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja” [Al-Ahzab : 4]
Perhatikanlah bagaiamana pembelaan terhadap Rasulullah ini, dan bantahan terhadap orang-orang yang mencelanya. Wabillahi at-Taufiq.
Tidak dipungkiri bahwa Rasulullah sangat mencintai istri-istrinya. Aisyah adalah istri yang paling dicintainya, namun kecintaannya kepada Aisyah dan kepada lainnya tidak dapat menyamai cintanya tertinggi, yakni cinta kepada Rabbnya. Dalam hadis shahih:
“Artinya : Andaikata aku dibolehkan mengambil seorang kekasih dari salah seorang penduduk bumi maka aku akan menjadikan Abu Bakar sebagai kekasih”[2]
KRITERIA MANUSIA YANG BERPOTENSI TERJANGKIT PENYAKIT AL-ISYQ
Penyakit al-isyq akan menimpa orang-orang yang hatinya kosong dari rasa mahabbah (cinta) kepada Allah, selalu berpaling dariNya dan dipenuhi kecintaan kepada selainNya. Hati yang penuh cinta kepada Allah dan rindu bertemu dengaanNya pasti akan kebal terhadap serangan virus ini, sebagaimana yang terjadi dengan Yusuf alaihis salam:
“Artinya ; Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tiada melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih” [Yusuf : 24]
Nyatalah bahwa Ikhlas merupakan immunisasi manjur yang dapat menolak virus ini dengan berbagai dampak negatifnya berupa perbuatan jelek dan keji.Artinya memalingkan seseorang dari kemaksiatan harus dengan menjauhkan berbagai sarana yang menjurus ke arah itu .
Berkata ulama Salaf: penyakit cinta adalah getaran hati yang kosong dari segala sesuatu selain apa yang dicinta dan dipujanya. Allah berfirman mengenai Ibu Nabi Musa:
“Artinya ; Dan menjadi kosonglah hati ibu Musa. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya” [Al-Qasas :11]
Yakni kosong dari segala sesuatu kecuali Musa karena sangat cintanya kepada
Musa dan bergantungnya hatinya kepada Musa.
BAGAIMANA VIRUS INI BISA BERJANGKIT?
Penyakit al-isyq terjadi dengan dua sebab, Pertama : Karena mengganggap indah apa-apa yang dicintainya. Kedua: perasaan ingin memiliki apa yang dicintainya. Jika salah satu dari dua faktor ini tiada niscaya virus tidak akan berjangkit. Walaupun Penyakit kronis ini telah membingungkan banyak orang dan sebagian pakar berupaya memberikan terapinya, namun solusi yang diberikan belum mengena.
MAKHLUK DICIPTAKAN SALING MENCARI YANG SESUAI DENGANNYA
Berkata Ibn al-Qayyim: ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan hikmahNya menciptakan makhlukNya dalam kondisi saling mencari yang sesuai dengannya, secara fitrrah saling tertarik dengan jenisnya, sebaliknya akan menjauh dari yang berbeda dengannya.
Rahasia adanya percampuran dan kesesuaian di alam ruh akan mengakibatkan adanya keserasian serta kesamaan, sebagaimana adanya perbedaan di alam ruh akan berakibat tidak adanya keserasian dan kesesuaian. Dengan cara inilah tegaknya urusan manusia. Allah befirman:
“Artinya : Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya” [Al-A'raf :189]
Dalam ayat ini Allah menjadikan sebab perasaan tentram dan senang seorang lelaki terhadap pasangannya karena berasal dari jenis dan bentuknya. Jelaslah faktor pendorong cinta tidak bergantung dengan kecantikan rupa, dan tidak pula karena adanya kesamaan dalam tujuan dan keingginan, kesamaan bentuk dan dalam mendapat petunjuk, walaupun tidak dipungkiri bahwa hal-hal ini merupakan salah satu penyebab ketenangan dan timbulnya cinta.
Nabi pernah mengatakan dalam sebuah hadisnya:
“Artinya : Ruh-ruh itu ibarat tentara yang saling berpasangan, yang saling mengenal sebelumnya akan menyatu dan yang saling mengingkari akan berselisih “[3]
Dalam Musnad Imam Ahmad diceritakan bahwa asbabul wurud hadis ini yaitu ketika seorang wanita penduduk Makkah yang selalu membuat orang tertawa hijrah ke Madinah ternyata dia tinggal dan bergaul dengan wanita yang sifatnya sama sepertinya yaitu senang membuat orang tertawa. Karena itulah nabi mengucapkan hadis ini.
Karena itulah syariat Allah akan menghukumi sesuatu menurut jenisnya, mustahil syariat menghukumi dua hal yang sama dengan perlakuan perbeda atau mengumpulkan dua hal yang kontradiktif. Barang siapa yang berpendapat lain maka jelaslah karena minimnya ilmu pengetahuannya terhadap syariat ini atau kurang memahami kaedah persamaan dan sebaliknya.
Penerapan kaedah ini tidak saja berlaku di dunia lebih dari itu akan diterapkan pula di akhirat, Allah berfirman:
“Artinya : (kepada malaikat diperintahkan): Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah” [As-Shaffat : 23]
Umar ibn Khtaab dan seteelahnya Imam Ahmad pernah berkata mengenai tafsiran wajahum yakni yang sesuai dan mirip dengannya .Allah juga berfirman
“Artinya : Dan apabila jiwa dipertemukan” [At-Takwir : 7]
Yakni setiap orang akan digiring dengan orang-orang yang sama prilakunya dengannya, Allah akan menggiring antara orang-orang yang saling mencintai kareNya di dalam surga dan akan menggiring orang orang yang saling bekasih-kasihan diatas jalan syetan di neraka Jahim, tiap oran akan digiring dengan siapa yang dicintainya mau tidak mau. Di dalam mustadrak Al-Hakim disebukan bahwa Nabi bersabda:
“Artinya : Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum kecuali akan digiring bersama mereka kelak” [4]
CINTA DAN JENIS-JENISNYA
Cinta memiliki berbagai macam jenis dan tingkatan, yang tertinggi dan paling mulia adalah mahabbatu fillah wa lillah (cinta karena Allah dan di dalam Agama Allah) yaitu cinta yang mengharuskan mencintai apa-apa yang dicintai Allah, yang dilakukan berlandaskan cinta kepada Allah dan RasulNya.
Cinta berikutnya adalah cinta yang terjalin karena adanya kesamaan dalam cara hidup, agama, mazhab, idiologi, hubungan kekeluargaaan, profesi dan kesamaan dalam hal-hal lainnya.
Di antara jenis cinta lainnya yakni cinta yang motifnya karena ingin mendapatkan sesuatu dari yang dicintainya, baik dalam bentuk kedudukan, harta, pengajaran dan bimbingan, ataupun kebutuhan biologis. Cinta yang didasari hal-hal seperti tadi yaitu al-mahabbah al-’ardiyah– akan hilang bersama hilangnya apa-apa yang ingin didapatnya dari orang yang dicintai. Yakinlah bahwa orang yang mencintaimu karena sesuatu akan meninggalkanmu ketika dia telah mendapat apa yang diinginkannya darimu.
Adapun cinta lainnya adalah cinta yang berlandaskan adanya kesamaan dan kesesuaian antara yang mencintai dan yang dicinta. Mahabbah al-isyq termasuk cinta jenis ini tidak akan sirna kecuali jika ada sesuatu yang menghilangkannya. cinta jenis ini, yaitu berpadunya ruh dan jiwa, oleh karena itu tidak terdapat pengaruh yang begitu besar baik berupa rasa was-was, hati yang gundah gulana maupun kehancuran kecuali pada cinta jenis ini.
Timbul pertanyaan bahwa cinta ini merupakan bertemunya ikatan batin dan ruh, tetapi mengapa ada cinta yang bertepuk sebelah tangan? Bahkan kebanyakan cinta seperti ini hanya sepihak dari orang yang sedang kasamaran saja, jika cinta ini perpaduan jiwa dan ruh maka tentulah cinta itu akan terjadi antara kedua belah pihak bukan sepihak saja?
Jawabnya yaitu bahwa tidak terpenuhinya hasrat disebabkan kurangnya syarat tertentu, atau adanya penghalang sehingga tidak terealisasinya cinta antara keduanya. Hal ini disebabkan tiga faktor ; Pertama: bahwa cinta ini sebatas cinta karena adanya kepentingan, oleh karena itu tidak mesti keduanya saling mencintai, terkadang yang dicintai malah lari darinya. Kedua: adanya penghalang sehingga dia tidak dapat mencintai orang yang dicintanya, baik karena adanya cela dalam akhlak, bentuk rupa, sikap dan faktor lainnya. Ketiga: adanya penghalang dari pihak orang yang dicintai.
Jika penghalang ini dapat disingkirkan maka akan terjalin benang-benang cinta antara keduanya. Kalau bukan karena kesombongan, hasad, cinta kekuasaan dan permusuhan dari orang-orang kafir, niscaya para rasul-rasul akan menjadi orang yang paling mereka cintai lebih dari cinta mereka kepada diri, keluarga dan harta.
TERAPI PENYAKIT AL-ISYQ
Sebagai salah satu jenis penyakit, tentulah al-isyq dapat disembuhkan dengan terapi-terapi tertentu. Diantara terapi tersebut adalah sebagai berikut:
1. Jika terdapat peluang bagi orang yang sedang kasmaran tersebut untuk meraih cinta orang yang dikasihinya dengan ketentuan syariat dan suratan taqdirnya, maka inilah terapi yang paling utama. Sebagaimana terdapat dalam sahihain dari riwayat Ibn Mas’ud Radhiyallahu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Artinya : Hai sekalian pemuda, barang siapa yang mampu untuk menikah maka hendaklah dia menikah , barang siap yang belum mampu maka hendaklah berpuasa karena puasa dapat menahan dirinya dari ketergelinciran (kepada perbuatan zina)”.
Hadis ini memberikan dua solusi, solusi utama, dan solusi pengganti. Solusi petama adalah menikah, maka jika solusi ini dapat dilakukan maka tidak boleh mencari solusi lain. Ibnu Majah meriwaytkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Artinya : Aku tidak pernah melihat ada dua orang yang saling mengasihi selain melalui jalur pernikahan”.
Inilah tujuan dan anjuran Allah untuk menikahi wanita, baik yang merdeka ataupun budak dalam firman-Nya:
“Artinya : Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah”.[An-Nisa : 28]
Allah menyebutkan dalam ayat ini keringanan yang diberikannya terhadap hambaNya dan kelemahan manusia untuk menahan syahwatnya dengan membolehkan mereka menikahi para wanita yang baik-baik dua, tiga ataupun empat, sebagaimana Allah membolehkan bagi mereka mendatangi budak-budak wanita mereka. Sampai-sampai Allah membuka bagi mereka pintu untuk menikahi budak-budak wanita jika mereka butuh sebagai peredam syahwat, keringanan dan rahmati-Nya terhadap makluk yang lemah ini.
2. Jika terapi pertama tidak dapat dilakukan karena tertutupnya peluang menuju orang yang dikasihinya karena ketentuan syar’i dan takdir, penyakit ini bisa semangkin ganas. Adapun terapinya harus dengan meyakinkan dirinya bahwa apa-apa yang diimpikannya mustahil terjadi, lebih baik baginya untuk segera melupakannya. Jiwa yang berputus asa untuk mendapatkan sesuatu, niscaya akan tenang dan tidak lagi mengingatnya. Jika ternyata belum terlupakan, akan berpengaruh terhadap jiwanya sehingga semangkin menyimpang jauh.
Dalam kondisi seperti ini wajib baginya untuk mencari terapi lain yaitu dengan mengajak akalnya berfikir bahwa menggantungkan hatinya kepada sesuatu yang mustahil dapat dijangkau adalah perbuatan gila, ibarat pungguk merindukan bulan. Bukankah orang-orang akan mengganggapnya termasuk ke dalam kumpulan orang-orang yang tidak waras?
Apabila kemungkinan untuk mendapatkan apa yang dicintainya tertutup karena larangan syariat, terapinya adalah dengan mengangap bahwa yang dicintainya itu bukan ditakdirkan menjadi miliknya. Jalan keselamatan adalah dengan menjauhkan dirinya dari yang dicintainya. Dia harus merasa bahwa pintu kearah yang diingininya tertutup, dan mustahil tercapai.
3. Jika ternyata jiwanya yang selalu menyuruhnya kepada kemungkaran masih tetap menuntut, hendaklah dia mau meninggalkannya karena dua hal, pertama karena takut (kepada Allah) yaitu dengan menumbuhkan perasaan bahwa ada hal yang lebih layak dicintai, lebih bermanfaat, lebih baik dan lebih kekal. Seseorang yang berakal jika menimbang-nimbang antara mencintai sesuatu yang cepat sirna dengan sesuatu yang lebih layak untuk dicintai, lebih bermanfaat, lebih kekal dan lebih nikmat, akan memilih yang lebih tinggi derajatnya. Jangan sampai engkau menggadaikan kenikmatan abadi yang tidak terlintas dalam pikiranmu dengan kenikmatan sesaat yang segera berbalik menjadi sumber penyakit. Ibarat orang yang sedang bermimpi indah, ataupun menghayal terbang melayang jauh, ketika tersadar ternyata hanyalah mimpi dan khayalan, akhirnya sirnalah segala keindahan semu, tinggal keletihan, hilang nafsu dan kebinasaan menunggu.
Kedua keyakinan bahwa berbagai resiko yang sangat menyakitkan akan ditemuinya jika dia gagal melupakan yang dikasihinya, dia akan mengalami dua hal yang menyakitkan sekaligus, yaitu:gagal dalam mendapatkan kekasih yang diinginkannya, dan bencana menyakitkan dan siksa yang pasti akan menimpanya. Jika yakin bakal mendapati dua hal menyakitkan ini niscaya akan mudah baginya meninggalkan perasaan ingin memiliki yang dicinta.Dia akan bepikir bahwa sabar menahan diri itu lebih baik. Akal, agama , harga diri dan kemanusiaannya akan memerintahkannya untuk bersabar sedikit demi mendapatkan kebahagiaan yang abadi. Sementara kebodohan, hawa nafsu, kezalimannya kan memerintahkannya untuk mengalah mendapatkan apa yang dikasihinya . orang yang terhindar adalah orang-orang yang dipelihara oleh Allah.
4. Jika hawa nafsunya masih tetap ngotot dan tidak terima dengan terapi tadi, maka hendaklah berfikir mengenai dampak negatif dan kerusakan yang akan ditimbulkannya segera, dan kemasalahatan yang akan gagal diraihnya. Sebab mengikuti hawa nafsunya akan menimbulkan kerusakan dunia dan menepis kebaikan yang datang, lebih parah lagi dengan memperturutkan hawa nafsu ini akan menghalanginya untuk mendapat petunjuk yang merupakan kunci keberhasilannya dan kemaslahatannya.
5. Jika terapi ini tidak mempan juga untuknya, hendaklah dia selalu mengingat sisi-sisi kejelekan kekasihnya,dan hal-hal yang membuatnya dampat menjauh darinya, jika dia mau mencari-cari kejelekan yang ada pada kekasihnya niscaya dia akan mendapatkannya lebih dominan dari keindahannya, hendaklah dia banyak bertanya kepada orang-orang yang berada disekeliling kekasihnya tentang berbagai kejelekannya yang tersembunyi baginya. Sebab sebagaiman kecantikan adalah faktor pendorong seseorang untuk mencintai kekasihnya demikian pula kejelekan adalah pendorong kuat agar dia dapat membencinya dan menjauhinya. Hendaklah dia mempertimbangkan dua sisi ini dan memilih yang terbaik baginya. Jangan sampai terperdaya dengan kecantikan kulit dengan membandingkannya dengan orang yang terkena penyakit sopak dan kusta, tetapi hendaklah dia memalingkan pandangannnya kepada kejelelekan sikap dan prilakunya, hendaklah dia menutup matanya dari kecantikan fisik dan melihat kepada kejekan yang diceritakan mengenainya dan kejelekan hatinya.
6. Jika terapi ini masih saja tidak mempan baginya, maka terapi terakhir adalah mengadu dan memohon dengan jujur kepada Allah yang senantiasa menolong orang-orang yang ditimpa musibah jika memohon kepadaNya, hendaklah dia menyerahkan jiwa sepenuhnya dihadapan kebesaranNya, sambil memohon, merendahkan dan menghinakan diri. Jika dia dapat melaksankan terapi akhir ini, maka sesunguhnya dia telah membuka pintu taufik (pertolongan Allah). Hendaklah dia berbuat iffah (menjaga diri) dan menyembunyikan perasaannya, jangan sampai dia menjelek-jelekkan kekasihanya dan mempermalukannya dihadapan manusia, ataupun menyakitinya, sebab hal tersebut adalah kezaliman dan melampaui batas.
PENUTUP
Demikianlah kiat-kiat khusus untuk menyembuhkan penyakit ini. Namun ibarat kata pepatah: mencegah lebih baik daripada mengobati, maka sebelum terkena lebih baik menghindar. Bagaimana cara menghindarinya? tidak lain dengan tazkiyatun nafs.
Semoga pembahasan ini bermanfaat.
[Diterjemahkan oleh : Ustadz Ahmad Ridwan,Lc (Abu Fairuz Al-Medani), Dari kitab : Zadul Ma'ad Fi Hadyi Khairi Ibad, Juz 4, halaman 265-274, Penulis Ibnu Qayyim Al-Jauziah]
_________
Foote Note
[1]. Ini berita batil yang diriwayatkan oleh Ibn Sa’ad dalam at-Tabaqat/101-102, dan al-Hakim 3/23 dari jalan Muhammad ibn Umar al Waqidi seorang yang Matruk (ditinggalkan)– dan sebagian menggapnya sebagai pemalsu hadis, dari Muhakmmad ibn Yahya ibn Hibban–seorang yang siqah –namun riwayat yang diriwayatkannya dari Nabi sekuruhnya mursal. Kebatilah riwayat ini telah diterangkan oleh para ulama almuhaqqiqin. Mereka berkata: Penukil riwayat ini dan yang menggunakan ayat ini sebagai dalil terhadap prasangka buruk mereka mengenai Rasulullah sebenranya tidak meletetakkan kedudukan kenabian Rasulullah sebagaimana layaknya, dan tidak mengerti makna kemaksuman Beliau. Sesungguhnya yang disembunayikan Nabi di dalam dirinya dan belakangan Allah nampakkan adalah berita yang Allah sampaikan padanya bahwa kelak Zaenab akan menjadi istrinya. Faktor yang membuat nabi menyembunyikan berita ini tidak lain disebabkan perasaan takut beliau terhadap perkataan orang bahwa Beliau tega menikahi istri anak angkatnya . Sebenarnya dengan kisah ini Allah ingin membatakan tadisi jahiliyyah ini dalam hal adopsi , yaitu dengan menikahkan Rasulullah dengan istri anak angkatnya. Peristiwa yang terjadi dengan Rasulullah ini sebagai pemimpin manusia akan lebih diterima dan mengena di hati mereka.. Lihat Ahkam Alquran 3/1530,1532 karya Ibn Arabi dan Fathul Bari 8/303, Ibn Kastir 3/492, dan Ruhul Ma’ani 22/24-25.
[2]. Hadis diriwayatkan oleh Bukhari 7/15 dalam bab fadhail sahabat Nabi, dari jalan Abdullah ibn Abbas, dan diriwayatkan oleh Imam Muslim (2384) dalam Fadail Sahabat, bab keutamaan Abu Bakar, dari jalan Abdullah ibn Masud, dan keduanya sepakat meriwayatkan dari jalan Abu Sa’id al-khudri.
[3]. Hadis Riwayat Bukhari 7/267dari hadis Aisyah secara muallaq, dan Muslim (2638) dari jalan Abu Hurairah secara mausul
[4]. Diriwayatkan oleh Ahmad 6/145, 160, dan an-Nasai dari jalan Aisyah Bahwa Rasulullah Saw bersabda: Aku bersumpah terhadap tiga hal, Allah tidak akan menjadikan orang-orang yang memiliki saham dalam Islam sama dengan orang yang tidak memiliki saham, saham itu yakni: Sholat, puasa dan zakat. Tidak lah Allah mengangkat seseorang di dunia, kemudain ada selainNya yang dapat mengankat (derajatnya) di hari kiamat. Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum kecuali kelak Allah akan menggumpulkannya bersama (di akhirat). Kalau boleh aku bersumpat terhadap yang keempat dan kuharap aku tiodak berdosa dalam hal ini yaitu tidaklah seseorang memberi pakaian kepada orang lain (untuk menutupi auratnya) kecuali Allah akn memberikannya pakaian penutup di hari kiamat. Para perawi hadis ini stiqah kecuali Syaibahal-khudri (di dalam Musnad di tulis keliru dengan al-isyq-hadromi). Dia meriwayatkan dari Urwah, dan dia tidak di tsiqahkan kecuali oleh Ibn Hibban, namun ada syahidnya dari hadist Ibn Masud dari jalur Abu Yala, dan Thabrani dari jalur Abu Umamah, dengan kedua jalan ini hadis ini menjadi sahih.
Abu Muhammad Herman
Sumber: Majalah As-Sunnah Edisi 08/Tahun VI/1423 H/2002 M
(dari tulisan Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah dalam kitab beliau Zadul Ma’ad Fi Hadyi Khairi Ibad)
http://www.almanhaj.or.id/content/2074/slash/0
taken from: catatan " Al Fawaid"
CANTIK
oleh: Pencemburu para kekasih Allah
Kalau seseorang itu cantik, menarik dan tampan, dan pandai pula bergaya serta berpakaian tentunya banyak orang suka memandang
ada ketertarikan, banyak yang suka berkenalan, bahkan akan ada banyak yang terpikat, ingin di buat teman atau pendamping hidup dan ia akan dijadikan rebutan.. hmm
TIADA AKAL
Namun.. apakah harga sekujur tubuh walaupun cantik dan memikat.
Apakah nilai sekeping jasad yang indah mata memandang
Yang rambutnya ikal mayang
Hidung bak seludang
Bibir bak delima merekah
Pipi bak pauh dilayang
Yang pinggangnya ramping
Dadanya bidang
tetapi akalnya kurang.
Yaitu akal yang tidak ada ilmu, Bodoh , Tidak tau dan tidak faham.
tidak bisa diajak berbincang
Dia tidak ada pendapat atau buah fikiran
Semua persoalan dijawab dengan senyuman kosong yang tidak mempunyai arti apa-apa
Lebih-lebih lagilah kalau dia gila dan kurang siuman, percakapan yang tidak logis dan tidak seimbang
hanya meracau racau tidak ada pertimbangan.
Apa yang salah pada orang, betul pada dia.
Apa yang betul pada orang, salah pada dia
Dia anggap semua orang lain gila.
Dia saja yang tidak gila
Itulah tanda dia gila..
Kalau bodoh atau gila, cantik macam manapun tidak diambil kira
Jasad dan tubuh akan hilang cantiknya kalau bodoh atau gila
Itu bukti kalau akal itu lebih utama dari paras rupa
Malahan kecantikan aras rupa hanya akan tersisih bila ada akal yang sempurna.
HATI KOTOR
Namun.. Apakah harga sebuah akal walaupun bijak dan berilmu sekalipun
Apakah nilai sebuah akal yang tau segala sesuatu. Pandai berhujah, Pandai menyelidik, Pandai mengkaji dan Pandai merumuskan sesuatu
Kalau hati jahat, gelap dan kotor.
Yaitu hati yang penuh dengan dosa dan noda
Hati yang penuh dengan bermacam macam sifat kotor dan keji
Khianat, Tamak, Bakhil, Dusta, Kasar, Pemarang Angkuh, Sombong, Penting diri, Buruk sangka, Hasad dan Dengki
Nafsu yang rakus Buas seperti kuda yang liar
Meronta ronta hendak merebut dunia seolah olah tidak akan mati
Lebih-lebihlah hati yang tidak mengenal Tuhan
yang tidak cinta dan takut dengan Tuhan
Yang telah menjadikan nafsunya menjadi Tuhan
Tidak ada Akhlaq kepada Tuhan, Tidak ada akhlaq sesama manusia.
TIDAK ADA IMAN
Apa artinya orang yang pintar cerdas dan tampan pula,
Punya akal yang bijak dan tajam
tetapi jahat dan tidak berakhlaq
Kufur kepada Tuhan, Kasar kepada manusia, menindas ,menekan dan mendzalimi seseorang
Cantik dan tampankah seseorang yang seperti ini?
Kalaupun cantik, kalaupun tampan, kalaupun cerdik semuanya akan tenggelam didalam kejahatan
dan kehinaan akhlaq serta pribadinya.
Orang akan benci
Orang akan marah
Kepintaran akal dan kecantikan paras rupanya akan hilang dan menjadi samar karena perangainya yang seperti hewan
PANGKAL SEGALANYA
Hati dan Ruhlah yang paling berpengaruh
Kalau hati baik dan luhur Ia akan terpancar kepada akal dan jasad
Hati dan Ruh itu adalah hakikat diri manusia, Manusia itu adalah hati dan ruhnya
Berusahalah untuk mencantikkan hati
kecantikan hati itu lebih utama dari pada kecantikan akal dan paras rupa
Bila hati cantik akal akan bersinar, bila akal bersinar kecantikan paras rupa akan memancar
Sebalikknya bila hati gelap akal akan menjadi kalut
kalut akal maka lenyaplah kecantikan paras rupa
Kecantikan akal dan paras rupa akan habis di dunia
Kecantikan hati akan bersinar sampai kapanpun juga, kekal tanpa penghujungnya sampai ke akhirat.
Keindahan lahir adalah hiasan yang secara khusus diberikan Allah kepada sebagian rupa dan sebagian lain tidak diberi-Nya
Ada sebagian ahli hikmah berkata
"Setiap hari setiap manusia harus melihat kecermin, jika dia melihat rupanya yang bagus maka janganlah mendo'ainya dengan yang buruk, jika dia melihat rupanya yang buruk, maka janganlah dia menghimpun keburukan rupa dengan perbuatan yang buruk"
Baginda Nabi S.A.W adalah ciptaan Allah yang paling indah
Beliaulah yang sangat elok dan paling tampan baik secara lahir ataupun lbatin
Al-Barra bin 'Azib RA
mengatakan ketika ditanya ., "Apakah wajah Rasulullah laksana pedang?" "Tidak tapi seumpama rembulan" (HR. Bukhari Muslim)
Keindahan batin adalah karunia paling besar yang ALlah berikan kepada hamba-Nya
Keindahan batin ini menghiasi rupa lahir sekalipun tidak indah
Keindahan batin bisa menghapus kekurangan lahir dan menutupinya.
Sedangkan keburukan batin akan menghapus keindahan lahir dan menutupinya.
Pada hakikatnya orang yang memiliki keindahan batin ini mengenakan pakaian keindahan kemuliaan dan kharisma.
tergantung dari wujudnya sifat-sifat terpuji dalam dirinya.
18 Sep 2010
BEBASKAN CINTAMU
oleh; Laa_Tahzan Ukhty
Bismillah Ya Rahman Ya Rahim...
Ramai orang yang mengaku mencintai orang lain – isteri atau suami atau siapa saja, tetapi hakikat sebenarnya dia bukan mencintai orang itu… tetapi dia mencintai dirinya sendiri.
Sadarlah bahwa cinta dengan memiliki itu suatu yang berbeda. Jangan salah tentang hakikat cinta. Ramai pasangan suami isteri ‘terkorban’ cintanya karena gagal membedakan antara mencintai dengan ‘memiliki’.
Bila kita mencintai seseorang, kita berfikir tentang dirinya, bukan diri kita. Kepentingan sendiri tidak dihiraukan, bahagia kekasih itu itulah yang diutamakan. Ungkapan ini menggambarkan cinta yang sejati. Sebaliknya, jika kepentingan sendiri lebih diutamakan, perasaan, jiwa dan rasa kekasih dibiarkan, maka itu bukan cinta. Itu memperalatkan cinta.
Mencintai itu membebaskan, manakala memiliki itu cenderung mengikat, membelenggu dan mengawal. Berapa ramai isteri yang ‘mengawal’ suaminya atas nama cinta. Sehingga suami hilang kebebasan dan kemerdekaan dalam hidup seharian. “kalau abang tak balik lagi, saya akan…” Bolehkah itu dikatakan ‘ayat-ayat’ cinta? Maaf, pertanyaan itu lebih mirip kata-kata seorang majikan kepada pekerja, bukan antara isteri dengan suami tercinta.
Suami pun sama. Segala gerak-gerik istri dipantau penuh curiga. Setapak isteri melangkah, menggelak cemburu di dalam dada. Prasangkanya sudah terlalu jauh.. Salah sedikit, marah. Bila ditanya, mengapa? Si suami tidak malu mengaku, “karena saya terlalu mencintainya!” Padahal, jika diamati dan diteliti, itu semua karena mencintai diri sendiri. Kasihan si isteri menjadi sandera cinta. Dikepung oleh penjara rumahtangganya, dicerca oleh kata-kata suaminya. Jika sudah begitu ada benarnya kata bijak yang mengatakan bahwa “terkadang perkawinan itu menjadi pusara percintaan”
“Queen control” atau “King Control” adalah produk cinta yang palsu. Cinta yang diselaputi kepentingan diri. Kulitnya cinta tetapi isinya keegoaan diri. Seperti seorang pemilik burung tekukur – diberi makan, diberi minum, dibersihkan dan dimandikan, dilatih berlagu – tetapi dikurung dalam sangkar. “Ini burung kesayanganku,” akunya di hadapan tetamu. “Suaranya sungguh merdu,” puji tidak henti-henti. Sekalipun tekukur dikurung dalam sangkar emas. Sangkar tetap untuk mengurung, sekalipun sangkar emas. Kilauan sangkar emas, suara berlagu merdu, bukanlah kebahagiaan tekukur yang terkurung tetapi buat tuannya yang mengurung.
Sama halnya dengan cinta terkadang seperti itu. Kita ingin memberi kebaikan yang diingini oleh kita bukan yang diingini oleh pasangan kita. Apa gunanya sangkar emas, makan-minum yang mewah, kemampuan berlagu, pada tekukur yang dibelenggu? Kalaulah terkukur boleh bersuara, dia akan berkata, “jika benar kau sayang aku wahai tuanku, bebaskanlah aku.” Walaupun tertukur tidak mungkin bersuara, tetapi tuannya pasti tahu, bahwa keinginan atau naluri setiap burung adalah kebebasan. Tidak sukar memahami dan merasai jika kita benar-benar mencintai. Bukankah kekasih sejati itu selalu bertindak memahami dahulu kemudian baru dipahami?
Betapa ramai istri yang dikurung dalam villa atau istana, yang dilimpahi intan dan permata, diberi segala dan semua… tetapi dinafikan suara hatinya. Betapa ramai pula suami yang dijaga makan-minumnya, disiapkan pakaian dan segala keperluan lahirnya, tetapi sering disakiti dengan kata perintah, rajuk dan amuk oleh istrinya. Pelik, ketika suami belum pulang, segalanya dirisaukan. Sudah makankah dia? Kenapa terlambat, mecetkah motornya? Bagaimana dia di perantauan? Sakitnya? Letihnya? Semuanya seakan menghantui perasaan istri. Tetapi bila suami yang dibimbangi itu pulang, belum sampai melangkah pintu, sudah dihambur dengan wajah masam, sudah dileteri dengan kata-kata yang berbisa.
Sudah lama tidak menengok ke rumah mertua. Suami tahu hakikat itu. Boleh jadi sudah berbulan-bulan, boleh jadi telah bertahun-tahun. Istri memendam rasa. Ingin mengungkapkannya takut dibentak. Boleh jadi akan ‘diboikot’ dengan diam memanjang hingga ‘mode silent’ begitu menyiksakan. Keinginan istri menjenguk ibu di kampung di tahannya. Tetapi konon karena masih cinta, lalu diajaklah isteri ‘shopping’ komplek atau singgah di resto termahal, dibelikan perhiasan agar keinginannya pulang ke kampung halaman dilupakan. Jangan, jangan begitu, dahaga rindu bukan emas dan perak galang gantinya.
Belajarlah membebaskan, bukan mengikat sewaktu bercinta. Khususnya, bagi pasangan yang telah lama berumah-tangga, prinsip ini mesti dipahami sebaik-baiknya. Apabila usia perkawinan semakin meningkat, tidak ada lagi cinta berapi berasaskan keinginan biologi dan fisiologi. Yang mampu bertahan ialah rasa cinta yang sebenar – cinta yang melepaskan bukan mengikat. Ketika warna sebenarnya (‘true colours’) pasangan kita semakin pudar hari demi hari, mampukah kita bertahan lagi? Bolehkah kita bersabar atas kelemahan dan kekurangan pasangan yang ketika itu sudah masuk belasan bahkan puluhan tahun kita hadapi?
Sudikah kita memberi peluang kedua, ketiga bahkan tidak kira kali keberapun untuknya memperbaiki diri? Jika sudi, benar kita masih cinta. Namun jika jemu, jika enggan, jika bosan itu pertanda kurangnya rasa cinta. Ingatlah, jika pasangan kita ada karenanya, apa kurangnya kita? Jangan kesabaran kita saja yang diperkirakan, kesabaran pasangan kita terhadap kita juga wajar dipertimbangkan. Ingat selalu, suami adalah cermin sang isteri dan begitulah sebaliknya. Hubungan kesalingan ini menunjukkan bawa bagaimana perangai dan akhlak kita maka begitulah perangai dan akhlak pasangan yang ditakdirkan untuk bersama kita.
Jadi, jangan cepat menyalahkan atau mengalah, sebaliknya banyakkan bermuhasabah diri. Sadarlah bahwa kelemahan ataupun keburukan yang ada pada pasangan kita itu sebenarnya, bukan saja tidak diingini oleh kita tetapi juga oleh mereka. Mereka pun pada hakikatnya sedang berhempas pulas untuk mengatasi kelemahan atau keburukan itu. Kalau begitu, adalah lebih baik sekiranya kita membantu daripada ‘membuntu’ mereka.
Malangnya, hal diatas jarang berlaku. Kebanyakan orang tidak sabar dengan pasangan mereka. Keceriaan dan ketenangan hidup terasa semakin terkikis oleh tabiat buruk pasangan. “Abi, saya tidak bahagia kalau Abi terus-terusan marah begini.” terkadang perkataan demikian seringkali diperdengarkan. Tetapi seringkali juga dipendam. Kata-kata itu atau yang seumpama dengannya membayangkan penuturnya hilang perhatian dengan pasangannya. Kata orang, habis manis sepah dibuang. Berpikirlah mengapa suami anda muram, mengapa istri anda masam… Mungkin akibat beban kerjanya dikantor. Mungkin karena anak-anak di rumah. Atau yang lebih parah lagi, mungkin kerana tingkah anda sendiri. MasyaAllah...
Kita akan membuang barang yang kita miliki sekiranya barang itu hilang fungsinya. Kalau sesuatu itu tidak membawa manfaat kepada kita, apa guna lagi untuk menyimpannya? Begitulah cinta kalau tujuannya hanya untuk memiliki. Tetapi kalau cinta itu bukan untuk memiliki, kita akan terus cinta tidak peduli keadaan pasangan yang kita cintai. Barang yang hilang fungsi bukan untuk dibuang, tetapi untuk diperbaiki. Begitulah sikap sebenarnya seorang istri atau suami apabila berhadapan dengan keburukan atau kelemahan pasangannya. Demi cinta, dalam diam-diam suara hati mereka membisikkan, kalau aku tidak dapat apa yang aku sukai, aku mesti belajar menyukai apa yang aku dapat.
Betapa hebatnya sebuah kisah cinta seorang ahli sufi terhadap isterinya. Kisah yang menyebabkan saya termenung dan merenung begitu lama. Pada hari kematian istrinya barulah masyarakat tahu bahwa dia sebenarnya bukanlah seorang yang cacat… Dia hanya ‘berlakon’ cacat hanya untuk menjaga maruah dan harga diri istrinya yang benar-benar cacat. Berapa lama dia berlakon begitu? Puluhan tahun! Subhanallah. Itulah cinta yang sebenarnya. Cinta yang melepaskan belenggu psikologi, penjara jiwa dan rantai pikiran yang boleh menghilangkan kebahagiaan daripada diri pasangannya.
Tidak ada cinta seikhlas cinta Allah. Allah yang Maha Kaya itu tidak memerlukan sedebupun manfaat daripada hamba-Nya. Dia Al Qawwi, Dia Al Ghani… Tuhan maha Perkasa dan Tuhan maha Kaya, Tuhan tidak memerlukan kita sebaliknya kita yang memerlukan-Nya. Justeru, cinta-Nya benar-benar suci kerana hakikatnya Allah tidak inginkan balasan ataupun ganjaran.
Ya, Allah memang memiliki, tetapi DIA bukan membelenggu. Cinta-Nya membebaskan. Untuk bebas dariapada memperalatkan dan diperalatkan oleh cinta, jadikanlah cinta Allah sebagai asas dan di atas segala cinta. Jangan jadi sandera cinta, walaupun kepada isteri atau suami kita.
8 Agu 2010
Taubat Sejati
Hidup tak ubahnya seperti menelusuri jalan setapak yang becek di tepian sungai nan jernih. Kadang orang tak sadar kalau lumpur yang melekat di kaki, tangan, badan, dan mungkin kepala bisa dibersihkan dengan air sungai tersebut. Boleh jadi, kesadaran itu sengaja ditunda hingga tujuan tercapai.
Tak ada manusia yang bersih dari salah dan dosa. Selalu saja ada debu-debu lalai yang melekat. Sedemikian lembutnya, terlekatnya debu kerap berlarut-larut tanpa terasa. Di luar dugaan, debu sudah berubah menjadi kotoran pekat yang menutup hampir seluruh tubuh.
Itulah keadaan yang kerap melekat pada diri manusia. Diamnya seorang manusia saja bisa memunculkan salah dan dosa. Terlebih ketika peran sudah merambah banyak sisi: keluarga, masyarakat, tempat kerja, organisasi, dan pergaulan sesama teman. Setidaknya, akan ada gesekan atau kekeliruan yang mungkin teranggap kecil, tapi berdampak besar.
Belum lagi ketika kekeliruan tidak lagi bersinggungan secara horisontal atau sesama manusia. Melainkan sudah mulai menyentuh pada kebijakan dan keadilan Allah swt. Kekeliruan jenis ini mungkin saja tercetus tanpa sadar, terkesan ringan tanpa dosa; padahal punya delik besar di sisi Allah swt.
Rasulullah saw. pernah menyampaikan nasihat tersebut melalui Abu Hurairah r.a. “Segeralah melalukan amal saleh. Akan terjadi fitnah besar bagaikan gelap malam yang sangat gulita. Ketika itu, seorang beriman di pagi hari, tiba-tiba kafir di sore hari. Beriman di sore hari, tiba-tiba kafir di pagi hari. Mereka menukar agama karena sedikit keuntungan dunia.” (HR. Muslim)
Saatnyalah seseorang merenungi diri untuk senantiasa minta ampunan Allah swt. Menyadari bahwa siapa pun yang bernama manusia punya kelemahan, kekhilafan. Dan istighfar atau permohonan ampunan bukan sesuatu yang musiman dan jarang-jarang. Harus terbangun taubat yang sungguh-sungguh.
Secara bahasa, taubat berarti kembali. Kembali kepada kebenaran yang dilegalkan Allah swt. dan diajarkan Rasulullah saw. Taubat merupakan upaya seorang hamba menyesali dan meninggalkan perbuatan dosa yang pernah dilakukan selama ini.
Rasulullah saw. pernah ditanya seorang sahabat, “Apakah penyesalan itu taubat?” Rasulullah saw. menjawab, “Ya.” (HR. Ibnu Majah) Amr bin Ala pernah mengatakan, “Taubat nasuha adalah apabila kamu membenci perbuatan dosa sebagaimana kamu mencintainya.”
Taubat dari segala kesalahan tidak membuat seorang manusia terhina di hadapan Tuhannya. Justru, akan menambah kecintaan dan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya. Karena Allah sangat mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri. “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222)
Taubat dalam Islam tidak mengenal perantara. Pintu taubat selalu terbuka luas tanpa penghalang dan batas. Allah selalu menbentangkan tangan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang ingin kembali kepada-Nya. Seperti terungkap dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Abu musa Al-Asy`ari. “Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat kesalahan pada malam hari sampai matahari terbit dari barat.”
Karena itu, merugilah orang-orang yang berputus asa dari rahmat Allah dan membiarkan dirinya terus-menerus melampaui batas. Padahal, pintu taubat selalu terbuka. Dan sungguh, Allah akan mengampuni dosa-dosa semuanya karena Dialah yang Maha Pengampun lagi Penyayang.
Orang yang mengulur-ulur saatnya bertaubat tergolong sebagai Al-Musawwif. Orang model ini selalu mengatakan, “Besok saya akan taubat.” Ibnu Abas r.a. meriwayatkan, berkata Nabi saw. “Binasalah orang-orang yang melambat-lambatkan taubat (musawwifuun).” Dalam surat Al-Hujurat ayat 21, Allah swt. berfirman, “Dan barangsiapa yang tidak bertaubat, mereka itulah orang-orang yang zalim.“
Abu Bakar pernah mendengar ucapan Rasulullah saw., “Iblis berkata, aku hancurkan manusia dengan dosa-dosa dan dengan bermacam-macam perbuatan durhaka. Sementara mereka menghancurkan aku dengan Laa ilaaha illaahu dan istighfar. Tatkala aku mengetahui yang demikian itu aku hancurkan mereka dengan hawa nafsu, dan mereka mengira dirinya berpetunjuk.”
Namun, taubat seorang hamba Allah tidak cuma sekadar taubat. Bukan taubat kambuhan yang sangat bergantung pada cuaca hidup. Pagi taubat, sore maksiat. Sore taubat, pagi maksiat. Sedikit rezeki langsung taubat. Banyak rezeki kembali maksiat.
Taubat yang selayaknya dilakukan seorang hamba Allah yang ikhlas adalah dengan taubat yang tidak setengah-setengah. Benar-benar sebagai taubat nasuha, atau taubat yang sungguh-sungguh.
Karena itu, ada syarat buat taubat nasuha. Antara lain, segera meninggalkan dosa dan maksiat, menyesali dengan penuh kesadaran segala dosa dan maksiat yang telah dilakukan, bertekad untuk tidak akan mengulangi dosa.
Selain itu, para ulama menambahkan syarat lain. Selain bersih dari kebiasaan dosa, orang yang bertaubat mesti mengembalikan hak-hak orang yang pernah dizalimi. Ia juga bersegera menunaikan semua kewajiban-kewajibannya terhadap Allah swt. Bahkan, membersihkan segala lemak dan daging yang tumbuh di dalam dirinya dari barang yang haram dengan senantiasa melakukan ibadah dan mujahadah.
Hanya Alahlah yang tahu, apakah benar seseorang telah taubat dengan sungguh-sungguh. Manusia hanya bisa melihat dan merasakan dampak dari orang-orang yang taubat. Benarkah ia sudah meminta maaf, mengembalikan hak-hak orang yang pernah terzalimi, membangun kehidupan baru yang Islami, dan hal-hal baik lain. Atau, taubat hanya hiasan bibir yang terucap tanpa beban.
Hidup memang seperti menelusuri jalan setapak yang berlumpur dan licin. Segeralah mencuci kaki ketika kotoran mulai melekat. Agar risiko jatuh berpeluang kecil. Dan berhati-hatilah, karena tak selamanya jalan mendatar.
1 Agu 2010
Takabur
Takabur -yang telah kita ketahui definisinya- merupakan penyakit hati tingkat tinggi yang harus diwaspadai oleh semua muslim, termasuk aktifis dakwah. Dikatakan penyakit hati tingkat tinggi karena sejarah iblis laknatullah dimulai dari penyakit satu ini. Merasa lebih tinggi dari Adam, ia lalu mendurhakai perintah Allah untuk bersujud padanya. Abaa wastakbara, kata Al-Qur’an. Demikian pula para penguasa taghut yang menjadi musuh para nabi dan rasul, semuanya dihinggapi penyakit ini.
Dengan mengetahui faktor-faktor penyebab suatu penyakit, diharapkan kita bisa menghindarinya. Demikian pula dengan takabur ini. Ada beberapa faktor penyebab yang semoga setelah kita mengetahuinya lalu berupaya keras untuk menghindarinya, sebagaimana kita menghindari api yang telah kita ketahui panasnya bisa membakar kita.
Berikut ini adalah sebagian dari faktor penyebab takabur:
1. Salah dalam Memahami Hakikat Dirinya
Iblis sebagai makhluk pertama yang dihinggapi takabur hingga membuatnya terlempar dari surga, melakukan kesalahan fatal dalam memandang hakikat dirinya. Ia lupa betapapun ia ditempatkan di surga, sebenarnya ia adalah makhluk Allah.
Demikian pula orang yang takabur, terutama ketika merendahkan orang lain. Ia salah dalam memandang hakikat dirinya yang pada mulanya tercipta dari air yang hina.
Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. (QS. As-Sajdah : 8)
Ia tidak ingat ayat ini. Ia tidak menyadari hakikat dirinya. Yang ia tahu ia kini adalah manusia dengan organ yang sempurna, sosok yang hebat, dan wajah yang rupawan. Berbagai potensi yang telah dianugerahkan Allah kepadanya, mulai dari kecerdasan sampai kekayaan dan kekuasaan, dianggap sebagai milik dirinya sendiri. Hingga segala kelebihan dari fisik hingga akal itu dipahami sebagai hakikat dirinnya.
2. Salah dalam Memahami Hakikat Kemuliaan
Ketika iblis mengaku lebih mulia dari Adam, ia menggunakan parameter yang salah dalam mengukur kemuliaan.
Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu semua kepada Adam", lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: "Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?" (QS Israa’ : 61)
Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Iblis menjawab: "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". (QS Al A’raaf :12)
Jika iblis memahami hakikat kemuliaan ditentukan dari asal penciptaan, orang seperti Fir’aun memahami hakikat kemuliaan ditentukan oleh kekuasaan. Lalu orang seperti Qarun menganggap kemuliaan ditentukan oleh kekayaan. Dan orang seperti Haman menganggap kemuliaan ditentukan oleh kekuatan dan kecerdasan.
Tiga hal yang disebutkan terakhir ini barangkali saat ini amat dominan dipakai sebagai logika kemuliaan. Maka jika kebenaran berasal dari mereka yang tidak lebih berkuasa akan ditolak. Al-haq yang dibawa oleh mereka yang tidak lebih kaya dari dirinya tidak akan diterima. Dan keadilan yang dilantangkan oleh mereka yang tidak lebih kuat dari dirinya juga akan diabaikan.
Ada hal lain yang juga menjadi standar salah dalam memandang hakikat kemuliaan. Misalnya usia, pengetahuan, pengalaman, bahkan jasa. Termasuk dalam dakwah. Maka kadang terjadi aktifis dakwah yang terjebak pada takabur dan tidak mau menerima kebenaran karena merasa usia perjuangannya lebih lama, pengalaman dakwahnya lebih banyak, atau jasanya lebih besar. Hingga ada pula yang karena memandang dirinya adalah qiyadah, maka perbedaan yang dibawa oleh jundiyahnya selalu dianggap salah. Kesalahan dalam memahami hakikat kemuliaan bisa menjerumuskan kita ke dalam ke-takabur-an sebagaimana iblis diusir dari surga dan dilaknat Allah selama-lamanya.
3. Tidak Memiliki Pemahaman yang Benar tentang Hakikat Kebenaran
Ali radhiyallaahu anhu terkenal dengan kata-katanya: ”Lihatlah apa yang diucapkan dan jangan lihat siapa yang mengucapkan.” Seringkali kita memahami maqalah ini sebagai upaya untuk obyektif menilai kebenaran. Namun di sana juga ada nilai bahwa kebenaran akan selamanya benar meskipun datangnya dari siapapun.
Jika kita memiliki standar penilaian yang benar, insya Allah kita akan lebih selamat dari bahaya menolak kebenaran, sebuah sikap yang merupakan inti takabur. Dan kebenaran itu adalah apa yang benar menurut Allah dan Rasul-Nya (Al-Qur'an dan Sunnah), siapapun yang mengatakannya.
4. Mengira bahwa Nikmat itu Kekal pada Dirinya
Orang yang takabur biasanya lupa bahwa alasan yang melatarinya untuk berbuat demikian tidaklah abadi pada dirinya. Kenikmatan yang ia rasakan, yang dengannya ia menyombongkan diri hanyalah bersifat sementara. Allah bisa mencabutnya dalam waktu yang cepat dan tak terkira.
Tidak peduli apakah kenikmatan yang kemudian disombongkan itu berupa harta, keturunan, popularitas, jabatan, kekuasaan, dan sebagainya. Perihalnya menyerupai orang yang digambarkan Allah SWT dalam salah satu firnam-Nya:
Dan dia memasuki kebun sedangkan dia zalim terhadap dirinya sendiri. Ia berkata, "Aku kira kebun itu tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang. Sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku pasti aku akan mendapatkan tempat yang lebih baik daripada kebun-kebunku itu." (QS. Al-Kahfi : 35-36)
5. Sikap Tawadhu’ Orang Lain yang Berlebihan
Ini adalah faktor eksternal yang bisa menyebabkan seseorang mejadi takabur. Sebab orang-orang di sekelilingnya terlalu tawadhu secara berlebihan kepada dirinya. Sebab ini sering dijumpai pada pemimpin atau guru yang takabur disebabkan lingkungan seperti ini. Pengikut yang tawadhu', selalu menghormatinya, dan tidak pernah menasehatinya, mengarahkan seseorang berpikiran bahwa ia adalah orang mulia dan jauh dari kesalahan. Guru yang selalu dihormati muridnya dan mendapatkan kemuliaan dari mereka juga berpotensi menganggap dirinya sempurna. Jadilah ia takabur. Tidak menutup kemungkinan hal ini juga menimpa ulama. Karenanya mencium tangan seseorang baik itu pemimpin maupun ulama dimakruhkan oleh sebagian ulama.
Begitu pula penghormatan dengan berdiri dan berbagai bentuknya. Selain itu merupakan bentuk ketawadhu'an yang memperlemah posisi orang yang melakukan, juga bisa menjadi faktor penyebab takabur bagi orang yang diberi penghormatan.
Rasulullah SAW bersabda:
Barangsiapa yang suka agar orang-orang berdiri untuk menghormatinya, maka bersiaplah untuk menempati tempat duduk dari api neraka. (HR. Abu Daud)
Dalam kesempatan yang lain beliau bersabda:
Janganlah kalian berdiri menyerupai orang-orang yang saling mengagungkan satu sama lain (HR. Abu Daud)
6. Pujian Orang Lain di Depannya Secara Berlebihan
Selain ketawadhuan, pujian orang lain didepan seseorang juga berpotensi membawa takabur pada orang yang dipuji. Karenanya Rasulullah mengingatkan, bahkan dengan tegas kepada orang yang suka memuji orang lain di depannya, apalagi secara tidak proporsional.
Rasulullah memerintahkan kami untuk menaburkan tanah ke muka orang yang suka memuji (HR. Muslim)
7. Lalai terhadap Dampak Buruk Takabur
Orang yang takabur biasanya karena ia lalai terhadap dampak takabur. Kelalaian di sini bukanlah kelalaian secara pengetahuan atau kognitif. Sebab betapa banyak orang yang secara teori hafal dampak buruk takabur tetapi ia tetap melakukannya.
Kelalaian di sini lebih dalam maknanya daripada itu. Yakni memahami dan menyadari bahwa jika ia melakukan takabur dampak buruk dunia akhirat bisa menghancurkannya. Di saat seseorang sadar akan bahaya yang menimpanya, maka ia akan menghindari perbuatan itu. Sementara pengetahuan atau hafalan yang tidak mencegah seseorang dari takabur, belumlah mengeluarkan ia dari kelalaian yang sebenarnya.
Demikian 7 faktor penyebab takabur, semoga dengan mengetahuianya Allah menjadikan kita paham akan sebab-sebab yang bisa menjerumuskan kita pada takabur. Dengan pemahaman itu kita berdoa kepada Allah agar dihindarkan dari ketujuh hal itu dan diselematkan dari takabur.
Dengan mengetahui faktor-faktor penyebab suatu penyakit, diharapkan kita bisa menghindarinya. Demikian pula dengan takabur ini. Ada beberapa faktor penyebab yang semoga setelah kita mengetahuinya lalu berupaya keras untuk menghindarinya, sebagaimana kita menghindari api yang telah kita ketahui panasnya bisa membakar kita.
Berikut ini adalah sebagian dari faktor penyebab takabur:
1. Salah dalam Memahami Hakikat Dirinya
Iblis sebagai makhluk pertama yang dihinggapi takabur hingga membuatnya terlempar dari surga, melakukan kesalahan fatal dalam memandang hakikat dirinya. Ia lupa betapapun ia ditempatkan di surga, sebenarnya ia adalah makhluk Allah.
Demikian pula orang yang takabur, terutama ketika merendahkan orang lain. Ia salah dalam memandang hakikat dirinya yang pada mulanya tercipta dari air yang hina.
Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. (QS. As-Sajdah : 8)
Ia tidak ingat ayat ini. Ia tidak menyadari hakikat dirinya. Yang ia tahu ia kini adalah manusia dengan organ yang sempurna, sosok yang hebat, dan wajah yang rupawan. Berbagai potensi yang telah dianugerahkan Allah kepadanya, mulai dari kecerdasan sampai kekayaan dan kekuasaan, dianggap sebagai milik dirinya sendiri. Hingga segala kelebihan dari fisik hingga akal itu dipahami sebagai hakikat dirinnya.
2. Salah dalam Memahami Hakikat Kemuliaan
Ketika iblis mengaku lebih mulia dari Adam, ia menggunakan parameter yang salah dalam mengukur kemuliaan.
Dan (ingatlah), tatkala Kami berfirman kepada para malaikat: "Sujudlah kamu semua kepada Adam", lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia berkata: "Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?" (QS Israa’ : 61)
Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Iblis menjawab: "Saya lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah". (QS Al A’raaf :12)
Jika iblis memahami hakikat kemuliaan ditentukan dari asal penciptaan, orang seperti Fir’aun memahami hakikat kemuliaan ditentukan oleh kekuasaan. Lalu orang seperti Qarun menganggap kemuliaan ditentukan oleh kekayaan. Dan orang seperti Haman menganggap kemuliaan ditentukan oleh kekuatan dan kecerdasan.
Tiga hal yang disebutkan terakhir ini barangkali saat ini amat dominan dipakai sebagai logika kemuliaan. Maka jika kebenaran berasal dari mereka yang tidak lebih berkuasa akan ditolak. Al-haq yang dibawa oleh mereka yang tidak lebih kaya dari dirinya tidak akan diterima. Dan keadilan yang dilantangkan oleh mereka yang tidak lebih kuat dari dirinya juga akan diabaikan.
Ada hal lain yang juga menjadi standar salah dalam memandang hakikat kemuliaan. Misalnya usia, pengetahuan, pengalaman, bahkan jasa. Termasuk dalam dakwah. Maka kadang terjadi aktifis dakwah yang terjebak pada takabur dan tidak mau menerima kebenaran karena merasa usia perjuangannya lebih lama, pengalaman dakwahnya lebih banyak, atau jasanya lebih besar. Hingga ada pula yang karena memandang dirinya adalah qiyadah, maka perbedaan yang dibawa oleh jundiyahnya selalu dianggap salah. Kesalahan dalam memahami hakikat kemuliaan bisa menjerumuskan kita ke dalam ke-takabur-an sebagaimana iblis diusir dari surga dan dilaknat Allah selama-lamanya.
3. Tidak Memiliki Pemahaman yang Benar tentang Hakikat Kebenaran
Ali radhiyallaahu anhu terkenal dengan kata-katanya: ”Lihatlah apa yang diucapkan dan jangan lihat siapa yang mengucapkan.” Seringkali kita memahami maqalah ini sebagai upaya untuk obyektif menilai kebenaran. Namun di sana juga ada nilai bahwa kebenaran akan selamanya benar meskipun datangnya dari siapapun.
Jika kita memiliki standar penilaian yang benar, insya Allah kita akan lebih selamat dari bahaya menolak kebenaran, sebuah sikap yang merupakan inti takabur. Dan kebenaran itu adalah apa yang benar menurut Allah dan Rasul-Nya (Al-Qur'an dan Sunnah), siapapun yang mengatakannya.
4. Mengira bahwa Nikmat itu Kekal pada Dirinya
Orang yang takabur biasanya lupa bahwa alasan yang melatarinya untuk berbuat demikian tidaklah abadi pada dirinya. Kenikmatan yang ia rasakan, yang dengannya ia menyombongkan diri hanyalah bersifat sementara. Allah bisa mencabutnya dalam waktu yang cepat dan tak terkira.
Tidak peduli apakah kenikmatan yang kemudian disombongkan itu berupa harta, keturunan, popularitas, jabatan, kekuasaan, dan sebagainya. Perihalnya menyerupai orang yang digambarkan Allah SWT dalam salah satu firnam-Nya:
Dan dia memasuki kebun sedangkan dia zalim terhadap dirinya sendiri. Ia berkata, "Aku kira kebun itu tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang. Sekiranya aku dikembalikan kepada Tuhanku pasti aku akan mendapatkan tempat yang lebih baik daripada kebun-kebunku itu." (QS. Al-Kahfi : 35-36)
5. Sikap Tawadhu’ Orang Lain yang Berlebihan
Ini adalah faktor eksternal yang bisa menyebabkan seseorang mejadi takabur. Sebab orang-orang di sekelilingnya terlalu tawadhu secara berlebihan kepada dirinya. Sebab ini sering dijumpai pada pemimpin atau guru yang takabur disebabkan lingkungan seperti ini. Pengikut yang tawadhu', selalu menghormatinya, dan tidak pernah menasehatinya, mengarahkan seseorang berpikiran bahwa ia adalah orang mulia dan jauh dari kesalahan. Guru yang selalu dihormati muridnya dan mendapatkan kemuliaan dari mereka juga berpotensi menganggap dirinya sempurna. Jadilah ia takabur. Tidak menutup kemungkinan hal ini juga menimpa ulama. Karenanya mencium tangan seseorang baik itu pemimpin maupun ulama dimakruhkan oleh sebagian ulama.
Begitu pula penghormatan dengan berdiri dan berbagai bentuknya. Selain itu merupakan bentuk ketawadhu'an yang memperlemah posisi orang yang melakukan, juga bisa menjadi faktor penyebab takabur bagi orang yang diberi penghormatan.
Rasulullah SAW bersabda:
Barangsiapa yang suka agar orang-orang berdiri untuk menghormatinya, maka bersiaplah untuk menempati tempat duduk dari api neraka. (HR. Abu Daud)
Dalam kesempatan yang lain beliau bersabda:
Janganlah kalian berdiri menyerupai orang-orang yang saling mengagungkan satu sama lain (HR. Abu Daud)
6. Pujian Orang Lain di Depannya Secara Berlebihan
Selain ketawadhuan, pujian orang lain didepan seseorang juga berpotensi membawa takabur pada orang yang dipuji. Karenanya Rasulullah mengingatkan, bahkan dengan tegas kepada orang yang suka memuji orang lain di depannya, apalagi secara tidak proporsional.
Rasulullah memerintahkan kami untuk menaburkan tanah ke muka orang yang suka memuji (HR. Muslim)
7. Lalai terhadap Dampak Buruk Takabur
Orang yang takabur biasanya karena ia lalai terhadap dampak takabur. Kelalaian di sini bukanlah kelalaian secara pengetahuan atau kognitif. Sebab betapa banyak orang yang secara teori hafal dampak buruk takabur tetapi ia tetap melakukannya.
Kelalaian di sini lebih dalam maknanya daripada itu. Yakni memahami dan menyadari bahwa jika ia melakukan takabur dampak buruk dunia akhirat bisa menghancurkannya. Di saat seseorang sadar akan bahaya yang menimpanya, maka ia akan menghindari perbuatan itu. Sementara pengetahuan atau hafalan yang tidak mencegah seseorang dari takabur, belumlah mengeluarkan ia dari kelalaian yang sebenarnya.
Demikian 7 faktor penyebab takabur, semoga dengan mengetahuianya Allah menjadikan kita paham akan sebab-sebab yang bisa menjerumuskan kita pada takabur. Dengan pemahaman itu kita berdoa kepada Allah agar dihindarkan dari ketujuh hal itu dan diselematkan dari takabur.
21 Jul 2010
WAHABI>>>>
A. PENGERTIAN WAHABI
Musuh-musuh tauhid memberi gelar wahabi kepada setiapmuwahhid (yang mengesakan Allah), nisbat kepada Muhammad bin Abdul Wahab, Jika mereka jujur, mestinya mereka mengatakan Muhammadi nisbat kepada namanya yaitu Muhammad. Betapapun begitu, ternyata Allah menghendaki nama wahabi sebagai nisbat kepada Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari nama-nama Allah yang paling baik (Asmaa’ul Husnaa). Jika shufimenisbatkan namanya kepada jama’ah yang memakai shuf (kain wol) maka sesungguhnya wahabi menisbatkan diri mereka denganAl-Wahhab (Yang Maha Pemberi), yaitu Allah yang memberikan tauhid dan meneguhkannya untuk berdakwah kepada tauhid.
Musuh-musuh tauhid memberi gelar wahabi kepada setiapmuwahhid (yang mengesakan Allah), nisbat kepada Muhammad bin Abdul Wahab, Jika mereka jujur, mestinya mereka mengatakan Muhammadi nisbat kepada namanya yaitu Muhammad. Betapapun begitu, ternyata Allah menghendaki nama wahabi sebagai nisbat kepada Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari nama-nama Allah yang paling baik (Asmaa’ul Husnaa). Jika shufimenisbatkan namanya kepada jama’ah yang memakai shuf (kain wol) maka sesungguhnya wahabi menisbatkan diri mereka denganAl-Wahhab (Yang Maha Pemberi), yaitu Allah yang memberikan tauhid dan meneguhkannya untuk berdakwah kepada tauhid.
B. MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB
Beliau dilahirkan di kota ‘Uyainah, Nejed pada tahun 1115 H. Hafal Al-Qur’an sebelum berusia sepuluh tahun. Belajar kepada ayahandanya tentang fiqih Hambali, belajar hadits dan tafsir kepada para syaikh dari berbagai negeri, terutama di kota Madinah. Beliau memahami tauhid dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Perasaan beliau tersentak setelah menyaksikan apa yang terjadi di negerinya Nejed dengan negeri-negeri lainnya yang beliau kunjungi berupa kesyirikan, khurafat dan bid’ah. Demikian juga soal menyucikan dan mengkultuskan kubur, suatu hal yang bertentangan dengan ajaran Islam yang benar.
Ia mendengar banyak wanita di negerinya bertawassul dengan pohon kurma yang besar. Mereka berkata, “Wahai pohon kurma yang paling agung dan besar, aku menginginkan suami sebelum setahun ini.”
Di Hejaz, ia melihat pengkultusan kuburan para sahabat, keluarga Nabi (ahlul bait), serta kuburan Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam , hal yang sesungguhnya tidak boleh dilakukan kecuali hanya kepada Allah semata.
Di Madinah, ia mendengar permohonan tolong (istighaatsah) kepada Rasulullah SAW, serta berdo’a (memohon) kepada selain Allah, hal yang sungguh bertentangan dengan Al-Qur’an dan sabda Rasulullah SAW . Al-Qur’an menegaskan:
“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa’at dan tidak (pula) memberi madharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, sesungguh-nya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim.” (Yunus: 106)
Zhalim dalam ayat ini berarti syirik. Suatu kali, Rasulullah SAW berkata kepada anak pamannya, Abdullah bin Abbas:
“Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi, ia berkata hasan shahih)
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menyeru kaumnya kepada tauhid dan berdo’a (memohon) kepada Allah semata, sebab Dialah Yang Mahakuasa dan Yang Maha Menciptakan sedangkan selainNya adalah lemah dan tak kuasa menolak bahaya dari dirinya dan dari orang lain. Adapun mahabbah (cinta kepada orang-orang shalih), adalah dengan mengikuti amal shalihnya, tidak dengan menjadikannya sebagai perantara antara manusia dengan Allah, dan juga tidak menjadikannya sebagai tempat bermohon selain daripada Allah.
1. Penentangan orang-orang batil terhadapnya:
Para ahli bid’ah menentang keras dakwah tauhid yang dibangun oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Ini tidak mengherankan, sebab musuh-musuh tauhid telah ada sejak zaman Rasulullah. Bahkan mereka merasa heran terhadap dakwah kepada tauhid. Allah berfirman: “Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja?Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat menghe-rankan.” (Shaad: 5) Musuh-musuh syaikh memulai perbuatan kejinya dengan memerangi dan menyebarluaskan berita-berita bohong tentangnya. Bahkan mereka bersekongkol untuk membunuhnya dengan maksud agar dakwahnya terputus dan tak berkelanjutan. Tetapi Allah Subhanahu wata’ala menjaganya dan memberinya penolong, sehingga dakwah tauhid terbesar luas di Hejaz, dan di negara-negara Islam lainnya.
Meskipun demikian, hingga saat ini, masih ada pula sebagian manusia yang menyebarluaskan berita-berita bohong. Misalnya mereka mengatakan, dia (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) adalah pembuat madzhab yang kelima, padahal dia adalah seorang penganut madzhab Hambali. Sebagian mereka mengatakan, orang-orang wahabi tidak mencintai Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam serta tidak bershalawat atasnya. Mereka anti bacaan shalawat.
Padahal kenyataannya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab telah menulis kitab “Mukhtashar Siiratur Rasuul Shallallahu’alaihi wasallam “. Kitab ini bukti sejarah atas kecintaan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab kepada Rasulullah. Mereka mengada-adakan berbagai cerita dusta tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, suatu hal yang karenanya mereka bakal dihisab pada hari Kiamat.
Seandainya mereka mau mempelajari kitab-kitab beliau dengan penuh kesadaran, niscaya mereka akan menemukan Al-Qur’an, hadits dan ucapan sahabat sebagai rujukannya.
Seandainya mereka mau mempelajari kitab-kitab beliau dengan penuh kesadaran, niscaya mereka akan menemukan Al-Qur’an, hadits dan ucapan sahabat sebagai rujukannya.
Seseorang yang dapat dipercaya memberitahukan kepada penulis (Syaikh Zainu), bahwa ada salah seorang ulama yang memperingatkan dalam pengajian-pengajiannya dari ajaranwahabi. Suatu hari, salah seorang dari hadirin memberinya sebuah kitab karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Sebelum diberikan, ia hilangkan terlebih dahulu nama pengarangnya. Ulama itu membaca kitab tersebut dan amat kagum dengan kandungannya. Setelah mengetahui siapa penulis buku yang dibaca, mulailah ia memuji Muhammad bin Abdul Wahab.
2. Dalam sebuah hadits disebutkan:
“Ya Allah, berilah keberkahan kepada kami di negeri Syam, dan di negeri Yaman. Mereka berkata, ‘Dan di negeri Nejed.’ Rasulullah berkata, ‘Di sana banyak terjadi berbagai kegoncangan dan fitnah, dan di sana (tempat) munculnya para pengikut setan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Ibnu Hajar Al-’Asqalani dan ulama lainnya menyebutkan, yang dimaksud Nejed dalam hadits di atas adalah Nejed Iraq. Hal itu terbukti dengan banyaknya fitnah yang terjadi di sana. Kota yang juga di situ Al-Husain bin Ali ra dibunuh.
Hal ini berbeda dengan anggapan sebagian orang, bahwa yang dimaksud dengan Nejed adalah Hejaz, kota yang tidak pernah tampak di dalamnya fitnah sebagaimana yang terjadi di Iraq. Bahkan sebaliknya, yang tampak di Nejed Hejaz adalah tauhid, yang karenanya Allah menciptakan alam, dan karenanya pula Allah mengutus para rasul.
3. Sebagian ulama yang adil sesungguhnya menyebutkan:
Bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah salah seorang mujaddid (pembaharu) abad dua belas Hijriyah. Mereka menulis buku-buku tentang beliau. Di antara para pengarang yang menulis buku tentang Syaikh adalah Syaikh Ali Thanthawi. Beliau menulis buku tentang “Silsilah Tokoh-tokoh Sejarah”, di antara mereka terdapat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan Ahmad bin ‘Irfan.
Dalam buku tersebut beliau menyebutkan, akidah tauhid sampai ke India dan negeri-negeri lainnya melalui jama’ah haji dari kaum muslimin yang terpengaruh dakwah tauhid di kota Makkah. Karena itu, kompeni Inggris yang menjajah India ketika itu, bersama-sama dengan musuh-musuh Islam memerangi akidah tauhid tersebut. Hal itu dilakukan karena mereka mengetahui bahwa akidah tauhid akan menyatukan umat Islam dalam melawan mereka.
Selanjutnya mereka mengomando kepada kaum Murtaziqahagar mencemarkan nama baik dakwah kepada tauhid. Maka mereka pun menuduh setiap muwahhid yang menyeru kepada tauhid dengan kata wahabi. Kata itu mereka maksudkan sebagai padanan dari tukang bid’ah, sehingga memalingkan umat Islam dari akidah tauhid yang menyeru agar umat manusia berdo’a hanya semata-mata kepada Allah. Orang-orang bodoh itu tidak mengetahui bahwa katawahabi adalah nisbat kepada Al-Wahhaab (yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari Nama-nama Allah yang paling baik (Asma’ul Husna) yang memberikan kepadanya tauhid dan menjanjikannya masuk Surga.
Carilah kebenaran dengan jalan berfikir, janganlah anda seperti orang buta yang mengikut tuntunan orang. Keraguan itulah yang dapat menyampaikan kepada kebenaran, sesiapa yang tidak ragu, maka dia tidak berfikir, sesiapa yang tidak berfikir maka dia tidak waspada. Barang siapa yang tidak waspada maka dia tetap buta dan tersesat. Renungilah wahai Insan……
Sumber:http://Mujahid's.blogspot.com
12 Jul 2010
« Wasiat Berbuat Baik Kepada Orang Tua Tatkala Keduanya Berusia Lanjut
Di dalam surat Al-Ahqaf ayat 15 Allah Subhanahu wa Ta’alaa berfirman :
“Artinya : Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a, “Ya Rabb-ku, tunjukkilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridlai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.
Ukuran terendah mengandung sampai melahirkan adalah 6 bulan (pada umumnya adalah 9 bulan 10 hari) di tambah 2 tahun menyusui anak jadi 30 bulan, sehingga tidak bertentangan dengan surat Lukman ayat 14. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir]
Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar dari pada kepada bapak.
Dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.
“Artinya : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali ?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi ?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu!’ Ia bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu!’, Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi, ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Bapakmu’ “[Hadits Riwayat Bukhari (Al-Fath 10/401) No. 5971, Muslim 2548]
Imam Adz-Dzhabai dalam kitabnya Al-Kabair berkata:
“Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan seolah-olah sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Dan dia telah menyusuimu dari teteknya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu. Dan dia cuci kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikannmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suara yang paling keras.
Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik. Dia selalu mendo’akanmu dengan taufiq, baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat di sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga disisimu. Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar. Engkau puas dalam keadaan dia haus. Dan engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu. Dan engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia buat. Dan rasanya berat atasmu memeliharanya padahal adalah urusan yang mudah. Dan engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek. Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.
Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut. Dan engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu. Dan Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ‘Aalamin. Dan Allah berfirman di dalam surat Al-Hajj ayat 10 :
“Artinya : (Akan dikatakan kepadanya), ‘Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tanganmu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali tidak pernah berbuat zhalim kepada hamba-hambaNya”.
Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi tentang besarnya jasa seorang ibu terhadap anak dan menjelaskan bahwa jasa orang tua kepada anak tidak bisa dihitung. Ketika Ibnu Umar menemui seseorang yang menggendong ibunya beliau mengatakan, “Itu belum bisa membalas”. Kemudian juga beberapa riwayat[1] disebutkan bahwa seandainya kita ingin membalas jasa orang tua kita dengan harta atau dengan yang lain, masih juga belum bisa membalas. Bahkan dikatakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Kamu dan hartamu milik bapakmu” [Hadits Riwayat Ibnu Majah dari Jabir, Thabrani dari Samurah dan Ibnu Mas'ud, Lihat Irwa'ul Ghalil 838]
[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, terbitan Darul Qolam - Jakarta]
_________
Foote Note.
[1] Shahih Ibnu Majah No. 1855
Sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/457/slash/0
“Artinya : Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tuanya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdo’a, “Ya Rabb-ku, tunjukkilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shalih yang Engkau ridlai, berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.
Ukuran terendah mengandung sampai melahirkan adalah 6 bulan (pada umumnya adalah 9 bulan 10 hari) di tambah 2 tahun menyusui anak jadi 30 bulan, sehingga tidak bertentangan dengan surat Lukman ayat 14. [Lihat Tafsir Ibnu Katsir]
Dalam ayat ini disebutkan bahwa ibu mengalami tiga macam kepayahan, yang pertama adalah hamil kemudian melahirkan dan selanjutnya menyusui. Karena itu kebaikan kepada ibu tiga kali lebih besar dari pada kepada bapak.
Dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.
“Artinya : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Datang seseorang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali ?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi ?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu!’ Ia bertanya lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ibumu!’, Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi, ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Bapakmu’ “[Hadits Riwayat Bukhari (Al-Fath 10/401) No. 5971, Muslim 2548]
Imam Adz-Dzhabai dalam kitabnya Al-Kabair berkata:
“Ibumu telah mengandungmu di dalam perutnya selama sembilan bulan seolah-olah sembilan tahun. Dia bersusah payah ketika melahirkanmu yang hampir saja menghilangkan nyawanya. Dan dia telah menyusuimu dari teteknya, dan ia hilangkan rasa kantuknya karena menjagamu. Dan dia cuci kotoranmu dengan tangan kanannya, dia utamakan dirimu atas dirinya serta atas makanannya. Dia jadikan pangkuannya sebagai ayunan bagimu. Dia telah memberikannmu semua kebaikan dan apabila kamu sakit atau mengeluh tampak darinya kesusahan yang luar biasa dan panjang sekali kesedihannya dan dia keluarkan harta untuk membayar dokter yang mengobatimu dan seandainya dipilih antara hidupmu dan kematiannya, maka dia akan meminta supaya kamu hidup dengan suara yang paling keras.
Betapa banyak kebaikan ibu, sedangkan engkau balas dengan akhlak yang tidak baik. Dia selalu mendo’akanmu dengan taufiq, baik secara sembunyi maupun terang-terangan. Tatkala ibumu membutuhkanmu di saat di sudah tua renta, engkau jadikan dia sebagai barang yang tidak berharga disisimu. Engkau kenyang dalam keadaan dia lapar. Engkau puas dalam keadaan dia haus. Dan engkau mendahulukan berbuat baik kepada istri dan anakmu dari pada ibumu. Dan engkau lupakan semua kebaikan yang pernah dia buat. Dan rasanya berat atasmu memeliharanya padahal adalah urusan yang mudah. Dan engkau kira ibumu ada di sisimu umurnya panjang padahal umurnya pendek. Engkau tinggalkan padahal dia tidak punya penolong selainmu.
Padahal Allah telah melarangmu berkata ‘ah’ dan Allah telah mencelamu dengan celaan yang lembut. Dan engkau akan disiksa di dunia dengan durhakanya anak-anakmu kepadamu. Dan Allah akan membalas di akhirat dengan dijauhkan dari Allah Rabbul ‘Aalamin. Dan Allah berfirman di dalam surat Al-Hajj ayat 10 :
“Artinya : (Akan dikatakan kepadanya), ‘Yang demikian itu, adalah disebabkan perbuatan yang dikerjakan oleh kedua tanganmu dahulu dan sesungguhnya Allah sekali-kali tidak pernah berbuat zhalim kepada hamba-hambaNya”.
Demikianlah dijelaskan oleh Imam Adz-Dzahabi tentang besarnya jasa seorang ibu terhadap anak dan menjelaskan bahwa jasa orang tua kepada anak tidak bisa dihitung. Ketika Ibnu Umar menemui seseorang yang menggendong ibunya beliau mengatakan, “Itu belum bisa membalas”. Kemudian juga beberapa riwayat[1] disebutkan bahwa seandainya kita ingin membalas jasa orang tua kita dengan harta atau dengan yang lain, masih juga belum bisa membalas. Bahkan dikatakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Artinya : Kamu dan hartamu milik bapakmu” [Hadits Riwayat Ibnu Majah dari Jabir, Thabrani dari Samurah dan Ibnu Mas'ud, Lihat Irwa'ul Ghalil 838]
[Disalin dari Kitab Birrul Walidain, edisi Indonesia Berbakti Kepada Kedua Orang Tua oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, terbitan Darul Qolam - Jakarta]
_________
Foote Note.
[1] Shahih Ibnu Majah No. 1855
Sumber : http://www.almanhaj.or.id/content/457/slash/0
10 Jul 2010
Siapakah Ahlul Kitab itu??
Pembahasan mengenai Ahlul-Kitab sangatlah penting karena terdapat beberapa hukum Islam yang terkait dengan mereka. Allah ta’ala telah memberikan satu kekhususan bagi mereka yang tidak didapatkan oleh kaum yang lain, seperti : kebolehan menikahi wanita mereka, kebolehan memakan sembelihan mereka, dan yang lainnya. Oleh karena itu, di sini akan saya tuliskan beberapa point penting yang terkait dengan mereka.
Ahlul-Kitab Termasuk Orang-Orang Kafir
Meskipun Islam memberikan beberapa kekhususan bagi mereka, namun hal itu tidak menjadikan mereka masuk dalam lingkaran iman dan Islam. Bara’ah kita kepada mereka tetap berlaku sebagaimana bara’ah itu juga berlaku kepada orang-orang kafir secara umum. Itu harus menjadi keyakinan segenap orang yang mengaku Rabb-nya adalah Allah dan Nabinya adalah Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Allah ta’ala berfirman :
لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ
“Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata” [QS. Al-Bayyinah : 1].
مَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلا الْمُشْرِكِينَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَاللَّهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
“Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar” [QS. Al-Baqarah : 105].
Yahudi dan Nashrani Termasuk Ahlul-Kitaab
Tidak ada perbedaan pendapat bahwa Yahudi dan Nashrani termasuk Ahlul-Kitaab.
Allah ta’ala berfirman :
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ وَإِنَّ فَرِيقًا مِنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui” [QS. Al-Baqarah : 146].
Mengomentari ayat di atas, Ibnu Jariir Ath-Thabariy rahimahullah berkata :
يقول جل ثناؤه: وإنّ طائفةً من الذين أوتوا الكتاب -وهُمُ اليهود والنصارى. وكان مجاهد يقول: هم أهل الكتاب.
“Allah yang Maha Agung dan Terpuji berfirman : ‘Dan sesungguhnya golongan yang telah diberikan Al-Kitaab’ – mereka adalah Yahudi dan Nashrani. Mujaahid berkata : ‘Mereka (Yahudi dan Nashrani) adalah Ahlul-Kitaab” [Tafsir Ath-Thabariy, 3/188, tahqiq : Ahmad Syaakir; Muassasah Ar-Risaalah, Cet. 1/1420].
Ibnu Qudaamah rahimahullah berkata :
وأهل الكتاب الذين هذا حكمهم، هم أهل التوراة والإنجيل. قال الله تعالى : (أَنْ تَقُولُوا إِنَّمَا أُنْزِلَ الْكِتَابُ عَلَى طَائِفَتَيْنِ مِنْ قَبْلِنَا). فأهل التوراة اليهود والسامرة، وأهل الإنجيل النصارى، ومن وافقهم في أصل دينهم من الإِفْرِنْج والأَرْمَن وغيرهم
“Dan yang dimaksud dengan Ahlul-Kitab adalah ahlut-taurah dan ahlul-injiil. Allah ta’ala berfirman : ‘(Kami turunkan Al Qur'an itu) agar kamu (tidak) mengatakan: Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami’ (QS. Al-An’aam : 156). Maka, ahlut-taurah adalah Yahudi dan Saamirah, sedangkan ahlul-injiil adalah Nashaara dan yang berkesesuaian dengan pokok agama mereka, seperti kelompok Ifrij, Arman, dan yang lainnya” [Al-Mugniy, 9/546, tahqiq : Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul-Muhsin At-Turkiy & Dr. ‘Abdul-Fattaah bin Muhammad Al-Huluw; Daar ‘Aalamil-Kutub, 3/1417].
Apakah Majusi Termasuk Ahlul-Kitaab ?
وليس للمجوس كتاب، ولا تحل ذبائحهم، ولا نكاح نسائهم. نص عليه أحمد. وهو قول عامة العلماء، إلا أبا ثور، فإنه أباح ذلك؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم : ((سُنُّوا بِهِمْ سُنَّةَ أَهْلِ الْكِتَابِ)). ولأنه يُرْوى أن حذيفة تزوج مجوسية. ولأنهم يقرون بالجزية. فأشبهوا اليهود والنصارى. ولنا، قول الله تعالى : (وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ). وقوله : (وَلَا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ). فرخص من ذلك في أهل الكتاب...
“Orang-orang Majusi tidaklah mempunyai Kitaab (sehingga bisa disebut Ahlul-Kitaab). Tidak halal sembelihan dan wanita mereka. Hal itu telah dikatakan oleh Ahmad, dan itulah pendapat jumhur ulama – kecuali Abu Tsaur. Ia (Abu Tsaur) telah membolehkan hal itu berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘Perlakukanlah mereka sebagaimana perlakuan (aturan) yang diterapkan pada Ahlul-Kitaab’. Juga karena telah diriwayatkan bahwasannya Hudzaifah pernah menikahi wanita Majusi. Juga karena telah ditetapkan pungutan jizyah pada mereka dimana hal ini menyerupai Yahudi dan Nashrani. Adapun kami, (berdalil dengan) firman Allah ta’ala : ‘Janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik’ dan juga firman-Nya : ‘Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir’. Maka Allah memberikan keringanan atas hal itu pada wanita Ahlul-Kitaab ….” [Al-Mughniy, 9/547].
Yang raajih dalam hal ini adalah pendapat jumhur ulama.
Hadits yang dimaksudkan oleh Abu Tsaur adalah sebagai berikut :
أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ ذَكَرَ الْمَجُوسَ فَقَالَ مَا أَدْرِي كَيْفَ أَصْنَعُ فِي أَمْرِهِمْ فَقَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ أَشْهَدُ لَسَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ سُنُّوا بِهِمْ سُنَّةَ أَهْلِ الْكِتَابِ
Bahwasannya ‘Umar bin Al-Khaththaab menyebut-nyebut tentang orang Majusi. Ia berkata : "Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan terhadap mereka". Lantas ‘Abdurrahmaan bin ‘Auf berkata : "Aku bersaksi bahwa aku mendengar Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda : ‘Perlakukanlah mereka sebagaimana perlakuan (aturan) yang diterapkan pada Ahlul-Kitaab".
Hadits ini hasan li-ghairihi.[1] Akan tetapi, yang dimaksudkan di sini adalah khusus perlakuan dalam pemungutan jizyah – bukan selainnya.
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَنْبَأَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ دِينَارٍ عَنْ بَجَالَةَ التَّمِيمِيِّ قَالَ لَمْ يُرِدْ عُمَرُ أَنْ يَأْخُذَ الْجِزْيَةَ مِنْ الْمَجُوسِ حَتَّى شَهِدَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَهَا مِنْ مَجُوسِ هَجَرَ
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrazzaaq : Telah memberitakan kepada kami Ibnu Juraij : Telah mengkhabarkan kepadaku ‘Amru bin Diinaar, dari Bajaalah At-Tamiimiy , ia berkata : “’Umar tidak ingin memungut jizyah dari orang-orang Majusi, hingga ‘Abdurrahman bin 'Auf bersaksi bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam telah memungut jizyah dari orang-orang Majusi Hajar” [Diriwayatkan oleh Ahmad 1/194; shahih].[2]
Terdapat riwayat mursal shahih bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam memungut jizyah dari orang Majusi Hajar, namun melarang untuk menikahi wanita mereka dan memakan sembelihan mereka.[3] Al-Baihaqiy rahimahullah berkata :
هذا مرسل وإجماع أكثر المسلمين عليه يؤكده ولا يصح ما روى عن حذيفة في نكاح مجوسية.
“Hadits ini mursal, dan ijma’ kebanyakan kaum muslimin terhadapnya (haramnya memakan sembelihan dan menikahi wanita-wanita Majusi) menguatkannya. Tidak shahih riwayat pernikahan Hudzaifah dengan wanita Majusi” [As-Sunan Al-Kubraa, 9/192].
Ini menunjukkan orang-orang Majusi bukan termasuk golongan Ahlul-Kitaab.
Perhatikan pula riwayat berikut :
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ سِنَانٍ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ عِمْرَانَ الْقَطَّانِ عَنْ أَبِي جَمْرَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ إِنَّ أَهْلَ فَارِسَ لَمَّا مَاتَ نَبِيُّهُمْ كَتَبَ لَهُمْ إِبْلِيسُ الْمَجُوسِيَّةَ
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Sinaan Al-Waasithiy : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bilaal, dari ‘Imraan Al-Qaththaan, dari Abu Jamrah, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata : “Sesungguhnya penduduk Persia ketika nabi mereka wafat, maka Iblis menuliskan untuk mereka agama Majusi” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 3042; dihasankan oleh Al-Albaaniy].[4]
Atsar Ibnu ‘Abbaas di atas menunjukkan bahwa agama Majusiy bukan agama samawiy yang turun melalui perantara seorang Nabi dan Rasul.
Mengenai pernikahan Hudzaifah dengan wanita Majusiy, Ibnu Qudaamah berkata :
ولم يثبت أن حذيفة تزوج مجوسية، وضعف أحمد رواية من روى عن حذيفة أنه تزوج مجوسية. وقال : أبو وائل يقول : تزوج يهودية. وهو أوثق ممن روى عنه أنه تزوج مجوسية. وقال ابن سيرين : كانت امرأة حذيفة نصرانية. ومع تعارض الروايات لا يثبت حكم إحداهن إلا بترجيح، على أنه لو يثبت ذلك عن حذيفة، فلا يجوز الاحتجاج به مع مخالفته الكتاب وقول سائر العلماء.
“Tidak shahih riwayat Hudzaifah menikahi wanita Majusi. Ahmad telah mendla’ifkan riwayat dari Hudzaifah bahwasannya ia menikahi wanita Majusi. Ia (Ahmad) berkata : Abu Waail berkata : ‘(Hudzaifah) menikahi wanita Yahudi’. Riwayat ini lebih shahih dari orang yang meriwayatkan darinya menikahi wanita Majusi’. Ibnu Siiriin berkata : ‘Istri Hudzaifah adalah seorang wanita Nashrani’. Dengan adanya pertentangan beberapa riwayat hal ini, maka tidak sah hukum salah satu di antaranya kecuali dengan jalan tarjih. Seandainya saja pernikahan dengan wanita Majusi itu shahih dari Hudzaifah, tetap tidak boleh berhujjah dengan karena menyelisihi Al-Qur’an dan perkataan seluruh ulama” [Al-Mughniy, 9/548].
Telah lewat perkataan Al-Baihaqiy atas kelemahan riwayat pernikahan Hudzaifah dengan wanita Majusi. Adapun riwayat pernikahannya dengan wanita Yahudi, maka ini shahih.
حدثنا عبد الله بن إدريس عن الصلت بن بهرام عن شقيق قال : تزوج حذيفة يهودية فكتب إليه عمر أن خل سبيلها ، فكتب إليه : إن كانت حراما خليت سبيلها ، فكتب إليه : إني لا أزعم أنها حرام ولكني أخاف أن يعاطوا المومسات منهن .
Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Idriis, dari Ash-Shalt bin Bahraam, dari Syaqiiq, ia berkata : Hudzaifah pernah menikahi wanita Yahudi. (Mengetahui hal tersebut), ‘Umar menuliskan surat kepadanya agar ia menceraikannya. Hudzaifah membalas suratnya dengan berkata : ‘Apabila hal itu diharamkan, aku pasti akan menceraikannya’. ‘Umar kembali membalasnya : ‘Sesungguhnya aku tidak mengatakan hal itu diharamkan. Akan tetapi aku khawatir engkau akan wanita pelacur di antara mereka’ [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, 9/85 no. 16417; sanadnya shahih].[5]
Apakah Shaabi’uun Termasuk Ahlul-Kitaab ?
وأما الصابئون، فاختلف فيهم السلف كثيرا، فَرُوِيَ عن أحمد أنهم جنس من النصارى، ونص عليه الشافعي، وعلق القول فيهم موضع آخر. وعن أحمد أنه قال : بلغني أنهم يسبتون، فهؤلاء إذا يشبهون اليهود. الصحيح فيهم أنهم إن كانوا يوافقون النصارى أو اليهود في أصل دينهم، ويخالفون في فروعه، فهم ممن وافقوه، وإن خالفوهم في أصل الدين، فليس هم منهم. والله أعلم.
“Adapun golongan Shaabi’uun, salaf banyak berselisih pendapat tentangnya. Diriwayatkan dari Ahmad bahwasannya mereka termasuk golongan Nashara. Hal itu tegaskan oleh Asy-Syaafi’iy, dan ia memberikan komentar tentang mereka di tempat yang lain. Dari Ahmad bahwasannya ia berkata : ‘Telah sampai kepadaku mereka merayakan hari Sabtu. Jika demikian, maka mereka serupa dengan orang-orang Yahudi’. Yang benar, jika mereka berkesesuaian dengan Nashrani atau Yahudi dalam pokok (ushul) agama mereka namun menyelisihi dalam cabang (furu’), maka mereka termasuk golongan yang berkesesuaian dengannya (Yahudi atau Nashrani). Akan tetapi jika mereka menyelisihi Yahudi dan Nashrani dalam pokok agama mereka, maka bukan termasuk mereka, wallaahu a’lam” [Al-Mughniy, 9/547].
As-Suddiy menguatkan mereka termasuk Ahlul-Kitaab [Tafsir Ath-Thabariy, 2/147]. Namun Mujaahid, Al-Hasan, Abu Najiih, dan Ibnu Zaid berpendapat mereka bukan termasuk Yahudi, Nashrani, ataupun Ahlul-Kitaab. [idem, 2/146]. Pendapat terakhir inilah yang lebih kuat, sebab tidak ada nash yang shahih dan sharih menyatakan mereka termasuk golongan yang diberikan Al-Kitab. Wallaahu a’lam.
Al-Albaaniy berkata :
لا نعلم أهل الكتاب إلا اليهود والنصارى
“Kami tidak mengetahui tentang Ahlul-Kitaab kecuali Yahudi dan Nashrani” [Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyyah Al-Muyassarah oleh Husain bin ‘Audah, 5/108; Al-Maktabah Al-Islaamiyyah, Cet. 1/1425].
Pendapat ini sangat kuat karena sejalan dengan firman Allah ta’ala :
وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ * أَنْ تَقُولُوا إِنَّمَا أُنْزِلَ الْكِتَابُ عَلَى طَائِفَتَيْنِ مِنْ قَبْلِنَا وَإِنْ كُنَّا عَنْ دِرَاسَتِهِمْ لَغَافِلِينَ
“Dan Al-Qur'an itu adalah kitab yang Kami turunkan yang diberkati, maka ikutilah dia dan bertakwalah agar kamu diberi rahmat, (Kami turunkan Al Qur'an itu) agar kamu (tidak) mengatakan : ‘Bahwa kitab itu hanya diturunkan kepada dua golongan saja sebelum kami, dan sesungguhnya kami tidak memperhatikan apa yang mereka baca" [QS. Al-An’aam : 155-156].
Hindu, Budha, Konghucu, dan yang Lainnya Termasuk Ahlul-Kitaab ?
Agama-agama tersebut merupakan agama buatan manusia yang Allah ta’ala tidak pernah memberikan keterangan tentangnya. Allah ta’ala tidak pernah memberikan Kitab kepada mereka. Bahkan, mereka menyembah berhala dengan terang-terangan. Seandainya mereka termasuk Ahlul-Kitaab, niscaya Allah dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah menurunkan keterangan tentangnya.
Pendapat yang menyatakan mereka termasuk Ahlul-Kitaab adalah pendapat yang baathil.
Wallaahu a’lam bish-shawwaab.
[abu al-jauzaa’ al-bogoriy – rajab 1431 – perumahan ciomas permai].
[1] Diriwayatkan oleh Maalik 2/669-670 no. 669, Asy-Syaafi’iy dalam Al-Musnad no. 1773, Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah 11/169 no. 2751, ‘Abdurazzaaq no. 10025, Abu Ya’laa no. 862, Al-Baihaqiy 9/189-190, dan Ibnu ‘Asaakir dalam At-Taariikh 54/269; dari jalan Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari ‘Umar bin Al-Khaththaab. Sanad hadits ini munqathi’ karena Muhammad bin ‘Aliy tidak pernah bertemu ‘Umar dan juga ‘Abdurrahman bin ‘Auf [lihat : At-Tamhiid, 2/114].
Diriwayatkan juga oleh Al-Bazzaar dalam Al-Musnad 3/264-265 no. 1056 dari jalan ‘Amru bin ‘Aliy, ia berkata : Telah memberitakan kepada kami Abu ‘Aliy Al-Hanafiy, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Maalik bin Anas, dari Ja’far bin Muhammad bin ‘Aliy, dari ayahnya, dari kakeknya, dari ‘Umar. Abu ‘Aliy Al-Hanafiy ini adalah : ‘Ubaidullah bin ‘Abdil-Majiid Al-Hanafiy, seorang yang tsiqah. Sanad hadits ini ma’lul. Ad-Daaruquthniy berkata : “Diriwayatkan oleh Maalik; dari riwayat Abu ‘Aliy ‘Ubaidullah bin ‘Abdil-Majiid Al-Hanafiy darinya (Maalik bin Anas), dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari kakeknya ‘Aliy bin Al-Husain. Ia telah diselisihi jama’ah ashhaabu Maalik dimana mereka tidak menyebutkan (dalam rantai sanadnya) : ‘dari kakeknya’. Begitu juga yang diriwayatkan oleh Ats-Tsauriy, Sulaimaan bin Bilaal, ‘Abdullah bin Idriis, Hafsh bin Ghiyaats, Anas bin ‘Iyaadl, dan Abu ‘Aashim An-Nabiil; dari Ja’far bin Muhammad - Abu ‘Aashim tidak mendengar dari Ja’far bin Muhammad selain hadits tersebut. Diriwayatkan juga oleh ‘Abdul-Wahhaab Ats-Tsaqafiy, Al-Qaasim bin Ma’n, Ibnu Juraij, ‘Aliy Ghiraab, dan yang lainnya; dari Ja’far, dari ayahnya secara mursal dari ‘Abdurrahmaan bin ‘Auf tanpa menyebutkan dalam sanadnya ‘Aliy bin Al-Husain. Inilah yang benar” [Al-‘Ilal, 4/299, tahqiq : Dr. Mahfudhur-Rahmaan As-Salafiy; Daaruth-Thayyibah, Cet. 1/1406]. Selain itu, ‘Aliy bin Al-Husain juga tidak pernah mendengar dari ‘Umar dan ‘Abdurahman bin ‘Auf radliyallaahu ‘anhumaa sebagaimana dikatakan Ibnu ‘Abdil-Barr dan Ibnu Hajar.
Hadits ini mempunyai syaahid. Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraaniy dalam Al-Ausath (3/375 no. 3442), ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Sahl : Telah mengkhabarkan kepada kami Ibraahiim Al-Hajjaaj : Telah menceritakan kepada kami Abu Rajaa’, dari Al-A’masy, dari Zaid bin Wahb : Bahwasannya ‘Umar pernah bertanya tentang status orang-orang Majusi. Lalu ‘Abdurrahmaan bin ‘Auf berkata : Aku bersaksi bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
المجوس طائفة من أهل الكتاب، فاحملواهم على ما تحملون عليه أهل الكتاب
“Majusi adalah golongan dari Ahlul-Kitaab. Maka perlakukanlah/bebanilah mereka apa yang kalian perlakukan dengannya pada Ahlul-Kitaab (yaitu dalam penarikan jizyah – Abul-Jauzaa’)”.
Al-Hasan bin Sahl mempunyai mutaba’ah dari Ibnu Abi ‘Aashim dan Al-Hasan bin ‘Abdil-‘Aziiz Al-Mujawwin : Telah menceritakan kepada kami Ibraahiim bin Al-Hajjaaj; selanjutnya seperti sanad di atas [lihat : Lisaanul-Miizaan, 3/487 dan Ma’rifatush-Shahaabah oleh Abu Nu’aim hal. 128 no. 497].
Sanad hadits ini dla’iif.
Abu Rajaa’ adalah Rauh bin Al-Musayyib At-Tamiimiy. Ibnu Ma’iin berkata : “Shuwailih”. Abu Haatim berkata : “Shaalih, tidak kuat” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 3/496 no. 2247]. Al-‘Ijliy berkata : “Orang Bashrah yang tsiqah”. Abu Daawud berkata : “Tidak mengapa dengannya” [Al-Jaami’ fil-Jarh wat-Ta’diil, 1/251 no. 1282]. Ibnu Syaahiin memasukkannya dalam Ats-Tsiqaat (hal. 129 no. 350). Ibnu Hibbaan berkata : “Meriwayatkan dari orang-orang tsiqah hadits palsu, membolak-balikkan sanad, memarfu’kan sanad mauquf,… tidak halal riwayat yang berasal darinya” [Al-Majruuhiin, 1/370 no. 342]. Ibnu ‘Adiy berkata : “Meriwayatkan dari Tsaabit dan Yaziid Ar-Raqqaasiy hadits-hadits yang tidak mahfuudh” [Al-Kaamil, 4/58 no. 664]. Al-Bazzaar berkata : “Tsiqah” [Lisaanul-Miizaan, 3/486-487 no. 3175]. Ibnul-Jauziy memasukkannya dalam jajaran perawi dla’iif [Adl-Dlu’afaa’ wal-Matruukuun, 1/289 no. 1251]. Begitu juga dengan Adz-Dzahabiy [Al-Mughniy 1/358 no. 2149 dan Ad-Diiwaan hal. 140 no. 1436]. Kesimpulannya : Ia seorang yang tidak kuat haditsnya, terutama jika bersendirian dalam periwayatan. Wallaahu a’lam.
Selain itu, Al-A’masy telah membawakan dengan ‘an’anah sedangkan ia seorang mudallis.
Catatan : Lafadh : ‘Majusi adalah golongan dari Ahlul-Kitaab’ bukan termasuk lafadh yang dikuatkan oleh hadits sebelumnya, sehingga hukumnya tetap dla’iif.
[2] Riwayat Bajaalah At-Tamiimiy dari ‘Umar bin Al-Khaththaab melalui perantaraan surat ‘Umar yang datang kepadanya saat ia (Bajaalah) menjabat sekretaris Jaza’ bin Mu’aawiyyah.
حدثنا وكيع عن سفيان عن قيس بن مسلم عن الحسن بن محمد أن النبي صلى الله عليه وسلم كتب إلى مجوس أهل هجر يعرض عليهم الاسلام فمن أسلم قبل منه ومن لم يسلم ضرب عليه الجزية غير ناكحي نسائهم ولا آكلي ذبائحهم
Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Sufyaan, dari Qais bin Muslim, dari Al-Hasan bin Muhammad : Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah menulis kepada orang-orang Majusi Hajar menawarkan pada mereka Islam. Barangsiapa yang masuk Islam, maka diterima. Dan barangsiapa yang tidak mau, maka dikenakan kewajiban membayar jizyah, kecuali jangan menikahi wanita-wanita mereka dan memakan sembelihan-sembelihan mereka” [Al-Mushannaf, 9/118-119 no. 16581 – tahqiq : Muhammad ‘Awwaamah].
Diriwayatkan juga oleh ‘Abdurrazzaaq no. 10028, Abu ‘Ubaid dalam Al-Amwaal no. 76, Al-Haarits bin Abi Usaamah dalam Zawaaid-nya no. 675, dan Al-Baihaqiy 9/284-285; semuanya dari jalan Sufyaan Ats-Tsauriy, dari Qais bin Muslim, selanjutnya seperti hadits di atas.
Muhammad bin Bilaal Al-Kindiy , ia diperselisihkan para ulama. Abu Daawud berkata : “Tidaklah aku mendengar (tentangnya) kecuali kebaikan”. Ibnu Hibbaan memasukkannya dalam Ats-Tsiqaat. Ibnu ‘Adiy berkata : “Haditsnya tidak banyak, aku mengharap tidak mengapa dengannya”. Al-‘Uqailiy berkata : “Orang Bashrah, banyak keliru dalam haditsnya”. Adz-Dzahabiy mengomentarinya : “Shaduuq, keliru dalam hadits sebagaimana lumrahnya orang-orang berbuat keliru”. Kesimpulan yang benar atas dirinya adalah shaduuq hasanul-hadiits.
‘Imraan bin Daawar Al-‘Ammiy, ia diperselisihkan para ulama. ‘Abdurrahman bin Mahdiy meriwayatkan darinya dimana ini sama dengan pentautsiqan darinya. Yahyaa Al-Qaththaan memujinya. Ahmad berkata : “Aku berharap ia seorang yang shaalihul-hadiits”. Di riwayat lain : “Laisa bi-dzaaka”. Di riwayat lain : “Syaikh”. Ad-Daaruquthniy berkata : “Banyak kekeliruan dan penyelisihan”. Ibnu Ma’iin berkata : “Tidak kuat”. Al-Aajurriy berkata : “Yahyaa bin Sa’iid tidak meriwayatkan darinya, ia tidak ada apa-apanya”. Abu Daawud berkata : “Aku tidak mendengar (tentangnya) kecuali kebaikan”. Di riwayat lain ia berkata : “Lemah. Ia telah berfatwa di jaman Ibraahiim bin ‘Abdillah bin Hasan dengan satu fatwa yang keras yang padanya terdapat penumpahan darah”. An-Nasaa’iy berkata : “Dla’iif”. Di riwayat lain : “Tidak kuat”. Ibnu ‘Adiy berkata : “Ia termasuk orang yang ditulis haditsnya”. Al-Bukhaariy berkata : “Shaduuq yahimu”. Ia (Al-Bukhaariy) meriwayatkan haditsnya secara mu’allaq dalam Shahih-nya. Al-‘Ijliy berkata : “Orang Bashrah, tsiqah”. As-Saajiy berkata : “Shaduuq”. ‘Affaan telah mentsiqahkannya. Al-Haakim berkata : “Shaduuq”. Ibnu Hajar berkata : “Shaduuq yahimu”. Al-Haitsamiy berkata : “Telah ditsiqahkan”. Al-Albaaniy berkata : “Terdapat sedikit perbincangan padanya, dan haditsnya tidak turun dari tingkatan hasan”. Sebagian ulama menuduh ‘Imraan mempunyai pemikiran yang condong pada Khawarij, namun sebagian yang lain menolaknya (seperti Ibnu Hajar).
Abu Jamrah adalah Nashr bin ‘Imraan bin ‘Ishaam; seorang yang tsiqah lagi tsabt.
[5] ‘Abdullah bin Idriis bin Yaziid bin ‘Abdirrahman Al-Aswad, seorang yang tsiqah, faqiih, lagi ahli ibadah.
Shalt bin Bahraam Al-Kuufiy At-Taimiy, seorang yang tsiqah. Al-Bukhaariy berkata : “Ia mendengar riwayat dari Abu Waail (Syaqiiq), shaduuq fil-hadiits”. Abu Zur’ah menyebutkannya dalam Asaamiyyudl-Dlu’afaa’. Abu Daawud berkata : “Tsiqah”. Ad-Daaruquthniy berkata : “Tidak mengapa dengannya”. Ibnu Hibbaan berkata : “Orang Kufah, kuat haditsnya (‘aziizul-hadiits)”. Ibnu ‘Uyainah berkata : “Orang yang paling jujur dari penduduk Kuffah”. Ahmad bin Hanbal berkata : “Orang Kuffah, tsiqah”. Yahyaa bin Ma’iin berkata : “Tsiqah”. Abu Haatim berkata : “Shaduuq, ia tidak mempunyai ‘aib, kecuali pemahaman irjaa’” [Al-Jarh wat-Ta’diil, 4/438-439 no. 1920, Al-Jaami’ fil-Jarh wat-Ta’diil 1/400 no. 1904, dan Ats-Tsiqaat 6/no. 8637].
Syaqiiq bin Salamah Al-Asadiy, Abu Waail; seorang yang tsiqah.
Sumber:
Abul-jauzaa.blogspot.com
5 Jul 2010
catatan terahir
by: Thufail Al Ghifari.
Terjagalah dari segala maksiat, dari segala zina dan
nafsu dunia yang sesat. disatukan dalam karunia yang suci bersama jiwa-jiwa yang haus akan ibadah dan penuh harga diri. ini bukan cerita cinderella bukan juga patang arang cinta buta siti nurbaya.
tak dapat di ukur tapi bersama Allah semua pasti teratur.
dinyatakan dalam ketulusan dari mutiara ketaqwaan yang sangat mendalam,
bersemi dari pupuk akhlak yang hebat, berbuah dari kesabaran dan ketekunan yang lebat.
tidak..ini tak dapat bisa di mengerti oleh hati yang penuh dusta yang buta dengan warna-warni dunia yang fana,
ini hanya untuk mereka yang selalu ingin luruskan keteladanan bagi generasi berikutnya,
keteladanan abadi dalam harum kasturi dari buah ibadah, dan menjadi manis seperti kurma diawal bulan yang indah.
untuk berjalan diantara kesetian dan harapan dan hanya mau mencium atas dasar kata cinta.
karna bukan apa, siapa dan bagaimana tapi luruskanlah dalam wangi surga,
karna apa sebenarnya kita berani berkata cinta..
inilah cinta sejati..
cinta yang tak perlu kau tunggu tapi ia tumbuh bersama doa malam yang teduh.
tak tersentuh oleh mata dunia yang palsu.
petunjukyang datang dari ruang malaikat yang sanggup melihat tak kenal pekat.
tak lekang oleh zaman yang terus melaju..
dan tak akan habis oleh waktu.
karna kecantikan nya tersimpan dihati, dalam pesona yang selalu menjaga jiwa.
yang menjadikan dunia sebagai surga sebelum surga yang sebenar nya..yang membuat hidup lebih hidup dari kehidupan yang sebenarnya,
seperti sungai yang mengalir yang bening airnya pun selalu artikan keseimbangan syair.
yang satukan dua perbedaan dalam satu ikatan.
untuk melihat kekurangan sebagai kesempatan dan menjadikan kelebihan sebagai kekuatan.
lalu saling mengisi seperti matahari dan bulan dalam kesetiaan ruang kesholehan dan kasih sayang..
dan menjadi sejarah penutup halaman terahir bagi ksatria sastra jihad dan da'wah.
tercatat dalam untaian rahmat berahir dalam catatan terahir yang mulia yang digariskan hanya oleh ketetapan Allah swt..
hingga Rambut kita memutih...
hingga ajalkan menjemput diri ini...
Terjagalah dari segala maksiat, dari segala zina dan
nafsu dunia yang sesat. disatukan dalam karunia yang suci bersama jiwa-jiwa yang haus akan ibadah dan penuh harga diri. ini bukan cerita cinderella bukan juga patang arang cinta buta siti nurbaya.
tak dapat di ukur tapi bersama Allah semua pasti teratur.
dinyatakan dalam ketulusan dari mutiara ketaqwaan yang sangat mendalam,
bersemi dari pupuk akhlak yang hebat, berbuah dari kesabaran dan ketekunan yang lebat.
tidak..ini tak dapat bisa di mengerti oleh hati yang penuh dusta yang buta dengan warna-warni dunia yang fana,
ini hanya untuk mereka yang selalu ingin luruskan keteladanan bagi generasi berikutnya,
keteladanan abadi dalam harum kasturi dari buah ibadah, dan menjadi manis seperti kurma diawal bulan yang indah.
untuk berjalan diantara kesetian dan harapan dan hanya mau mencium atas dasar kata cinta.
karna bukan apa, siapa dan bagaimana tapi luruskanlah dalam wangi surga,
karna apa sebenarnya kita berani berkata cinta..
inilah cinta sejati..
cinta yang tak perlu kau tunggu tapi ia tumbuh bersama doa malam yang teduh.
tak tersentuh oleh mata dunia yang palsu.
petunjukyang datang dari ruang malaikat yang sanggup melihat tak kenal pekat.
tak lekang oleh zaman yang terus melaju..
dan tak akan habis oleh waktu.
karna kecantikan nya tersimpan dihati, dalam pesona yang selalu menjaga jiwa.
yang menjadikan dunia sebagai surga sebelum surga yang sebenar nya..yang membuat hidup lebih hidup dari kehidupan yang sebenarnya,
seperti sungai yang mengalir yang bening airnya pun selalu artikan keseimbangan syair.
yang satukan dua perbedaan dalam satu ikatan.
untuk melihat kekurangan sebagai kesempatan dan menjadikan kelebihan sebagai kekuatan.
lalu saling mengisi seperti matahari dan bulan dalam kesetiaan ruang kesholehan dan kasih sayang..
dan menjadi sejarah penutup halaman terahir bagi ksatria sastra jihad dan da'wah.
tercatat dalam untaian rahmat berahir dalam catatan terahir yang mulia yang digariskan hanya oleh ketetapan Allah swt..
hingga Rambut kita memutih...
hingga ajalkan menjemput diri ini...
Langganan:
Postingan (Atom)







